Adat Istiadat Suku Sunda, Sebuah Kekayaan Indonesia
Ilustrasi adat istiadat suku sunda
Indonesia terdiri atas beragam suku dan adat istiadat, karenanya Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa.
Suku Sunda adalah salah satu suku di Jawa diantara puluhan suku yang ada di Indonesia. Mempelajari adat istiadat Suku Sunda dengan segala kekayaannya menjadi bahasan menarik kita kali ini.
Mempelajari adat istiadat sebuah suku bangsa berarti pula mempelajari sebuah entitas kebudayaan bangsa. Bukan hanya itu, dengan mempelajarinya berarti juga kita telah ikut melestarikannya. Inilah yang mestinya kita lakukan, sebab aneka ragam suku bangsa Indonesia adalah kekayaan bangsa yang tak ternilai dan tidak ada duanya.
Proses mempelajari adat istiadat ialah dengan cara mengenal, mengetahui, merekamnya, dan kemudian menuliskan ulang agar dapat dipelajari oleh generasi–generasi berikutnya.
Pengaruh Sunda dalam Ajaran Ajaran Islam
Pada saat kedatangannya Agama Islam mencoba mempengaruhi adat istiadat yang terbentuk dalam kebudayaan suku Sunda. Namun, tidak sepenuhnya berhasil dalam artian "mensyariahkan orang sunda" karena memang natural nya orang Sunda berbeda dengan nature nya orang Arab atau Persia.
Walau demikian karena adanya ketaatan beragama orang-orang Sunda yang amat kuat kepada Gusti Nu Maha Kersa. Sebagaimana ajaran Wiwitan Sunda dari zaman megalitikum, yakni semacam ajaran monotheisme yang lebih tua dari Islam, maka Islam pun di terima dengan beberapa penyesuaian. Sehingga bisa di bilang Sunda lah yang mempengaruhi ajaran Islam.
Hal ini dapat dilihat dari berbagai bentuk upacara adat yang diadakan oleh suku Sunda, yang sedikit mengambil bahasa pengganti Gusti, menjadi Allah, keduanya sama makna, namun upacara tetap ada, dan syariah Arab tidak kuasa mencegahnya. Percampuran antara adat budaya dengan agama ini bukan hanya terjadi pada suku Sunda saja, ada pula beberapa suku lainnya yang mengalami asimilasi semacam ini.
Bahasa
Dari sudut sejarah dapat diterangkan tentang adanya bahasa Sunda yang halus atau kurang halus, bahasa Sunda murni atau tidak murni.
Sunda Priangan pernah mendapat pengaruh dari kerajaan Mataram Islam. Antara kaum bangsawan Sunda di Sumedang dan kaum bangsawan di Yogyakarta dan Solo terdapat hubungan kekerabatan, sehingga bahasa Sunda Priangan lebih halus.
Sedangkan pada daerah yang telah tercampur dengan penggunaan bahasa Jawa, cenderung lebih tidak halus. Ini dapat terlihat pada penggunaan bahasa Sunda di Cirebon atau Banten. Karenanya mereka pun lebih menyebut diri sebagai orang Cirebon atau orang Banten.
Tetapi, sebaliknya bagi orang Sunda Priangan , semua orang yang memakai bahasa Sunda sebagai bahasa ibu, di mana pun dia tinggal tetap disebut sebagai orang Sunda.
Karya Sastra dan Seni
Cerita pantun adalah karya sastra Sunda yang tertua, yang berisi cerita-cerita kepahlawanan dari suku Sunda dalam wujud puisi yang saling bergantian dalam bentuk prosa berirama. Pantun-pantun itu biasanya dibacakan dengan iringan kecapi, yang dapat merasuk ke dalam sukma orang-orang Sunda.
Bentuk karya seni lainnya dalam adat istiadat suku Sunda ialah wayang dan cerita wawacan. Wayang bagi orang Sunda hanya hiburan belaka, sebab mereka seringkali tidak tertarik pada isi cerita atau lakonnya.
Cerita-cerita wayang lebih banyak yang berasal dari epos legendaris dari India, yakni Mahabarata dan Ramayana. Jika melihat wayang, mereka cenderung hanya senang dengan nyanyian para sinden.
Sedangkan cerita wawacan lebih banyak diambil dari cerita-cerita Islam, yang diceritakan dalam bentuk nyanyian dan disebut beluk. Beluk biasa dinyanyikan sambil menunggui orang yang baru saja melahirkan dan bayinya. Agar tidak terjadi sesuatu apapun, orang yang baru saja melahirkan akan ditunggui oleh beberapa orang, bisa tetangga ataupun kerabatnya.
Sekelumit adat istiadat suku Sunda di atas semoga menjadi awalan untuk ketertarikan mempelajari yang lebih banyak lagi tentang suku Sunda. Jika bukan kita sendiri orang Indonesia, siapa lagi yang akan melestarikan adat istiadat suku bangsa di Indonesia.
Rancage Sebagai Pemelihara Budaya Sunda
Sebagaimana dalam Yarman (2003), untuk melestarikan dan mempertahankan kebudayan Sunda, maka yayasan Rancage dari Ajip Rosidi rutin mengadakan penilaian bagi penggiat seni sunda untuk memberikan stimulus kerja dan penghargaan terhadap apa yang mereka telah upayakan.
Gerakan Rancage memang noktah kecil untuk sebuah perlawanan, tetapi ia dapat menjadi besar ketika terjadi gerakan serupa di berbagai daerah. Hal ini mungkin sulit terjadi ketika para pemegang otoritas apriori terhadap gerakan budaya daerah yang dianggap menyulut api nasionalisme lokal.
Javanologi yang didirikan di Yogya tahun 1983, mendapat sorotan tajam. Ketika itu gerakan ini dianggap sebagai "pengkhianat Indonesia.'' Javanologi akhirnya diadopsi oleh negara yang sebenarnya setengah hati dengan membuat logi-logi yang lain di setiap budaya daerah. Lahirlah Baliologi, Sundanologi, Batakologi, La Galegologi, dan sebagainya karena ada anggapan Kalau hanya ada Javanologi, akan muncul anggapan "mementingkan kebudayaan Jawa belaka''. Ini menjadi persoalan sensitif yang dianggap membahayakan persatuan kesatuan.
Sebagai contoh, Dr Soeroso dan Karkono sebagi tokoh masyarakat jawa sempat patah arang oleh serangan ini. Mereka lantas mendirikan Yayasan Panunggalan sebagai lembaga pelestari budaya. Kurang lebih mereka mempunyai cita-cita yang sama dengan Yayasan Rancage di Sunda.
Dalam konteks perpolitikan kebudayaan, pemberian hadiah Rancage, tampak romantis dan kurang tenaga. Romantisme akan budaya adiluhung yang sesungguhnya hampir punah. Kurang tenaga, karena mereka harus menguras kocek sendiri. Tanpa ada kepedulian berarti dari negara sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar 45.
Apalagi yang dapat dilakukan dengan memberi hadiah kepada pengarang yang semakin hari kehilangan media dan masyarakat pembacanya. Inilah saat bangsa Indonesia akan kehilangan "ibu Pertiwinya'' yakni jiwa indogene yang hidup dari tradisi panjang. Jiwa itu akan diisi oleh semangat nasional dan jiwa global. Bangsa ini telah berada pada sebuah hegemoni budaya bukan apa-apa. Hanya, kita tak terlalu peduli terhadap karakter teknologi mungkin karena kita sendiri tak bisa membuatnya, lalu membiarkan teknologi, terutama teknologi media menguasai kita.
Akhirnya, sastera dan bahasa daerah makin terpuruk, memprihatinkan dan kita tidak seorangpun mampu menolong sehingga suatu saat nanti akhirnya mati. Kecuali jika kita punya kesadaran resistensi terhadap hegemoni ini dan tak sekadar dengan sebuah hadiah Rancage atau Samsudi, masalahnya akan jadi lain.
Di tengah keadan kritis bagi dunia sastera dan budaya yang melanda bangsa Indonesia ini, ternyata masih ada segelintir orang yang masih peduli dengan warisan nenek moyang. Mereka ini kemudian berusaha merangsang para penulis untuk terus melahirkan karya-karya sastera yang baik dengan cara memberikan penghargaan untuk karya sastera yang dinilai terbaik.
Demikianlah hadiah sastera yang diberi nama "Hadiah Sastera Rancage" itu secara tetap diberikan setiap tahun sejak tahun 1989. Pada tahun pertama, pemenang hadiah hanya seorang yaitu pengarang yang menerbitkan buku terbaik, yang terbit pada tahun 1988, tapi tahun berikutnya, disamping pengarang yang memenangkan hadiah karena bukunya dinilai terbaik, uga ada hadiah untuk pengarang yang dianggap telah mempunyai jasa yang besar terhadap perkembangan sastera sunda. jadi selain ada hadiah untuk karya, ada juga hadiah untuk jasa.
Pada prinsipnya seorang pengarang bisa saja memperoleh hadiah sastera berkali-kali untuk karyanya kalau setiap tahun dia melahirkan karya-karya unggul berbentuk buku. Sebaliknya untuk hadiah jasa, seorang pengarang hanya bisa sekali saja menerima Hadiah Sastera Rancage. Sejak tahun 1993 diberikan pula hadiah "Samsudi" yang diberikan kepada pengarang yang melahirkan buku bacaan anak-anak berbahasa sunda terbaik pada tahun sebelumnya (1992).
Pemberian hadiah sastera yang diberitakan secara luas oleh pers dan dilaksanakan secara tetap dari tahun ke tahun diharapkan mampu memberikan efek berantai. Dengan bantuan pemberitaan pers maka masyarakat menjadi tahu tentang buku baru dan yang merasa penasaran tentu akan mencarinya. Meskipun efek berantai demikian belum kelihatan menonjol karena antara lain adanya kendala dalam pemasaran buku-buku berbahasa daerah, namun sejak dua-tiga tahun terakhir kelihatan bahwa Hadiah sastera rancage telah dinantikan pada waktunya, paling tidak oleh masyarakat peminat sastera Sunda.

