Gambaran Akhlak Nabi Muhammad SAW

Kematian adalah sebuah kesimpulan. Seluruh hidup manusia, berapa tahun pun dia hidup di dunia, seolah-olah disimpulkan pada detik-detik terakhir tersebut. Sakaratul maut seolah menjadi rangkuman atau esensi dari seluruh isi buku kehidupan yang kita tulisi. Indikasi dari kematian yang baik ataupun kematian yang buruk terlihat dari ”the last words” alias ”kata-kata terakhir” yang diucapkan si pelaku.
Dengan kata lain, baik buruknya akhlak seseorang akan tergambarkan pada detik-detik kematiannya; tergambar pada kata-kata terakhir yang diucapkannya; atau tergambar dari sedang apa ketika dia meregang nyawa —sedang taatkah atau sedang maksiatkah. Bagaimana dengan Rasulullah SAW? Gambaran tentang akhlak Nabi tersimpulkan dengan jelas pada akhir kehidupannya.
Syaikh Shafiyyurahman Mubarrakfury dalam Shirah Nabawiyyah mengungkapkan bahwa sekitar waktu Dhuha, Rasulullah SAW memanggil Fathimah, putri kesayangannya. Beliau kemudian membisikan sesuatu kepadanya hingga Fathimah menangis. Kemudian, beliau mendoakan buah hatinya tersebut. Setelah itu, beliau membisikkan sesuatu kepadanya hingga Fathimah tampak tersenyum bahagia.
Apa yang beliau bisikkan ketika itu? Fathimah mengatakan, “Rasulullah SAW membisiki aku bahwa beliau sebentar lagi akan wafat, lalu aku pun menangis. Kemudian, beliau membisiki aku lagi dan mengabarkan bahwa akulah anggota keluarga beliau yang pertama kali akan menyusul beliau, sehingga aku pun tersenyum.” Dalam sebuah keterangan, beliau pun mengabari Fathimah bahwa dia adalah pemimpin para wanita semesta alam.
Perasaan Fathimah sangat galau. Hatinya sangat sedih melihat penderitaan ayahandanya itu. Ia pun berkata, “Alangkah menderitanya engkau wahai ayah?”
Nabi saw menjawab, “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini.”
Beliau kemudian memanggil dua cucu kesayangannya, yaitu Hasan dan Husain, lalu keduanya dan memberikan serangkai nasihat indah. Beliau pun memanggil istri-istri dan anggota keluarganya untuk memberikan nasihat dan peringatan kepada mereka. Pada saat-saat terakhir itu, Rasulullah SAW masih sempat mengingatkan para sahabat agar menjaga shalat dan menyayangi orang-orang lemah.
Ketika sakitnya semakin berat, beliau masih menyempatkan diri untuk bersiwak dengan dibantu oleh Aisyah. Beliau berbaring di pangkuan istrinya itu. Di dekat tangan beliau terdapat sebuah bejana berisi air. Beliau mencelupkan kedua tangannya ke dalam air lalu mengusapkannya ke wajah, sambil bersabda, ‘Lâ ilâha illallâh, sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya’.” (HR Bukhari)
Seusai bersiwak, Nabi mengangkat kedua tangannya atau jarinya-jarinya, mengarahkan pandangan ke langit-langit, dan kedua bibirnya bergerak-gerak. Aisyah masih sempat mendengar apa yang beliau katakan, Nabi saw berujar lirih,
“Bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka dari para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Ya Allah ampunilah aku; rahmatilah aku; dan pertemukanlah aku dengan Kekasih Yang Maha tinggi. Ya Allah, Kekasih Yang Maha tinggi.” (HR Ad-Darimi)
Beliau mengulang kalimat terakhir tersebut sampai tiga kali lalu tangan beliau lunglai dan beliau kembali kepada Kekasih Yang Mahatinggi.
Fragmen ini menggambarkan betapa mulianya akhlak Nabi SAW. Di tengah sakitnya yang semakin berat beliau masih konsisten dan bersemangat dalam menyampaikan nilai-nilai kebaikan, tanpa manipulasi dan ingin dipuji.
Dapat dikatakan, dalam peta kognitif beliau, yang menjadi memori terdalamnya adalah cita-cita, harapan, dan kesungguhan untuk mengabdi kepada Allah Swt. dan menebarkan kasih sayang kepada manusia. Inilah orientasi tertinggi yang mendasari seluruh gerak laku kehidupan Nabi SAW yang tersimpulkan pada detik-detik akhir kehidupan beliau.
Semoga kita pun bisa mendapati kematian yang indah sebagaimana kematian manusia termulia ini. Âmîn.






