Bentengi Diri Dengan Shalat, Akhlak Tercela Bakal Lenyap
Ilustrasi akhlak tercela
Siapa pun paham, bahwa akhlak terbagi kepada dua. Yaitu, Akhlak terpuji (akhlak mahmudah) dan akhlak tercela (akhlak mazmumah) Rasulullah Saw. diutus kebumi adalah untuk menyempurnakan akhlak. Artinya, Rasulullah Saw, baik secara lisan maupun perbuatannya, menjelaskan kepada umatnya ihwal akhal terpuji dan akhlak tercela.
Di dalam artikel ini yang akan dikupas hanya akhlak mazmumah alias akhlak tercela. Pada hakikatnya, segala bentuk maksiat (berasal dari kata ‘asha, ya’shi yang artinya durhaka) termasuk ke dalam akhlak tercela. Lawan dari maksiat adalah taat. Dengan kata lain, maksiat adalah perbuatan dosa yang bertentangan dengan hati nurani dan fitrah kemanusiaan.
Gambaran Umum Tentang Akhlak Tercela
Itulah sebabnya, Rasulullah SAW menyatakan bahwa hakikat dari dosa dan kemaksiatan adalah sesuatu yang mengganjal di hati dan enggan diketahui oleh orang lain. Dilihat dari definisi isi, ruang lingkup kemaksiatan sangat luas. Ia mencakup semua bentuk penentangan terhadap Allah Swt, baik kecil maupun besar. Sudah pahamkah Anda secara umum tentang akhlak tercela?
Salah satu bentuk kemaksiatan yang sangat tercela adalah meninggalkan shalat. Artinya, orang yang meninggalkan shalat sudah termasuk dalam kategori orang yang melakukan akhlak tercela. Pasalnya, shalat adalah tiangnya agama. Ia menjadi pembeda antara muslim dan kafir. Dan bahkan, shalat adalah ibadah yang pertama kali diperhitungkan pada Hari Penghisaban kelak. Sehingga bisa disimpulkan shalat adalah benteng yang akan melindungi manusia dari kemaksiatan atau akhlak tercela. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan munkar.”
Shalat - Benteng Diri dari Akhlak Tercela
Shalat adalah jalinan komunikasi terpenting antara seorang hamba dengan Tuhannya. Shalat pun merupakan bukti syukur seorang hamba atas segala nikmat yang telah dianugerahkan Allah Swt. Dengan demikian, ketika seorang Muslim meninggalkan shalat tanpa alasan yang dibenarkan agama, saat itulah dia sudah menghancurkan dan merobohkan benteng dirinya dari akhlak tercela.
Pasalnya, ia menyamakan dirinya dengan orang kafir, memutuskan hubungan dengan Tuhannya, dan mengingkari nikmat yang telah diberikan-Nya. Orang yang selalu melakukan akhlak tercela akan menunjukkan kesombongan dirinya di dunia ini. Hal itu tampak dari ucapannya. Ia pun mulai rajin menceritakan aib orang lain. Mulai lain menjadi penghasut agar orang lain menjadi berantam. Persis dirinya seperti apa yang dilakukan setan mansyuth (setan yang tugasnya mengajak orang bergosip) dan setan mathrasy (setan yang tugasnya mengajak orang lain berbicara bohong).
Peliharalah Shalatmu!
Sejatinya, kita memahami bahwa setiap detik Allah Swt. menganugerahkan bilangan nikmat tanpa batas, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Namun, ketika Allah memintanya untuk menghadap lima kali sehari, dia menolak dengan beragam alasan: sibuk, banyak pekerjaan, sakit, dan sebagainya.
Dia lebih mementingkan urusan dunianya ketimbang Allah. Padahal, Allah Swt. adalah pemilik dirinya, pemilik pekerjaannya, pemilik keluarganya, pemilik semua yang diinginkannya, dan pemilik dunia dan segala isinya. Itulah mengapa, meninggalkan shalat termasuk akhlak tercela, bahkan akhlak paling tercela setelah menyekutukan Allah Azza wa Jalla.
Jika demikian adanya, pantas apabila Allah Swt. menurunkan azab kepada orang-orang yang tidak tahu terima kasih semacam ini. Apa gerangan azab bagi orang yang mebiasakan diri meninggalkan shalat? Suatu hari, Sayyidah Fathimah bertanya kepada ayahandanya, Rasulullah Saw.
“Apa yang akan didapatkan oleh orang yang melecehkan shalatnya, menganggap enteng shalatnya, baik laki-laki maupun perempuan?”
Rasulullah SAW menjawab,
“Wahai Fathimah, barangsiapa melalaikan shalatnya, baik laki-laki maupun perempuan, akan Allah siksa dengan lima belas perkara. Enam di dunia, tiga saat ia mati, tiga di alam kubur, dan tiga pada hari Kiamat, ketika ia keluar dari kuburnya.”
Enam siksaan yang diberikan di dunia, adalah:
- Allah akan menghilangkan keberkahan dari usianya,
- Allah akan menghapuskan berkah dari rezekinya,
- kewibawaan orang saleh akan dihilangkan dari wajahnya,
- amal yang dikerjakannya tidak akan mendatangkan pahala,
- doanya tidak akan naik sampai ke langit, dan
- ia tidak akan memperoleh bagian dalam doanya orang-orang saleh.
Adapun tiga perkara yang akan menimpanya pada saat kematiannya (sakaratul maut), adalah:
- ia akan mati dalam keadaan sangat terhina,
- ia akan mati dalam keadaan sangat lapar, dan
- ia akan mati dalam keadaan kehausan.
Adapun tiga siksaan yang akan menimpanya di alam kubur, adalah:
- Allah akan menempatkan malaikat yang kerjanya hanya mengganngu dia, membuatnya takut, dan mengguncangkan badannya di alam kubur,
- kuburnya akan Allah sempitkan, dan
- kuburnya akan Allah gelapkan.
Adapun tiga perkara yang akan ditemuinya pada hari kiamat, adalah:
- ia akan diseret wajahnya oleh para malaikat dan semua makhluk akan melihatnya,
- ia akan dihisab dengan hisaban yang berat,
- Allah tidak akan memperhatikannya pada hari Kiamat, tidak akan diampuni dosa-dosanya, dan baginya azab yang pedih.
Menyelamatkan Diri dari AKhlak Tercela dengan Menjaga Hati
Selain menjaga diri dari akhlak tercela dengan senantiasa menjaga shalat, cara lainnya adalah dengan serius menjaga hati. Pasalnya, manusia memliki empat sifat yang terkumpul di dalam hatinya, yaitu subu’iyyah (binatang buas), bahimiyyah (kebinatangan), setaniyah dan rabbaniyyah (ketuhanan).
Jika manusia selalu shalat dan menyadari bahwa nikmat yang didapatnya adalah pemberian Allah, maka hatinya memiliki sifat rabbaniyyah. Namun, akan berbahaya bila hati manusia dikuasi salah satu atau ketiga sifat hati yang lainnya. Maka tak ayal dirinya akan dihinggapi oleh akhlak mazmumah (akhlak yang tidak terpuji).
Di dalam kitab “Bidayatul Hidayah”, Imam Al-Ghazali mencantumkan bahwa ada tiga penyebab utama dari penyakit hati.
- Hasud (dengki).
Hasud atau dengki dalah penyebab utama penyakit hati lantaran timbul rasa iri hati dan benci bila ada orang yang mendapatkan kenikmatan. Dan bakal merasa senang bila ada orang tertimpa musibah.
- Riya.
Riya alias pamer juga menjadi penyebab utama penyakit hati. Ia kerap melakukan sesuatu bukan karena Allah, tapi mengharapkan adanya sanjungan dan pujian dari orang lain. Makanya, riya bagian dari akhlak tak terpuji.
- Ujub
Ujub atau memuji diri sendiri juga menjadi penyebab utama penyakit hati. Ia kerap menganggap dirinya menjadi orang yang paling mulia dalam segala sisi. Makanya, akhlaknya kelihatan sekali sangat tidak terpuji atau sangat tercela.
Tahukah Anda, bahwa ketiga sifat di atas adalah biangnya akhlak tidak terpuji. Jika sudah ada salah satu dari ketiga sifat tersebut, maka sangat sulit untuk mengobatinya, kecuali dengan shalat. Saat shalat merasakan dirinya sangat kecil. Ia adalah hamba, sedangkan Allah adalah Tuhan yang Maha Besar.
Memang, terapi melalui shalat belum tentu jaminan bisa membersihkan ketiga penyakit di atas. Paling tidak dengan shalat, ia akan paham bahwa fungsi shalat adalah mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ketika sifat di atas adalah bagian dari perkara yang munkar. Karena Rasulllah Saw. bersabda, “Tidak hal yang dapat merusak amal. Yaitu, pelit yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti dan mengagumi diri sendiri.”
Maka dari itu, jadikanlah shalat sebagai bentengnya. Ingatlah, jika timbul dalam diri kita salah satu dari sifat-sifat tercela di atas, maka akan merusak ibadah shalat yang sudah dilakukan. Tentunya, tak ada yang menginginkan apa yang telah dilakukannya dengan baik harus hancur sia-sia. Ingat salah satu pesan Rasulullah Saw. “Jagalah dirimu dari sifat hasud. Sebab hasud akan meruntuhkan amal kebajikan, seperti api memakan kayu bakar.”
Inilah sekilas pembahasan tentang akhlak tercela. Kita harus membentenginya dengan melakukan shalat yang benar dan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh agama.

