logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Sosial    Hubungan Sosial

Adu Domba - Pengkhianatan Paling Kejam


Adu domba sering terjadi karena kesalahpahaman, yang di manfaatkan suatu oknum  [klik gambar untuk memperbesar]

Daftar Isi
  1. Alasan Nusantara Lemah
  2. Warlords cina asal adu domba
  3. Adu domba di tengah orang biasa

Di Indonesia setidaknya kita sebagai bangsa, pernah merasakan pahitnya istilah "adu domba". Adu domba pernah dilakukan penjajah kolonial Belanda untuk melemahkan kekuatan suatu kerajaan di Nusantara, lantas suatu saat mereka akan menganeksasinya. Adu domba dilakukan karena merupakan tindakan yang murah meriah untuk menguasai dengan cepat wilayah yang dahulu dikenal sangat kuat dan tidak pernah dijajah oleh bangsa besar, dari Cina hingga India.

Namun orang kulit putih Eropa yang datang dengan beberapa caravel (kapal layar) dan beberapa ratus personel mampu mengacak-acak kekuatan bangsa ini. Bukan karena kecanggihan senjata mereka. Bukan karena keahlian mereka dalam perang (mengingat para tentara sewaan Belanda/VOC itu merupakan veteran perang 80 tahun), melainkan kerena merea menggunakan taktik divide it impera, alias adu domba membagi-bagi dan mengompori kekuasaan para menak untuk saling memberontak.

Adu Domba - Salah Satu Alasan Nusantara Lemah

Tema yang pernah diajukan sebagai bahan adu domba seakan tidak ada habisnya. Rakyat diadu domba antara yang mualim dan abangan, antara keluarga menak yang satu dengan yang lain, antara orang kaya dengan orang papa, antara pengikut agama satu dengan agama lainnya, antara petani dan tuan tanah. Semakin banyak para jagoan Nusantara saling bunuh, apa pun motifnya, semakin lemahlah kekuatan bangsa di Nusantara. Ditambah lagi, beberapa pendapat beberapa tokoh pesantren,

Jangan mudah terpengaruh orang seseorang, karena bisa mengakibatkan adu domba. Itu sangat merugikan.

Belanda leluasa mengubrak-abrik Nusantara dengan membonceng isu perang mazhab dalam Islam. Perangnya sebenarnya terjadi di Timur Tengah. Namun, sejalan dengan dakwah Islam yang mengabaikan prinsip wali sanga, Islam datang dengan damai, maka Islam dipasarkan oleh beberapa orang dengan jalan kemarahan.

Puncaknya adalah perang Paderi. Pihak Paderi yang merupakan golongan dari mazhab Wahabi, menyerang sesama muslim dari pihak kerajaan yang konon disebut sebagai kaum adat. Padahal pertalian antara adat lokal dengan Islam telah berjalan damai sepanjang 1000 tahun.

Kedatangan ulama kaum Paderi pada abad 19, bersamaan dengan dikuasainya Makkah oleh kaum Wahabi ini, membawa mazhab yang tidak kompromi dengan adat tradisi lokal di Nusantara. Perang mazhab ini lantas semakin dikompori oleh Belanda yang memang ingin sekali melihat sesama pribumi saling membunuh.

Kisah selanjutnya yang dikenal dalam tragedi Tuanku Rao, memperlihatkan kebrilianan Belanda dalam melakukan adu domba itu.

Kaum Paderi menyerang Sumatera Utara dengan alasan agama monotheistik yang dianut sebagian besar orang Batak, merupakan agama kaum kafir dan musyrik.

Belanda seolah membuka jalan lapang ke arah Sumatera Utara. Taktik itu berhasil. Baik kaum Paderi, Suku Batak, dan bangsawan Minakabau, mengalami enormous lost atau korban nyawa yang tidak sedikit karena perang saudara itu.

Mereka kembali dan berulang menggunakan taktik adu domba dan belah bambu. Belanda memilih pihak yang dikategorikan bakal menang, yakni pihak kerajaan dan kesultanan untuk melawan kaum Paderi. Pihak kesultanan sebagaimana yang terjadi di banyak wilayah lain di Indonesia akan mudah diajak kerja sama dibandingkan kaum paderi yang antikompromi bahkan pada keluarga sendiri. Adu domba itu berlangsung beberapa tahun.

Belanda membiarkan paderi merangsek ke Sumatera Utara karena melapisi dan lebih melindungi raja dan kaum bangsawan di wilayah Riau dan Palembang. Sumatera Utara di bawah Sisingamangara juga sedang berada dalam incaran Belanda.

Ketika pasukan bersenjata berkurang antara ketiga pihak, Belanda yang semakin kuat karena berhasil mengalahkan perlawanan Diponegoro di Jawa, yang juga dikalahkan dengan taktik adu domba, tidak terhalangi untuk menguasai keseluruhan dari Sumatera bagian Utara dan Barat kecuali Aceh yang terlindungi barisan pegunungan. Kaum Paderi sendiri tersingkir ke Malaka. Sumatera Utara serta Sumatera Barat mutlak di bawah kekuasaan kolonialis. Adu domba mereka efektif berhasil.

Adu domba telah digunakan dalam berbagai konteks perselisihan selama berabad-abad di dunia. Orang barat menyebut istilah ini dengan makna double cross atau salib yang bersilangan ganda pada abad pertengahan setelah perang salib. Sebuah 'silang ganda' menggambarkan penipuan di mana dua pihak berkolusi dalam penipuan itu, namun salah satunya yang kemudian kembali motif pribadi, menyeberang jalan menyelisihi perjanjian itu dengan menyerang kembali kepada orang yang diangkat menjadi mitranya.

Adu domba mirip-mirip dengan kasus 'agen ganda', agen yang menjual dua cerita kepada dua klien yang berbeda demi melemahkan kondisi mereka. Di masa abad kegelapan, biasanya agen ganda disusupkan para jenderal ke tentara musuh musuhnya agar di antara mereka saling menyerang.

Adu Domba Berawal dari Masa Warlords China

Kebiasaan ini berawal di tanah Cina sebelum masehi. Di era samkok tiga negara, kisah adu domba merupakan makanan sehari-hari para warlords dan menjadi penyulut perang tanpa henti di tanah Cina. Sampai akhirnya datang satu tokoh hebat bernama Zhuge Liang yang menghentikan perang dan membabat habis kemungkinan taktik adu domba dengan menggunakan prinsip tiga negara kuat yang saling mengawasi.

Sejarah peperangan Eropa tidak terlepas dari taktik kotor adu domba.

Biasanya dilangsungkan dalam saling serang dan saling memerangi antara bangsa satu dengan bangsa lainnya, yang terinspirasi pergolakan besar pada era Perang Salib.

Perang salib berhasil membawa perubahan postif bagi Eropa yang bodoh dan terbelakang.

Harta-harta Timur dibawa ke Barat. Ilmu pengetahuan, tanaman, teknologi, dibawa kembali ke tanah Eropa dan mengubah kebiasaan Eropa.

Termasuk pula dalam taktik perang, pola adu domba dari Timur mereka adopsi, mereka kuasai, dan mereka tajamkan isinya.

Taktik itu berhasil jika masing-masing juru taktik suatu negara tidak gegabah untuk menyerang satu negara saja. Jika mereka gegabah menyerang, negara lain akan membokongnya.

Dengan kredo anti adu domba yang terkenal, "Anda menyerang negara mereka, kami akan menyerang Anda semua. Anda menyerang kami, mereka akan menyerang kita semua", setiap pihak tidak akan begitu bodoh untuk saling menyerang.

Jika lantas ada yang beralasan, mudah saja. Serang saja dua negara sekaligus. Hal itu sudah dilakukan oleh Cao Cao dan sejuta tentaranya berhasil dihancurkan pada pertempuran Tembok Merah.

Setelah kematian Zhuge Liang, double cross atau adu domba kembali mewarnai sejarah China. Di Eropa, apabila ada perang dan pertentangan, biasanya itu akan diselesaikan di suatu medan perang antara dua kekuatan pendukung.

Namun, belajar dari saling mengkhianati dan saling menikam dari belakang sebagaimana kebiasaan di Timur Tengah semenjak era kerajaan kecil di Eufrat dan Tigris, orang Eropa lantas mempelajari taktik baru. Tidak perlu menggelar tentara besar untuk menguasai suatu negara. Cukup menggelar para agen ganda saja dan coba buat perpecahan sekaligus keributan. Akibatnya membuat banyak negara saling serang dan hal itu akan menjadikan Anda semakin kuat, sementara mereka akan semakin lemah.

Adu Domba di Tengah Orang Biasa

Adu domba memasyarakat di kalangan orang biasa pada era merkantilis dan victorian kira-kira pada 1870. Di Inggris, adu domba menjelaskan praktik umum untuk mencoba menang perlombaan dalam bentuk pengaturan skor, merusak usaha orang lain, dan penipuan dalam bentuk mengadu domba, antara pengusaha dengan pegawainya dan antara pengusaha dengan pelanggannya.

Perang adu domba modern itu diadaptasi dalam komunikasi politik (Dan Nimmo 1970) sebagai strategi Black Campaign. Mencoba memenangkan perang dengan membuat perselisihan yang menguntungkan orang yang tidak ikut berselisih.

Para pemasar real estate di Amerika Serikat juga ikut-ikutan menggunakan taktik adu domba untuk membuat harga properti menjadi sontak murah meriah. Caranya, dengan membayar satu agen ganda agar terjadi perang antargeng dalam suatu lingkungan. Perang antargeng yang berlarut-larut akan menjadikan warga sekitar lingkungan itu resah dan tidak betah. Akhirnya, mereka akan melepas properti dengan harga murah meriah karena nilai mahal suatu lingkungan, yakni ketenangan dan kedamaian tidak mereka dapati. Adu domba memang taktik kejam, brengsek, dan mengerikan.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Tugas dan Wewenang MPR
  • Menentukan Tema Makalah Kerukunan Umat Beragama
  • Mencermati Relasi Individu dan Masyarakat
  • Kerukunan Umat Beragama di Indonesia
  • Solidaritas Korban Gempa dan Hikmah Bencana
  • Pengertian Kerukunan Umat Beragama dalam Kehidupan Sosial
  • Pentingnya Kerukunan Umat Beragama di Indonesia
  • Harga Diri - Seberapa Mahal?
  • Percik Renungan Kehidupan Seorang Wanita, Semestinya Kita Sehati
  • Etika Sopan Santun dalam Kehidupan Sosial
  • Forum Dewasa, Bukan Hanya Tentang Seks!
  • Sopan Santun Berbicara
  • Sopan Santun Dalam Pergaulan Menunjukkan Nilai Diri
  • Arti Masyarakat Polisi atau Polisi Masyarakat?
  • Penanganan Korban Gempa Bumi
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA