Sosok Penting Penggerak Administrasi Organisasi
Menjadi orang penting itu baik
Tapi jauh lebih penting menjadi orang baik
(pameo)
Organisasi yang efektif haruslah memiliki administrasi yang efektif pula, sehingga organisasi dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Namun administrasi organisasi tidak akan bisa berjalan dengan baik bila orang-orang yang terlibat di dalamnya tak lebih dari sekadar “selebritas organisasi”, yaitu mereka yang selalu ingin terlihat, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Seperti tulisan di bawah ini.
Antara Mendadak Dangdut dan Mendadak Representatif
Apa perbedaannya antara mendadak dangdut dengan mendadak representatif? Bila Mendadak Dangdut adalah judul lagu yang pernah populer di masyarakat kita, maka mendadak representatif adalah fenomena saat orang merasa dirinya pantas dan tepat untuk menjadi pemimipin yang mewakili suatu komunitas tertentu, namun tidak diimbangi dengan kapabilitas dan skill yang mumpuni.
Entah apa yang ingin dicari, namun faktanya banyak orang yang merasa dirinya merupakan representasi dari komunitas yang diwakilinya. Orang-orang seperti inilah yang rela bersusah payah mengeluarkan uang, waktu, dan tenaga agar dirinya dipandang eksis sebagai anggota legislatif, pengurus teras parpol, pengurus ormas, pengurus organisasi profesi, perangkat desa, dan organisasi lainnya baik yang bersifat profit maupun sosial seperti DKM, POMG, dan RT/ RW
Ilmu Gula
Padahal menjadi seorang yang mewakili itu haruslah memahami “ilmu gula”. Perhatikanlah sesendok gula yang diaduk dalam air sampai melarut sehingga menghasilkan larutan air yang manis. Banyak perubahan positif yang terjadi dari gula yang berwujud padatan menjadi gula berbentuk larutan.
Perubahan tersebut antara lain, wujud gula yang keras berubah menjadi cair, partikel gula yang sebelumnya terpisah dan terkesan elitis berubah menjadi membaur. Butiran gula yang sebelumnya terlihat menjadi tidak terlihat.
Kesemuanya itu mengakibatkan sebaran rasa manisnya semakin meluas dan meyebar, sehingga kebermanfaatannya menjadi maksimal. Gula tetaplah gula ia akan terasa manis walaupun sudah berubah wujud dari padatan menjadi larutan.
Namun, hal ini tidak akan terjadi pada sebongkah batu walaupun diperlakukan hal yang sama. Seberapa kuat dan seringnya batu tersebut diaduk, namun tidak akan membuatnya menjadi cair tapi justru semakin menambah kekerasannya.
Batu tetaplah batu yang selalu ingin terlihat dan sulit untuk melarut. Bila gula yang diaduk menghasilkan rasa manis yang menyebar, maka batu hanya akan menghasilkan larutan yang keruh dan hambar.
Alangkah indahnya bila semua orang yang menjadi wakil di komunitasnya masing-masing memiliki sikap seperti larutan gula ini. Bersikap cair, dapat membaur, siap tidak terlihat, namun selalu memberikan rasa manis.
Sehingga berapa pun uang, waktu, dan tenaga yang dikeluarkan tidak membuatnya arogan dan merasa lebih berwenang. Merekalah orang yang representatif sesungguhnya, dan komunitas organisasi yang diwakilkannya niscaya akan merasa puas, senang, dan percaya
Bandingkanlah dengan para wakil yang merasa “mendadak representatif”, ibarat sebongkah batu yang diaduk dalam air. Mereka akan bersikap keras dan sulit membaur, elitis, selalu ingin tampil, seringkali memperkeruh, dan jauh dari rasa manis.
Kehadiran mereka bukannya memberikan kemaslahatan, tapi justru jabatan dan organisasi menjadi ajang untuk menunjukkan wewenang yang dimiliki. Oleh karena itu, celakalah organisasi yang diurus oleh orang dengan tipikal seperti batu ini.
Sudah saatnya dalam berorganisasi kita menjadi wakil yang representatif seperti gula, dan jauhilah sikap wakil yang arogan seperti batu.
Ada di manakah Anda?






