Mengenal Berbagai Zat Aditif Makanan
Saat ini, hampir semua produk makanan yang dijual di pasaran adalah makanan yang mengandung zat aditif. Mulai dari makanan instan, makanan kemasan maupun makanan yang banyak dijual di warung seperti bakso atau mie ayam. Semua makanan itu tak pernah lepas dari berbagai zat aditif makanan.
Zat aditif makanan itu sendiri adalah zat yang membantu produk makanan agar makanan tersebut memiliki nilai lebih. Misalnya membuat makanan menjadi lebih kenyal, lebih awet, lebih manis, ataupun membuat makanan menjadi berwarna.
Macam-Macam Aditif Makanan
- Penguat rasa
Banyak orang menggunakan penguat rasa untuk membuat rasa makanan menjadi lebih enak. Di pasaran, kita banyak menemukan penguat rasa buatan, salah satunya adalah monosodium glutamat (MSG) atau yang juga sering disebut vetsin.
Di Jepang, aditif makanan yang satu ini dibuat dari rumput laut, tapi di Indonesia dibuat dari tetes tebu karena produksi rumput laut di Indonesia belum begitu banyak.
Selain buatan, kita juga bisa menggunakan penguat rasa alami seperti cengkeh, cabai, laos, kunyit, ketumbar atau rempah-rempah lain.
- Pemanis
Pemanis alami yang sering kita gunakan adalah gula, tapi kadang rasa manis yang didapat kurang tajam, karena itu produsen makanan sering menggunakan pemanis buatan. Contoh aditif makanan berupa pemanis ini adalah sakarin, siklamat, dan aspartame.
Pemanis buatan ini memiliki rasa manis lebih kuat/tajam dari gula biasa (sukrosa). Walau diklaim sebagai pemanis yang baik untuk penderita diabetes karena bisa meningkatkan insulin (penurun gula darah), tapi pemanis ini memiliki sifat karsinogenik (racun) yang tidak baik untuk tubuh.
- Pengawet
Seperti namanya, zat aditif makanan yang satu ini berguna untuk mengawetkan makanan sehingga kerusakan yang bisa terjadi akibat bakteri atau jamur bisa dihindari, dan makanan bisa disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama.
Biasanya pengawet digunakan oleh makanan kemasan seperti kue kemasan, buah kalengan, dll. Contoh pengawet yang sering digunakan adalah natrium benzoat, natrium nitrat, asam sitrat dan asam sorbet.
- Pewarna
Makanan akan menarik konsumen apabila memiliki warna bagus yang mencolok. Produsen makanan sering menggunakan aditif makanan ini untuk mewarnai atau mempertajam warna makanan.
Pewarna sintetis biasanya memakai zat tartrazin yang memiliki banyak warna. Daripada sintetis, ada baiknya memakai pewarna alami seperti kunyit atau daun pandan, karena lebih sehat dan tidak punya efek samping pada tubuh.
- Pengental
Pengental biasanya digunakan untuk mengentalkan atau memekatkan adonan makanan yang sedang dibuat sehingga terbentuk suatu makanan dengan kekentalan yang diinginkan. Contoh pengental adalah gelatin, gum (agar, karagenan) dan pati.
- Pengemulsi
Aditif makanan ini juga sering disebut emulsifier, berguna untuk menjaga kestabilan minyak dan air dalam suatu makanan. Contoh zat pengemulsi adalah lesitin, dan pengemulsi alami yang sudah dikenal banyak orang adalah telur. Telur sangat kaya akan lesitin, karena itu telur banyak digunakan untuk campuran kue atau membuat produk margarin dan mentega.
Itu adalah beberapa contoh zat aditif makanan yang sering digunakan. Masih banyak aditif makanan yang lain seperti pengenyal atau pemutih, dan semua zat aditif ini kebanyakan adalah sintetis atau buatan pabrik.
Efek Samping Aditif Makanan
Walau sangat membantu untuk meningkatkan kualitas makanan, zat aditif buatan memiliki berbagai efek samping yang tidak bisa diabaikan. Efek samping yang paling merugikan adalah timbulnya berbagai penyakit bila kita sering mengkonsumsi makanan yang dicampur zat aditif.
Beberapa zat aditif memiliki sifat karsinogenik, misalnya pemanis buatan (siklamat). Zat karsinogenik ini akan menimbulkan penyakit. Tak hanya itu, bila sering mengkonsumsi aditif makanan, zat-zat kimia akan menumpuk dan meracuni tubuh. Hasilnya adalah meningkatkan resiko terkena berbagai penyakit seperti kanker, gangguan ginjal, dan hati.






