Kesalahan dalam Film Percy Jackson - Kesuksesan Harry Potter yang Hanya Impian
Kesalahan dalam film merupakan hal yang sering terjadi dalam proses pembuatan sebuah film. Membuat sebuah film merupakan pekerjaan yang melibatkan banyak orang. Sebuah proses kreatif menciptakan karya yang memungkinkan terjadinya banyak kesalahan. Kesalahan dalam film bahkan pernah dilakukan oleh film yang sukses dipasaran sekalipun.
Kesalahan dalam film bisa terjadi dalam hal apapun. Beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam pembuatan film misalnya, akting pemeran yang tidak begitu menjiwai, alur cerita yang cenderung “aneh” – meskipun itu adalah hak sutradara film dalam menentukan alur cerita – serta proses editing film yang kasar.
Kini, banyak sekali jenis film yang merupakan saduran dari novel. Kesalahan dalam film jenis ini taklain biasanya berkutat pada jalur cerita yang cenderung tidak sama antara novel dan film. Kesalahan dalam film seperti itu biasanya mampu menimbulkan kekecewaan pada penonton yang sudah terlebih dahulu membaca novelnya tersebut.
Ketika membaca, seseorang menciptakan imajinasi yang berbeda dengan orang lain. Dia menerjemahkan tulisan yang ada dalam novel menjadi bentuk slide adegan dalam otak mereka, ketika apa yang disuguhkan dalam film tidak sesuai dengan imajinasi mereka ketika membaca, maka yang terjadi adalah kekecewaan. Kesalahan dalam film seperti itulah yang akhirnya dapat mengurangi nilai keindahan sebuah film.
Kesalahan dalam film seperti itu terjadi pada film Percy Jackson. Ketika bukunya diluncurkan, novel remaja Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief karangan Rick Riordan mendapat sambutan yang cukup baik. Seri pertamanya masuk dalam daftar buku anak-anak laris versi New York Times selama 155 minggu.
Tidak heran ketika diangkat ke media film oleh sutradara terkenal Chris Colombus, banyak yang menaruh harapan. Percy Jackson diharapkan bisa mengekor kesuksesan Harry Potter yang ditangani oleh sutradara yang sama. Kesalahan dalam film tentu tidak ada pada “daftar pencapaian” mereka.
Akan tetapi, setelah diputar ternyata film ini tidak semanis novelnya. Terdapat sejumlah kesalahan dalam film yang dapat membuat penonton terus berpikir, terutama mereka yang tidak membaca bukunya. Alih-alih menikmati film, penonton justru berkutat dalam masalah kesalahan pada film Percy Jackson, terutama dalam masalah logika.
Kesalahan dalam Film – Alur Cerita
Alur Cerita Percy Jackson
Hampir sama dengan cerita film yang disadur dari sebuah novel, Percy Jackson ini juga berlatarbelakang dunia fiktif imajinasi. Film ini dinilai memiliki alur cerita yang memusingkan. Pembuatan film ini seolah tidak mementingkan mereka yang belum membaca novelnya secara keseluruhan. Kesalahan dalam film ini adalah dalam segi alur cerita yang dirasa hanya “bersahabat” dengan mereka yang sudah membaca novelnya terlebih dahulu.
Percy Jackson bertutur tentang anak bernama Percy Jackson (Logan Lerman) yang baru saja menyadari bahwa dia adalah anak dari dewa laut, Poseidon. Karena dituduh mencuri petir dewa Zeus, dia memulai petualangan bersama sahabatnya, Annabeth (Alexandra Daddari) yang merupakan putri dari Athena dan Grover Underwood (Brandon T. Jackson), seekor makhluk satyr.
Dalam usahanya, mereka menemui beragam tantangan, mulai dari bertemu Medusa, monster Hydra, hingga mencapai istana dunia kematian Hades.
Meski alur ceritanya menjanjikan ketegangan dan rasa penasaran, ada sejumlah alur yang “berbau” kesalahan dalam film dan itu cukup mengganggu logika.
- Zeus menyadari petirnya hilang.
Siapa yang dituduh sebagai pelakunya? Putra dari saudaranya, Poseidon, yang bahkan tidak menyadari bahwa ia adalah putra dewa. Sedikit aneh, bukan? Padahal, ada begitu banyak dewa dan anak hasil hubungan dewa-manusia di bumi.
Alih-alih menunjukkan bukti, Zeus langsung mengancam perang jika petirnya tidak dikembalikan. Para dewa memang digambarkan egois, tetapi apakah mereka sebodoh itu memulai perang tanpa bukti kuat? Pembunuhan karakter para dewa dalam film ini sepertinya juga merupakan kesalahan dalam film yang cukup fatal.
- Percy Jackson dituduh mencuri.
Apa yang seharusnya dilakukan seseorang yang dituduh mencuri? Ada dua. Yang pertama, dia akan berusaha membuktikan dirinya bukan pencuri. Sebagai contoh, dia bisa memberikan alibi saat kejahatan itu terjadi.
Kedua, dia berusaha mencari tahu siapa pencurinya. Contohnya: menyelidiki siapa yang paling diuntungkan bila terjadi perang. Ini mungkin menarik karena akan menjadikan Percy Jackson semacam detektif. Namun, apa yang dilakukan Percy Jackson? Menyelamatkan ibunya. Ketidaksinkronan konflik dengan reaksi yang ditunjukkan dalam film ini juga merupakan kesalahan dalam film.
- Tidak adanya rencana yang matang.
Rasanya aneh mengetahui Percy Jackson berusaha masuk ke alam baka milik Hades tanpa rencana matang. Dia hanya berharap Hades paham kalau dia bukan pencurinya dan mau berbelas kasih membebaskan ibunya.
Ini seperti berhadapan dengan bos mafia dan berharap dia mau membebaskan orang yang kita kasihi meskipun kita gagal membawakan barang diminta. Apa yang akan dilakukan Percy jika ternyata Hades tidak percaya Percy bukan pencuri petir Zeus dan menolak membebaskan ibu Percy? Logikanya, mereka tidak mungkin menang melawan dewa kematian, bukan? Lagi-lagi masalah logika menjadi kesalahan dalam film ini.
- Persephone, istri Hades, juga digambarkan sama anehnya.
Pada awalnya, dikatakan bahwa dia bosan hidup di dunia kematian. Akan tetapi, saat petir Zeus berada dalam genggamannya, dia justru mengembalikannya pada Percy. Bukankah kalau petir Zeus itu dimiliki suaminya, mereka bisa naik ke Olympus dan Persephone bisa menjadi Hera yang baru? Entahlah, karakter dewa dalam film ini seolah menjadi kesalahan dalam film yang “sengaja” diciptakan.
- Bisakah Percy Jackson berhitung?
Untuk keluar dari istana Hades, setiap orang membutuhkan satu mutiara. Lalu, mengapa Percy hanya mengambil tiga mutiara?
Jika memang hanya menemukan tiga, mengapa tidak membiarkan salah satu anggota timnya tinggal di dunia nyata. Kesalahan dalam film ini membuat Percy harus meninggalkan salah satu timnya di dunia kematian agar ibu Percy bisa keluar.
- Mungkin lemahnya daya pikir adalah bagian dari sifat para dewa dalam film Percy Jackson.
Musuh mereka, Luke yang merupakan putra dari Hermes, juga sama tidak masuk akalnya. Jika seorang ingin menguasai dunia dan dia mendapatkan senjata paling ampuh di dunia ini, apakah dia akan menyelinapkan senjata itu kepada orang lain? Bagaimana jika Percy lebih dahulu menemukan senjata tersebut sebelum Hades? Bukankah otomatis Percy akan mengembalikan ke Zeus dan rencananya gagal total?
Pertanyaan yang cukup banyak itu pasti menggangu keindahan jalan cerita sebuah film. Tanpa disadari, hal itu merupakan kesalahan dalam film yang berdampak besar pada kualitas film tersebut dimata para penonton.
Sekalipun yang menemukan senjata itu adalah Hades, rencana Luke juga lemah. Bagaimana Luke akan mengambil bagian dari pemerintahan yang baru kelak? Bukankah lebih baik jika Luke memulai revolusi itu sendiri atau membiarkan para dewa itu saling membunuh?
Sayang, film yang menampilkan beberapa aktor ternama seperti Uma Thurman dan Pierce Brosnan ini ternoda dengan banyaknya kesalahan dalam film yang mengganggu. Jalur cerita yang tidak begitu dimaksimalkan tanpa sadar telah menjadi kesalahan dalam film yang memengaruhi nilai jual film itu sendiri.
| Beri rating untuk artikel di atas |








