logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Artikel Umum Islam    Akhlak Terhadap Alam

Wasiat Rasulullah dan Akhlak Terhadap Alam

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Setiap kali hendak berperang, Rasulullah SAW senantiasa memberikan wasiat kepada pasukannya terkait aturan-aturan etika yang harus ditaati  selama di medan tempur. Salah satu wasiat beliau -yang kemudian diikuti oleh para Khulafaur Rasyidin- adalah larangan untuk menebang pepohonan -kecuali untuk strategi perang (QS Al-Hasyr, 59: 5), merusak tanaman, membunuh binatang tanpa alasan yang jelas -semisal untuk dimakan, dan meracuni sumber-sumber air.

Hal ini memberikan gambaran yang jelas kepada kita bahwa Islam sangat menjunjung tinggi akhlak terhadap alam. Haram hukumnya, tercela nilainya, bahkan melanggar Al-Quran dan sunnah Nabi saw, ketika seorang Muslim membuat rusak lingkungan sekitarnya, baik biotik maupun abiotik. Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS Al-A’râf, 7: 56)

Akhlak terhadap alam, sejatinya adalah bagian besar dari akhlak yang wajib dimiliki seorang Muslim, selain akhlak kepada Allah Swt, kepada Nabi SAW, kepada diri sendiri, dan kepada sesama manusia. Semua itu adalah satu kesatuan yang tidak bisa dilepaskan.

Dengan demikian, ketika seseorang mengabaikan akhlak terhadap alam, semisal merusak, mencemari, menyakiti, atau setidaknya tidak peduli akan kelestariannya, pastilah keimanan orang tersebut tidak sempurna. Tidak dikatakan lurus iman seseorang apabila tindakannya merugikan dan membawa mudharat bagi makhluk Allah lainnya.

Dalam beberapa hadits, kita menemukan ada orang-orang yang sangat bagus ibadah ritualnya akan tetapi dicap buruk oleh Nabi SAW, hanya karena dia tidak baik kepada binatang —sebagai salah satu bagian penting dari alam. Sebuah hadits dari Ibnu Umar menyebutkan, “Seorang wanita masuk neraka karena mengikat seekor kucing. Dia tidak memberinya makan dan tidak pula melepaskannya untuk memperoleh makan di bumi.” (HR Bukhari Muslim).

Namun sebaliknya, ada orang yang ibadahnya biasa-biasa saja, sering bermaksiat malah, akan tetapi dinilai baik oleh Nabi SAW karena dia penyayang terhadap binatang dan gemar memelihara lingkungan sekitarnya. Nabi SAW pernah bercerita tentang seorang lelaki yang dengan susah payah mengambil air ke sumur untuk menolong anjing yang kehausan.

Karena perbuatannya ini, Allah Swt. memuliakan dia dan mengampuni dosa-dosanya. “Sesungguhnya, Allah Swt. mensyukuri apa yang dilakukannya dan mengampuninya,” sabda Nabi SAW. Para sahabat bertanya, “Apakah dengan memperlakukan binatang secara baik kita memperoleh ganjaran?” Beliau pun menjawab, “Setiap perlakukan baik terhadap yang memiliki jiwa ada ganjarannya.” (HR Bukhari Muslim)

Anjuran agar setiap Muslim memperlakukan alam dengan baik sejatinya berawal dari adanya doktrin “persaudaraan semakluk”. Di dalam Al-Quran, Allah Swt. menyebut semua hewan melata di muka bumi dan yang terbang di udara, sebagai “umat-umat” layaknya manusia. “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan umat-umat juga seperti kamu …” (QS Al-An’âm, 6: 38).

Itu artinya, alam sekitar pun dengan segala komponennya, termasuk ke dalam pihak-pihak yang layak mendapat kasih sayang dan penghormatan yang proporsional seperti halnya manusia. Bahkan, sebagai khalifah Allah di muka bumi, manusia dituntun untuk lebih proaktif dan kreatif dalam menebarkan kebaikan dan keharmonisan dibandingkan makhluk lainnya.

Kegagalan manusia dalam menjalankan peran dan fungsinya tersebut, bukan hanya tercela, tetapi juga membawa konsekuensi buruk bagi yang bersangkutan di dunia dan di akhirat; di dunia berupa bencana alam dan di akhirat berupa pertanggungjawaban di hadapan Allah Azza wa Jalla.

Nabi SAW pernah menyatakan bahwa segelas air dan sebutir kurma yang dimakan termasuk amanah yang akan dimintai pertanggungjawababnya oleh Al-Khaliq. “Ini (seteguk air dan sepotong kurma) adalah termasuk nikmat yang akan dimintakan pertanggungjawaban kalian.” (HR Ahmad dan An-Nasa’i)

 

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Tentang Aborsi dalam Islam
  • Doa Pernikahan Agar Penuh Berkah
  • Mengenal Dompet Dhuafa Republika
  • Landasan dalam Membangun Akhlak kepada Allah
  • Fenomena Batu Ponari
  • Menjaga Keimanan dari Bahaya Syirik
  • Mengenal Malaikat dan Tugas-tugasnya
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA