logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Suku    Suku Jawa

Adat Istiadat Suku Jawa: Kehamilan Hingga Kematian


Ilustrasi adat istiadat suku jawa

Masyarakat Jawa hidup dalam lingkungan adat istiadat yang sangat kental. Adat istiadat suku Jawa masih sering digunakan dalam berbagai kegiatan masyarakat. Dan hampir setiap masa dalam kehidupan manusia misalnya mulai masa-masa kehamilan hingga kematian, adat istiadat ini digunakan dan diterapkan dalam hidupnya.

Masyarakat suku Jawa merupakan masyarakat dengan jumlah populasi terbesar di Indonesia. Jumlahnya mencapai hampir setengah dari keseluruhan populasi masyarakat yang tinggal di Indonesia.

Suku Jawa berasal dari Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Semua sendi kehidupan masyarakat suku Jawa tidak pernah lepas dari adat istiadat yang memang sudah sangat dipercayai sejak dulu.

Adat istiadat ini adalah sebuah budaya dan kebiasaan yang telah turun temurun dilakukan oleh sebagian besar masyarakat jawa. Bahkan di masyarakat sekan terdapat keharusan untuk melakukannya. Segala usaha akan dilakukan agar mereka dapat melaksanakan adat istiadat ini.

Bagi sebagian orang yang tidak melakukan atau mulai meninggalkan adat istiadat ini maka dianggap sebagai orang yang tidak wajar bahkan sering menerima gunjinggan dari masyarakat sekitar.

Kebanyakan adat istiadat yang ada bersumber dari kepercayaan nenk moyang terdahulu dari masyarakat jawa dan tidak bersumber dari agama terutama agama Islam sebagai agama yang banyak dipeluk oleh sebagian besar masyarakat jawa.

Oleh karena hal inilah, banyak masyarakat jawa yang mulai meninggalkan ritual adat yang ada dalam adat istiadat suku jawa ini. Karena menurut mereka banyak hal yang dilakukan dalam pelaksanaan adat istiadat ini yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

Seperti yang telah disebutkan bahwa pelaksanaan adat istiadat suku jawa ini terdapat dalam banyak aspek kehidupan manusia. Adat istiadat ini dilakukan mulai dari hamilnya seorang wanita yang mengandung bayi, saat seseorang memulai sebuah kehidupan baru dalam bahtera pernikahan sampai dalam hal kematian, adat istiadat ini selalu mengikuti.

Adat Istiadat Suku Jawa saat Kehamilan

Semua orang pasti menganggap bahwa seorang wanita yang hamil haruslah dijaga agar tidak terjadi hal buruk yang menimpanya dan calon anak yang dikandungnya serta ia akan diberi kemudahan dalam melahirkan kelak. Suku jawa pun juga memiliki kepercayaan seperti ini.

Saat seorang wanita suku Jawa mengandung ia akan benar-benar dijaga agar tidak terjadi hal buruk yang menimpanya. Untuk merefleksikan hal ini, masyarakat suku jawa mengadakan semacam slametan.

Slametan ini dilakukan dua kali selama masa kehamilan, yang pertama saat usia kandungan mencapai usia tiga bulan dan yang kedua saat kandungannya mencapai umur tujuh bulan.

Slametan tiga bulan disebut dengan neloni atau dalam bahasa Indonesia berarti hal ketiga. Sedangkan slametan saat usia kandungannya sudah mencapai tujuh bulan, biasa disebut mitoni.

Pada kedua ritual neloni dan mitoni ini dijalankan dengan membuat beberapa jenis makanan tertentu yang kemudian dibagikan kepada oarng-oarng terdekat yang ada atau juga kepada tetangga.

Terdapat jenis makanan tertentu yang dibuat misalkan jenang blowok yaitu kue yang terbuat dari tepung terigu yang dibungkus dengan daun nangka atau trancam yaitu makanan yang terbuat dari cacahan mentimun, tempe goreng, kacang toro, dan dicampur dengan parutan kelapa.

Jenis makanan ini memang harus dibuat dalam kedua acara ini dan tidak boleh ditinggalkan. Salah satu ritual mitoni yang harus dijalankan oleh ibu hamil tersebut adalah tingkeban.

Pada ritual ini, wanita yang tengah mengandung dimandikan menggunakan campuran air dan bunga. Kain yang digunakan sebagai kemben pun jumlahnya harus tujuh dan dipakai secara bergantian saat acara tingkeban berlangsung.

Ketika bayi yang dikandung teah lahir, suku jawa juga memiliki ritual khusus dalam menyambut lahirnya si jabang bayi. Dan ritual ini pun juga berfungsi untuk memberikan keselamatan pada si bayi dan menjaga si bayi dari hal-hal buruk untuk menimpa si bayi.

Ritual ini pun juga disebut dengan istilah slametan yang diberi nama brokohan. Brokohan ini pun hampir sama dengan neloni atau mitoni. Beberapa jenis makanan dibuat, lalu diberikan kepada tetangga terdekat. Ritual ini dilakukan sehari setelah bayi lahir.

Adat Istiadat Suku Jawa saat Upacara Pernikahan

Selain dalam menyambut datangnya bayi dalam kehidupan, dalam pernikahan masyarakat jawa juga memiliki beberapa adat istiadat khusus. Hal ini juga dimaksudkan untuk membuat pernikahan memperikan pengaruh yang baik untuk kedua mempelai pengantin dan juga untuk kedua keluarga.

Adat istiadat suku Jawa juga sering dilaksanakan saat upacara pernikahan. Masyarakat suku Jawa percaya akan adanya hari yang baik untuk melaksanakan pernikahan. Hari baik tersebut, biasanya, berpatokan pada buku primbon Jawa.

Jadi, tidak semua hari dapat dilaksanakan acara pernikahan ini. Hari dan tanggal pelaksanaan pernikahan ditentukan berdasarkan hitungan weton antara kedua calon mempelai.

Ada hari-hari  dan bulan-bulan tertentu yang tidak boleh dilakukan acara pernikahan karena dipercaya jika dilakukan pernikahan pada hari-hari tersebut maka akan memberikan pengaruh yang buruk terhadap kehidupan pernikahan yang telah dibangun.

Sebulan sebelum acara pernikahan berlangsung, calon pengantin suku Jawa tidak diperbolehkan untuk saling bertemu. Khusus calon mempelai wanita, biasanya, akan dipingit. Ritual pingitan ini ditujukan untuk mempersiapkan fisik dan mental si gadis yang akan memasuki jenjang pernikahan.

Sehari sebelum acara pernikahan, calon mempelai wanita kembali melakukan ritual. Kali ini, ritualnya berupa siraman. Pada acara siraman, air yang digunakan oleh calon pengantin biasanya sudah dicampur dengan bermacam-macam bunga.

Kemudian, malam harinya, diadakan ritual midodareni. Ritual ini biasanya juga menjadi acara pertemuan sebelum pernikahan antara kedua keluarga calon mempelai.

Saat acara pernikahan berlangsung, ritual adat istiadat suku Jawa yang dilakukan lebih banyak. Mulai saling melempar sirih hingga ritual membasuh kaki mempelai pria oleh mempelai wanitanya.

Adat Istiadat Suku Jawa saat Upacara Kematian

Ketika salah satu masyarakat suku Jawa meninggal, ritual adat istiadat pun tidak lepas mengiringi. Ritual ini dimaksudkan agar orang yang meninggal bisa mendapatkan tempat yang baik di akhirat.

Sebelum mayat dibawa ke pekuburan, ada ritual khusus yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarga dari si mayat. Ritual yang biasa dilakukan adalah brobosan, yaitu melintas di bawah mayat yang sudah ditandu dengan cara berjongkok.

Ritual adat istiadat pun belum selesai hingga di situ. Ritual yang menyertai kematian ini juga disebut dengan istilah slametan. Slametan ini dilakukan selama tujuh hari berturut-turut dan dilakukan di malam hari.

Pada setiap malam dibuat aneka jenis makanan yang nantinya dibagi kepada orang-oarng yang datang. Bentuk acaranya dikenal dengan istilah tahlilan, karena disana ada pembacaan ayat-ayat Al-Quran dan juga bacaan tahlil. Ritual ini juga memiliki tujuan untuk mendoakan si mayat yang telah meninggal.

Slametan ini tidak hanya dilakukan sampai tujuh hari ini saja tapi masih banyak slametan yang menyertai kematian dari seorang suku jawa. Ada slametan empat puluh hari yang dilakukan empat puluh hari setelah hari kematian. Dan juga slametan seratus hari yaitu yang dilakukan seratus hari setelah kematian.

Setiap tahun pun juga masih dilakukan untuk mengenang orang yang telah meninggal. Setahun pertama setelah meninggal, biasanya, pihak keluarga yang ditinggalkan akan mengadakan selamatan pendak siji, tahun kedua disebut dengan pendak loro, hingga  pendak telu atau selamatan yang dilakukan di tahun ketiga.

Semua slametan dilakukan oleh pihak keluarga dengan membuat aneka jenis makanan yang nantinya dibagikan kepada tetangga terdekat atau saudara-saudar dari orang yang telah meninggal tersebut.

Hanya saja dalam melakukan aneka slametan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Mungkin bagi sebagian orang yang memiliki harta yang berlebih, melakukan aneka slametan ini bukanlah menjadi sebuah masalah.

Justru slametan dilaksanakan dengan sangat meriah, sama halnya dengan acara pernikahan. Dibuat aneka jenis makanan dalam jumlah yang banyak untuk dapat dinikmati oleh banyak orang pula.

Namun bagi sebagian orang yang tak memiliki banyak harta, kadang untuk melakukan aneka slametan ini bukanlah hal yang mudah dan murah untuk dilakukan.

Namun karena mereka memahami bahwa ini adalah keharusan yang memang harus dilakukan bagaimana pun keadaan ekonomi dari keluarga yang ditinggalkan, maka ada sebagian dari keluarga yang justru berhutang untuk dapat melaksanakan acara slametan ini.

Demikianlah adat istiadat suku jawa yang dilakukan kepada orang-orang yang hamil, melahirkan, akan menikah dan telah meninggal. Kesemuanya adalah kebiasaan yang telah dilakukan secara turun menurun. Sebagai seorang yang beriman, kita harus pandai-pandai memilih dan memilah mana-mana yang memang diperbolehkan oleh syariat untuk dilakukan atau tidak.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Tradisi dan Karakter Khas Suku Jawa
  • Eksotisme Solo
  • Joglo, Rumah Adat Suku Jawa yang Eksotik
  • Pola Kehidupan Orang Jawa, Nerimo Ing Pandum
  • Menguak Asal-usul Suku Jawa
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA