logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Kristen    Kristologi

Pandangan Aborsi Menurut Agama Kristen


Ilustrasi aborsi menurut agama kristen

Aborsi adalah pengguguran kandungan. Aborsi dilakukan atas beberapa alasan. Bisa karena alasan medis demi keselamatan sang calon ibu, tetapi bisa juga karena tak ingin menanggung malu atas perbuatan yang dianggap berdosa. Apa pun alasan yang disampaikan, satu hal yang pasti, ayitu, aborsi itu menyakitkan hati, jiwa, dan fisik sang ibu. Setiap agama mempunyai berbagai pandangan mengenai aborsi. Apakah hukum aborsi menurut agama Kristen? Perjumpaan agama Kristen dan aborsi memiliki sejarah panjang dan rumit. Karena itu, aborsi menurut agama Kristen bukanlah persoalan sederhana. Banyak opini dan banyak latar belakang yang mendahului setiap pendapat dan hukum yang diberlakukan.

Pandangan aborsi menurut agama Kristen, terutama umat Kristen mengenai aborsi berbeda-beda. Namun, umumnya beberapa denominasi (kelompok keagamaan yang dapat diidentifikasikan di bawah satu nama, struktur, dan/atau doktrin) dapat dikelompokkan ke dalam pro-life, sedangkan beberapa denominasi lain mengambil posisi pro-choice.

Akan tetapi, dalam setiap denominasi terdapat kelompok minoritas yang tidak setuju dengan pendirian denominasi mereka mengenai aborsi menurut agama Kristen.

Secara umum, aborsi menurut agama Kristen, meyakini bahwa kehidupan manusia harus dihargai sejak fertilisasi (pembuahan) atau implantasi (melekatnya embrio pada dinding uterus) hingga kematiannya secara alami. Oleh karena itu, setiap kehamilan, apa pun penyebab terjadinya kehamilan, baik dalam ikatan yang suci maupun tidak dalam ikatan pernikahan, harus dipertahankan. Ketika kehamilan telah terjadi, itu artinya kehidupan telah terbentuk. Awal kehidupan inilah yang harus dihargai dan dihormati. Hal ini sama denagn menghormati dan menghargai apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan dna bukannya menentang penciptaan kehidupan itu sendiri.

Sementara pendukung pro-choice berpendapat seorang perempuan memiliki kontrol penuh terhadap fertilitasnya dan berhak memilih, akan meneruskan atau menghentikan kehamilannya. Bagaimana pun, masa kehamilan itu pasti akan memberikan perubahan hormon dna perubahan bentuk tubuh serta perubahan kejiwaan sang perempuan. Oleh karenanya, perempuan dianggap mempunyai hak atas apa yang akan dia alami.

Aborsi Menurut Agama Kristen - Pandangan Umat Kristen Awal

Umat Kristen awal percaya fetus belum bernyawa hingga ia mulai bergerak. Karena itu, aborsi menurut agama Kristen pada kehamilan dini bukan pembunuhan, tetapi aborsi menurut agama Kristen dalam hal ini dianggap perbuatan dosa.

Antara abad kedua hingga keempat Masehi, Didakhe (Ajaran-ajaran Rasul), Barnabas, dan Surat Petrus mengecam keras praktik aborsi dan menyatakan aborsi menurut agama Kristen sebagai perbuatan tidak sah.

Aborsi dan pembunuhan bayi sering dilakukan pada kehamilan akibat hubungan seksual dalam upacara kaum pagan, prostitusi, dan inses. Konteks ini tidak dapat dipisahkan dari pandangan umat Kristen awal mengenai aborsi menurut agama Kristen.

Dari abad 6 hingga 16 Masehi, filsuf aborsi menurut agama Kristen memiliki pandangan berbeda-beda. Di bawah kaisar Romawi pertama yang memeluk Kristen, Konstantin, pandangan terhadap aborsi menurut agama Kristen cukup longgar.

Santo Agustinus meyakini aborsi menurut agama Kristen pada kehamilan dini bukan pembunuhan karena saat itu fetus belum bernyawa. Namun, Santo Agustinus mengecam keras praktik aborsi tersebut.

Santo Thomas Aquinas, Paus Innosentius III, dan Paus Gregorius XIV juga meyakini fetus belum memiliki nyawa hingga fetus mulai menendang dan bergerak. Namun, Aquinas berpendapat aborsi menurut agama Kristen merupakan perbuatan dosa tanpa mempedulikan kapan nyawa mulai memasuki tubuh. Adapun Paus Stefanus V dan Paus Siktus V menentang aborsi pada seluruh tahap kehamilan.

Aborsi Menurut Agama Kristen - The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints

The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints atau Gereja Mormon mengatakan bahwa aborsi menurut agama Kristen tidak diperbolehkan, menentang aborsi, dan menganggapnya sebagi pembunuhan. Akan tetapi, ada beberapa pengecualian bolehnya aborsi menurut agama Kristen.

Pengecualian aborsi menurut agama Kristen tersebut antara lain, kehamilan akibat pemerkosaan inses, nyawa ibu hamil terancam menurut otoritas medis yang kompeten, atau fetus mengalami cacat berat sehingga tidak akan bertahan hidup setelah dilahirkan.

Selanjutnya, ibu hamil yang menghadapi keadaan-keadaan tadi baru boleh mempertimbangkan untuk melakukan aborsi setelah berkonsultasi dengan pemimpin Gereja lokal mereka dan memperoleh persetujuan. Keadaan-keadaan tersebut membuat aborsi menurut agama Kristen diperbolehkan.

Aborsi Menurut Agama Kristen - Gereja Ortodoks

Gereja Ortodoks meyakini kehidupan dimulai saat terjadi pembuahan, dan aborsi (termasuk penggunaan obat pemicu aborsi) berarti merampas kehidupan manusia. Namun, ada beberapa pengecualian aborsi menurut agama Kristen ini.

Jika nyawa ibu terancam secara langsung apabila kehamilannya diteruskan, terutama jika ia telah memiliki anak, pastor dianjurkan untuk tidak terlalu kaku. Perempuan yang menggugurkan kandungannya dalam situasi tersebut tidak boleh diasingkan dari komuni Ekaristi Gereja asalkan ia melakukan pengakuan dosa di hadapan pastor.

Aborsi Menurut Agama Kristen - Gereja Katolik Roma

Gereja Katolik menentang segala praktik yang bertujuan membinasakan embrio atau fetus. Saat ini Gereja berpendapat “hak pertama manusia adalah kehidupannya” dan kehidupan dimulai saat pembuahan.

Seseorang yang melakukan aborsi secara otomatis mengalami ekskomunikasi (penolakan komuni anggota sebuah gereja) dan hanya bisa dihapus jika ia telah melakukan pengakuan dosa dan mendapat pengampunan.

Namun, beberapa cendekiawan Katolik menentang pendapat resmi Gereja mengenai aborsi menurut agama Kristen. Filsuf Daniel Dombrowski menulis pembelaan terhadap aborsi menurut agama Kristen.

Catholics for a Free Choice didirikan pada 1973 untuk menyalurkan suara umat Katolik yang percaya bahwa individu perempuan ataupun laki-laki tidak berbuat amoral ketika mereka memilih menggunakan alat kontrasepsi, dan perempuan tidak berbuat amoral ketika memilih melakukan aborsi.

Berhubungan dengan aborsi menurut agama Kristen, Gereja Katolik Roma tidak bosan-bosannya mengutuk perbuatan aborsi yang dilakukan secara langsung dan direncanakan mencabut nyawa bayi yang belum dilahirkan. Pada intinya, umat Katolik yakin bahwa seluruh kehidupan adalah kudus, mulai masa pembuahan sampai kematian yang bersifat wajar. Kaitannya dengan aborsi menurut agama Kristen, mengakhiri kehidupan manusia yang tidak berdosa, baik sebelum dilahirkan maupun setelah dilahirkan, adalah kejahatan kemanusiaan.

Gereja telah mengajarkan, “kehidupan manusia adalah kudus karena sejak awal ia membutuhkan 'kekuasaan Allah Pencipta' dan untuk selama-lamanya tinggal dalam hubungan khusus dengan Penciptanya, tujuan satu-satunya. Hanya Allah sajalah Tuhan kehidupan sejak awal sampai akhir: tidak ada seorang pun boleh berpretensi mempunyai hak, dalam keadaan mana pun, untuk mengakhiri secara langsung kehidupan manusia yang tidak bersalah.” (“Donum vitae,” 5)

Pewahyuan di dalam Perjanjian Lama yang diwariskan dan diterima oleh Gereja berisi bukti bahwa kehidupan di dalam rahim adalah kudus. Musa berkata, “Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu: Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang. Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu. Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.” (Ul 28:2-6)
Nabi Yesaya berkata, “Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku. Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya. Ia berfirman kepadaku: `Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.' Tetapi aku berkata: `Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku.' Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya - maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku!” (Yes 49: 1-5)

Aborsi Menurut Agama Kristen - Denominasi-Denominasi Protestan

Pandangan kalangan Protestan mengenai aborsi sangat beragam. Gerakan fundamentalis Kristen mengecam keras aborsi, sedangkan denominasi-denominasi arus utama Protestan mengambil posisi yang sedikit berbeda-beda, tetapi secara umum mereka pro-choice dengan beberapa pengecualian.

Beberapa organisasi Protestan arus utama bergabung dalam Religious Coalition for Reproductive Choice. Koalisi ini bertujuan memberikan dukungan lintas iman terhadap hak konstitusional baru mengenai privasi dalam pengambilan keputusan mengenai aborsi.

Beberapa denominasi yang tergabung dalam Religious Coalition for Reproductive Choice adalah the Episcopal Church, the Presbyterian Church (Amerika Serikat), the United Church of Christ, the United Methodist Church, the Unitarian Universalist Church, dan the Lutheran Women's Caucus.

Itulah pandangan aborsi menurut agama Kristen. Semoga bermanfaat!

 

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Ensiklopedia Alkitab - Pusat Informasi Alkitabiah
  • Memainkan Naskah Drama Natal
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA