logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Referensi    Dunia    Afganistan    Afghanistan

Afganistan, Negara yang Paling Dihindari

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Jika ada yang bertanya, “Negara apa yang paling tak ingin dikunjungi atau ditinggali?” Afganistan pasti menjadi salah satu jawabannya. Negara ini ada di antara beberapa negara yang paling dihindari di dunia, di samping Irak, Kongo, Palestina, dan negera-negara berkonflik lainnya. Jangankan orang luar, warga negara mereka sendiri banyak yang eksodus mencari suaka politik agar bisa pindah ke negara lain.

Siapa yang mau hidup dan datang ke negara dengan tingkat konflik seperti medan perang? Hanya mereka yang bergabung dengan pasukan PBB, pegawai sipil PBB, LSM, dan pasukan Amerika Serikat yang mau datang ke sana.

Mereka datang karena punya berbagai kepentingan, mulai dari urusan politik, sosial, sampai ekonomi. Khusus buat para pegawai PBB, bekerja di tempat konflik seperti Afganistan mendatangan rezeki berlimpah, meski risikonya nyawa.

Konflik tak Berujung

Afganistan adalah sebuah negara miskin, meski punya cadangan sumber daya alam yang besar. Sebagian penduduknya berprofesi sebagai petani dan peternak.

Padahal, tanahnya tandus terdiri dari gurun pasir dan sedikit tanaman. Kondisi miskin itu semakin parah akibat konflik yang berkepanjangan. Entah apa yang diperebutkan, masing-masing pihak sangat bersemangat untuk perang.

Uni Soviet (kini Rusia) menjadi salah satu negara yang ikut terlibat langsung dalam konflik di Afganistan. Mereka membantu salah satu kelompok di sana, berperang melawan kelompok lain yang biasa disebut Mujahiddin.

Perang sejak 1970-an itu, menghancurkan sebagian besar sarana dan prasarana di Afganistan. Tak ada yang menang, tak ada pula yang kalah, meski masing-masing pihak mengklaim mampu memukul mundur lawannya. Bukti di lapangan, menunjukkan betapa sengsaranya warga negara miskin tersebut.

Amerika Ikut Campur

Seharusnya, hancurnya Uni Soviet pada awal 1990-an bisa menjadi angin segar buat Afganistan. Perang selama lebih dari 20 tahun, dengan sendirinya berakhir. Mujahiddin otomatis menjadi pemenang, karena lawan kuatnya tak ada lagi. Tetapi, harapan tinggallah harapan. Setelah Uni Soviet menarik mundur seluruh pasukannya, konflik tak juga berakhir. Kali ini antar-kelompok di Afganistan sendiri tanpa campur tangan pihak asing.

Amerika Serikat mulai menunjukkan taringnya sebagai polisi dunia (seperti biasa) setelah kebencian mereka memuncak melihat tindak-tanduk rezim Taliban yang menguasai Afganistan pascakonflik dengan Uni Soviet.

Negara yang katanya menjunjung tinggi demokrasi dan hak asasi manusia itu, dengan gagah berani masuk ke Afganistan dan berhadapan langsung dengan Taliban, pada awal 2000-an. Maka, mulailah rakyat Afganistan memasuki neraka baru, Taliban vs Amerika Serikat.

Miskin dan Sengsara

Amerika Serikat berdalih masuk ke Afganistan untuk membantu negara tersebut keluar dari rezim Taliban. Rezim yang dianggap sewenang-wenang dan antidemokrasi. Negerinya Barrack Obama itu, mendukung salah satu kelompok untuk melawan Taliban dan berupaya untuk berkuasa di sana.

Namun, upaya itu tidak membawa perbaikan berarti. Sampai detik ini, Amerika masih belum mampu mengatasi Taliban yang di beberapa lokasi masih sangat kuat cengkeramannya. Bahkan, ribuan tentara Amerika dan PBB, tewas di sana selama berperang melawan Taliban.

Akibat konflik baru tersebut, rakyat Afganistan tetap miskin dan sengsara. Boro-boro memenuhi kebutuhan pendidikan dan kesehatan, untuk bekerja tenang dalam memenuhi kebutuhan pokok saja sulitnya minta ampun.

Hampir setiap hari, bom dan senjata otomatis meledak di sana, meluluhlantakkan fasilitas dan membunuh banyak orang. Persis seperti yang terjadi di negara yang tak jauh dari mereka, yaitu Irak. Dua negara yang sama-sama melibatkan pasukan Amerika Serikat dalam konfliknya, sama-sama pula miskin dan sengsaranya.  

Bagaimana dengan Anda, tertarik tinggal di sana? 

 

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Afganistan, Negeri Penuh Gejolak
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA