logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hiburan    Film    Action

Leonardo DiCaprio Agen CIA, Benarkah?


Ilustrasi Leonardo Di Caprio

Daftar Isi
  1. DiCaprio Agen CIA
  2. Inteligen
  3. Minim Teknologi

Intelijen CIA memang seperti gurita, tangannya merambah ke mana-mana, hampir semua negara tidak luput dari operasinya, dan hampir semua bidang kehidupan manusia menjadi cengkeramannya.

Semuanya mereka inteli, bahkan kabarnya sampai di dunia perfilman pun banyak ditemui agen CIA. Beberapa artis yang menjadi agen CIA adalah Leonardo di Caprio dan Russel Crowe.

Benarkah kedua artis itu adalah intel CIA?

Intelijen

 

DiCaprio Adalah Agen CIA

Ya, betul, 100% benar. Tidak percaya? Anda perlu bukti? Baik, silakan Anda tonton di film mereka, Body of Lies.

Dalam film keluaran Warner Bros inilah DiCaprio menjadi seorang agen CIA yang ditugaskan oleh atasannya, Russel Crowe, untuk melakukan operasi intelijen di Irak dan Yordania, dalam rangka memburu salah seorang yang ada dalam daftar teroris versi Amerika Serikat, Al Saleem.

Lagi-lagi, peran sebagai agen CIA jadi barangan dagangan Hollywood untuk menarik minat penonton. Sebelumnya, sudah banyak film yang mengangkat tema dunia intelijen.

Barangkali yang paling terkenal adalah film James Bond 007. Hingga tulisan ini dibuat, versi layar lebarnya sudah dibuat hingga serinya yang ke-22. Judulnya Quantum of Solace, dibintangi oleh Daniel Craig.

Dunia intelijen memang selalu menarik untuk diangkat. Alasannya, karakter ceritanya begitu banyak misteri, penuh rekayasa, trik dan intrik, serta alur ceritanya yang dramatis dan sulit ditebak.

Apalagi, bila diangkat ke layar lebar dengan penggarapan yang baik, maka tidak diragukan lagi, akan menjadi sebuah film yang menghibur, sekaligus membuka cakrawala berpikir penonton.

Dalam Body of Lies, keunikan karakter dunia intelijen bisa kita saksikan dengan jelas. DiCaprio yang berperan sebagai Roger Ferris ditugaskan untuk membongkar misteri seorang Al-Saleem yang diduga merupakan otak sekaligus penyandang dana bagi para martir yang telah meledakkan bom di Inggris dan Belanda.

Kemudian, dijalankanlah sejumlah rekayasa untuk memancing Al-Saleem untuk keluar dari persembunyiannya.

Ada yang menarik dari rekayasa yang dijalankan Ferris untuk memancing sang "gembong teroris". Dia dan timnya sengaja melakukan peledakan bom di salah satu pasar di Belanda. Kemudian, dibuatlah sejumlah rekayasa dan trik sehingga semua orang menyangka yang melakukannya adalah aksi syahid anggota "teroris".

Caranya, dengan menempatkan mayat orang berwajah Arab bersama dengan gedung yang akan diledakan.

Lalu, membuat e-mail palsu yang berisi pengakuan anggota teroris yang mengaku bertanggung jawab atas aksi bom bunuh diri tersebut. Dan, ternyata pancingannya berhasil. Entahlah, apakah ide ini pernah atau sedang dijalankan juga oleh CIA atau tidak, atau hanya ada dalam film saja.

Konflik dari film ini menjadi menarik ketika Ferris terlibat hubungan cinta dengan wanita Arab keturunan Iran, Aisha, yang membuat dirinya berminat menjadi warga Yordania.

Konfliknya menjadi semakin panas ketika atasannya sendiri, Ed Hoffman, pimpinan CIA untuk Timur Tengah, melakukan operasi intelijen "sampingan" tanpa sepengetahuannya, yang membuat Ferris merasa dikhianati dan ditusuk dari belakang.

Minim Teknologi

Konflik dari film ini menjadi menarik ketika Ferris terlibat hubungan cinta dengan wanita Arab keturunan Iran, Aisha.

Dalam Body of Lies, akting DiCaprio dan Crowe memang tetap prima. Tetapi, bagi para penikmat sinema layar lebar, barangkali tema film yang dimainkannya bukanlah perkara baru.Bahkan, kecanggihanteknologi yang biasanya dipakai para agen spionase di film-film sejenis tidak begitu menonjol.

Sangat jauh bila dibandingkan dengan kecanggihan alat-alat teknologi yang dipamerkan di film James Bond. Perang melawan teroris memang telah menginspirasi kalangan sineas Hollywood untuk membuat tontotan yang menghibur, seperti halnya Body of Lies.

Ada dua pesan besar barangkali yang ingin disampaikan oleh David Ignatius, sang penulis Body of Lies yang novelnya telah diangkat jadi film layar lebar itu, pertama adalah, dari sudut pandangnya, Islam tidak mengajarkan terorisme.

Satu-satunya teknologi canggih yang dipamerkan dalam Body of Lies adalah alat pengintai jarak jauh (satelit) yang bisa memantau aktivitas dan gerak-gerik seseorang.

Teknologi ini mengingatkan kita pada film Enemy of The State yang dibintangi Will Smith dan Gene Hackman.

Kedua, aksi perang melawan terorisme, khususnya yang dijalankan CIA dan pemerintahan AS, ternyata sering menghalalkan segala cara, menggunakan rekayasa jahat, dan trik keji.

Nah, apakah film ini mencoba untuk menjembatani dan meredakan benturan peradaban antara Islam dan Barat seperti yang digambarkan Huntington dalam bukunya, The Clash of Civilizations? Entahlah, yang pasti Ridley Scott sebagai sutradara cukup piawai menggarap tema-tema yang begitu sensitif ini, Islam vs Barat, tidak berat sebelah, dan juga tidak memojokkan.

Hal ini tidaklah mengherankan, karena Scott sebelumnya pernah berpengalaman menggarap film Kingdom of Heaven. Film Hollywood yang mengangkat tema tentang Islam and the West.

Selamat menonton.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Inuyasha, Manusia Setengah Setan
  • Smallville: Superman Versi Film Serial
  • Transformer, Robot-Robot Yang Menakjubkan
  • Esensi Nasionalisme dalam Resensi Film Dalam dan Luar Negeri
  • Harapan terhadap Film Action Tanah Air
  • Ninja Assasin
  • Recycle Film Karate Kid Lebih Seru
  • Rambo, Legenda Film Perang Vietnam
  • Makna Lagu Superman is Dead Bangkit dan Percaya
  • Lagu Superman Is Dead, Musuh dan Sahabat
  • The Hurt Locker, Tontonan Para Pecinta Film Perang
  • Tenaga Baru Iron Man 2
  • Kera Sakti – Perjalanan Hidup Si Monyet Ajaib
  • Power rangers, Dulu dan Kini
  • Mengenal Perkembangan Dunia Transformers
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA