Mengenal 1001 Buku
1001 buku adalah sebuah organisasi atau jaringan yang berperan untuk mengumpulkan dan mendistribusikan buku-buku, tentang anak-anak khususnya, kepada taman-taman bacaan atau perpustakaan mini.
Jaringan ini bergerak atas dasar rasa keprihatinan terhadap klaim menyatakan bahwa minat baca khalayak Indonsia begitu rendah. Menurut komunitas ini, klaim tersebut sangat mungkin salah.
Kurangnya minat baca publik Indonesia bukan hanya disebabkan oleh kurangnya minat baca saja. Bisa jadi dikarenakan kesulitan mengakses buku-buku yang ada atau bisa jadi sulitnya mereka untuk membeli buku-buku yang ada dikarenakan mahalnya harga buku.
Karena itu, 1001 buku berdiri untuk membantu kemudahan publik dalam menikmati bacaan-bacaan yang ada. Kemudahan tersebut dibarengi dengan murahnya harga buku, selain kemudahan juga untuk meminjamnya melalui taman-taman bacaan yang ada.
Sejarah Berdiri 1001 Buku
1001 buku didirikan pada bulan Mei 2002 yang prakarsai oleh Upik Djalins, Ida Sitompul, dan Santi Soekanto. Proses berdirinya diawali dari sebuah milis di Yahoo Groups. Namun, perkembangannya cukup pesat. Pada Desember 2002 saja, organisasi ini telah memiliki 224 relawan dan mendistribusikan buku 12.000 buku ke 34 taman bacaan yang telah terdaftar pada mereka.
Pertumbuhannya pun kiat cepat. Belum genap separuh tahun 2003, jaringan ini telah memiliki relawan 4 kali lipat, yaitu 834 relawan. Sehingga buku yang mereka distribusikan pun jumlahnya meningkat menjadi 30.000 kepada 104 perpustakaan yang awalnya berupa taman-taman bacaan.
Sponsor 1001 Buku
Organisasi 1001 buku ini menjadi kian populer ketika media ikut membantu mempublikasikannya. Hingga akhirnya, 1001 buku mendapat sambutan dari berbagai perusahaan dan para penyumbang, seperti Coca Cola, Bank Dunia, Aliansi Jurnalis Indonesia, Forum Lingkar Pena (FLP) dan sebagainya.
Kehadiran sponsor-sponsor tersebut membuat 1001 buku kian hidup dan terus memberikan layanan terbaik kepada publik, khususnya anak-anak. Yaitu, dengan memilah-milah mana buku yang layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak, seperti komik, buku-buku cerita rakyat, buku-buku pengetahuan yang menunjang materi pelajaran di sekolah, majalah dan ensklopedia.
Andaikata ditemukan buku yang bermuatan kekerasan, pornografi dan bacaan-bacaan dewasa, maka organisasi 1001 buku menawarkannya kepada relawan atau sponsor yang ingin membeli atau membarternya dengan buku-buku yang layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Atau, mereka menempatkan buku-buku yang dikonsumsi oleh orang dewasa tersebut kepada perpustakaan umum.
Tugas Utama 1001 Buku
Intinya, organisasi 1001 buku hanya bergerak dalam empat jenis aktivitas:
1. Jemput bola, yaitu mendatangi atau menjemput sumbangan yang akan diberikan oleh para donatur atau penyumbang.
2. Sapu jagad, yaitu mengumpulkan buku di daerah-daerah pemukiman
3. Book a-thon, yaitu mengumpulkan buku-buku yang ada di tempat-tempat umum seperti plaza atau pusat perbelanjaan
4. Book drop-box, yaitu menempatkan kotak-kotak di lokasi-lokasi yang dinilai sangat strategis untuk mempermudah pendistrubusian buku, seperti mini market atau swalayan.






