logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    25 Nabi Dan Rasul

Beberapa Akhlak Rasulullah yang Terlupa


Ilustrasi akhlak rasulullah

Sudah cukup banyak ulasan-ulasan para ulama terdahulu mengenai kemuliaan akhlak Rasulullah SAW yang mereka urai dalam kitab-kitab sejarah Nabi atau lebih dikenal Shirah Nabawi. Sangat beragam, melingkupi berbagai sudut pandang dan nama pengarang.

Mereka menceritakan semua hal dan segala bentuk rupa warna kemulian serta ketinggian akhlak Rasulullah di masa hidupnya. Bagaimana akhlak Rasulullah kepada Tuhannya. Akhlak Rasulullah ketika bertemu dan memperlakukan manusia. Akhlak dalam memimpin umat. Bagaimana memperlakukan perempuan.

Tak lupa, mereka juga telah mengulas bagaimana akhlak Rasulullah dalam berkeluarga, ketika hendak makan, berpakaian, bahkan cara hendak membuang hajat. Intinya mulai dari ketika beliau bangun tidur, sampai tidur lagi semuanya sudah dibahas panjang, sepanjang usia zaman sejak sepeninggalannya pada 11 H (632 M) hingga saat ini.

Rasulullah SAW memang diciptakan oleh Allah Swt. dalam format yang sangat baik dan dengan bentuk rupa yang paling sempurna. Segala gerak-geriknya dan diamnya Rasul berjalan mengalir dengan sikap yang penuh makna dan istiqamah. Dan Rasulullah terlepas dari dua sifat yang seringkali menempel pada banyak manusia di muka bumi ini, yaitu sifat pengecut dan terburu-buru (sembrono).

Semua akhlak Rasul yang telah disebutkan di atas merupakan bagian terkecil dari seluruh tauladan Rasulullah yang terbingkai kokoh dalam kitab suci Al-Qur’an. Allah Swt. sudah menggarisbawahi konteks ini dalam banyak ayat-ayatnya, salah satunya berupa pujian, "Sesungguhnya kamu benar-benar memiliki budi pekerti yang Agung" (QS. Al-Qalam: 4).

Dari sekian banyak uraian tentang tauladan akhlak Nabi yang dibahas oleh para ulama dan tokoh-tokoh pemikir Islam, ada beberapa hal yang mungkin selama ini kita terlupa, atau mungkin sengaja melupakannya. Berikut uraiannya.

Akhlak Rasulullah dalam Menghargai Waktu

Rasulullah mempunyai tradisi disiplin yang sangat tinggi dalam kesehariannya. Semua waktu selau diisi dengan kebaikan dan kebaikan. Terutama dengan membaca ayat-ayat Allah. Ini merupakan tradisi Rasulullah yang membuatnya menjadi cerdas, hingga pemikiran-pemikirannya mampu menembus ruas pembatas zaman dan waktu.

Bukankah dalam shirah awal diturunkannya ayat Al-Quran (Surah Al-‘Alaq) merupakan perintah membaca? Setelah mendapat perintah langsung dari Allah tersebut, Rasulullah rajin membaca. Ia melahap semua huruf-huruf dan ayat-ayat Al-Qur’an yang turun menjadi bahan bacaan sekaligus renungannya dalam mengisi waktunya.

Alhasil Rasulullah mampu menembus jurang kebodohannya (ummi) menjadi seorang pemimpin yang disegani, pedagang yang jujur, pemimpin perang yang pandai mengatur strategi, serta guru bangsa yang paling banyak ilmunya.

Akhlak Rasululloh dalam Mengasihi

Rasulullah adalah sosok pribadi muslim yang memiliki rasa kasih sayang yang sangat tinggi, tidak hanya kepada anak-anak yatim, para fakir miskin, tapi juga terhadap binatang. Seperti dijelaskan dalam sebuah hadits, “Apabila kalian mengendarai binatang, berikanlah haknya dan janganlah menjadi setan-setan terhadapnya”.

Dalam hadits lain Rasul bersabda, “Seorang perempuan yang bergelimang dosa telah diampuni oleh Tuhan karena memberi minum seekor anjing yang sedang kehausan.”

Akhlak Rasululloh kepada Alam dan Lingkungan

Rasulullah sangat menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa melakukan usaha-usaha mengolah harta kekayaan alam, baik itu kebun, hutan, minyak bumi, batu bara, dan apa yang baik-baik dari hasil bumi untuk penghidupan. Kemudian melestarikannya, serta tidak melakukan pengrusakan.

Namun, bila melihat fenomena alam bangsa kita saat ini yang mulai tidak bersahabat, mungkin hal ini patut menjadi bahan renungan kita bersama untuk menjadi lebih baik dan lebih arif untuk memperlakukan alam. Bahwa alam akan baik, bila kita baik memperlakukannya, demikian pula sebaliknya.

Sebab-sebab Umat Melupakan Akhlak Rasulullah

Nabi Muhammad adalah uswatun hasanah, teladan budi pekerti yang luhur bagi umat manusia. Segala yang tercetak dalam perilaku Nabi adalah contoh yang diduplikasikan kepada umat muslim khususnya dan umat manusia semua pada umumnya. Karena Nabi Muhammad adalah Rosul yang membawakan rahmat ke seluruh alam sehingga, bukan saja umat Islam yang dicontohinya, melainkan semua umat di muka bumi ini.

Namun dalam kenyataan yang kita jumpai sekarang duplikasi amaliah berupa akhlakul karimah yang dibawakan oleh beliau itu banyak yang terluapakn dalam pola hidup sehari-hari kita. Padahal nilai luhur dalam perilaku beliau itu tidak hanya bernilai ibadah semata, tetapi juga mengandung nialai positif bagi pergaulan hidup yang berbobot dan berkemajuan sepanjang masa.

Semua yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad adalah intisari hidup yang positip, bermartabat tinggi dan berdampak yang baik bagi pertumbuhan budaya hidup dan perilaku manusiawi. Sayangnya selama ini pewarisan akhlak rasulullah itu hanya sekedar dibatasi oleh tuntunan yang bersifat ritual belaka, bukan membumikannya sebagai stile atau gaya hidup. Karena itu akar-akar nilainya tidak terasa benar dalam perilaku muslim sekalipun.

Hal lain yang menjadi penyebab mengapa akhlak Nabi itu tidak mewarnai perikehidupan kita adalah anggapan bahwa, jaman kita dengan jaman Nabi berbeda. Boleh jadi anggapan bahwa segala yang ada sekarang tidak ada di jaman Nabi, seperti alat komunikasi, kendaraan alat transportasi, perbendaharaan yang lain, semuanya tidak sama, itulah yang memisahkan.

Kita memang tidak mungkin memindahkan jaman dulu ke mas sekarang, tetapi sikap yang dicontohkannya itu tetap relevan untuk masa kapanpun sepanjang sejarah umat manusia. Hanya kebiasaan kita mengungkung diri dalam maslah kekinian yang membatasi pemahaman kita terhadap nilai sikap yang seharusnya bisa ditiru. Sikap fleksibel dalam berbagai format kekinian yang tetap selaras dengan akhlak nabi itulah yang seharusnya terus diupayakan.

Percepatan kemajuan yang menuntut manusia “gulung kuming” mengikuti derasnya perubahan, juga sebagai ketersesatan hidup yang mengasingkan kita dari contoh yang diwarisi dari Nabi. Tidak salah jika akibatnya semakin kemajuan direngkuh, manusia semakin jauh dari rasa aman dan bahagia. Karena manusia telah kehilangan keseimbangan dan nialai luhur kemanusiaannya. Ketimpangan hidup setiap saat mewarnai kehidupan masyarakat manapun, tidak terlepas masyarakat Indonesia yang mayoritas umat Muhammad.

Bila tuntunan Nabi diterima sebatas simbolik dan ritual belaka maka, pelajaran berharganya tidak tergapai. Akhlak Rasulullah itu sejatinya tuntunan hidup yang utuh dan sempurna bagi umat manusia secara keseluruhan. Di sinilah benang kusut yang memisahkan pangkal dan ujungnya sehingga, kita kehilangan garis ajaran perilaku yang ideal.

Apa saja yang sekarang ini kita sebut sebagai attitude yang kita pelajari dari berbagai sumber, sesungguhnya telah ada dalam perilaku Baginda Rasul. Hanya saja karena apa yang kita anggap sebagai kemajuan kita arahkan ke sumber lain maka, kita meluapakan ajaran yang murni.

Dalam akhlak Nabi itu tidak hanya kita mewarisi perilaku yang tampak saja, tetapi dalam uswatun hasanah itu ada nialai berkah yang tersembunyi di dalamnya. Hal iu karena apa yang dilakukan oleh Rasulullah itu adalah cermianan sifat suci Tuhan. Akhlak Rasulullah adalah akhlak Allah SWT. Bukan sembarang budi baik yang sekedar pantas dan semata baik saja. Inilah yang sesungguhnya tidak mungkin tergantikan oleh teori tingkah laku manapun.

Dasar Pokok Dalam Mencontoh Akhlak Rasulullah

Mari kita mulai dari diri kita, apa yang ingin kita tanamkan pada pribadi lain. Mungkin keluarga kita, kerabat dekat kita, atau masyarakat umum yang ada di sekitar kita. berikut dasar pokok yang melatarbelakangi akhlak Rasulullah.

  • Landasan utamanya adalah iman kepada Allah SWT. Perbuatan yang dilandaskan pada iman adalah perbuatan yang memiliki akar yang kokoh karena, bersifat fitrah. Sebagai fitrah manusia, iman adalah isi hati setiap orang. Ketika seseorang berbuat dengan motif iman maka, hubungannya tidak hanya bersifat horisontal saja, tetapi juga terhubung secara fertikal kepada Allah.
  • Landasan keduanya adalah ketaqwaan. Amal perbuatan yang bernilai luhur dan terasa pas di hati semua orang adalah perbuatan yang sinkron dengan ketaqwaan. Di dalam hati semua orang ada nilai hakiki dari ketaqwaan sehingga, apa saja yang bersumber dari ketaqwaan akan sampai dengan damai dan menyenangkan hati. Keselarasan ini berarti kesejahteraan hakiki, yang tidak hanya baik dalam kurun waktu sementara, tetapi bersifat kekal.
  • Dari dua landasan pokok itulah sesungguhnya akhlak Rasulullah itu berdiri. Oleh sebab itu, bagi kita pewaris Nabi sudah seharusnya mencontoh secara lahir batin akhlak Nabi itu. Tidak hanya di permukaannya saja, apalagi hanya sekedar penampilan tanpa roh iman dan taqwa.
Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Nuansa pada Sejarah Nabi Muhammad Saw
  • Seputar Perayaan Maulid Nabi Muhammad saw
  • Nama-nama Sahabat Nabi Muhammad: Khulafaur Rasyidin
  • Kisah Nabi Nabi, Peringatan Untuk Manusia
  • Nama-nama Sahabat Nabi - Budak Belian Hingga Kekasih Allah
  • Cerita Nabi Muhammad Selalu Jadi Inspirasi
  • Nama Sahabat Nabi Muhammad SAW - Asratul Kiraam, Secercah Cahaya dari Surga
  • Kisah Nabi Ibrahim
  • Mengenal Sifat Nabi Muhammad SAW
  • Karunia Mukjizat 25 Nabi
  • Cerita Nabi-Nabi Sebagai Tauladan
  • Kisah Tentang Nabi Yusuf AS
  • Banjir di Zaman Nabi Nuh dan Kebesaran Allah Swt
  • Majelis Rasulullah - Majelis untuk Lebih Mendekatkan Diri dengan Rasulullah
  • Kisah Nabi Yusuf
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA