Wasiat Rasulullah dan Akhlak Terhadap Alam
Apakah anda tau bahwa akhlak terhadap alam merupakan salah satu wasiat Rasulullah SAW?. Dalam setiap peperangan, rasulullah SAW selalu senantiasa memperingatkan para pasukannya untuk tetap mematuhi peraturan atau etika - etika yang harus di taati dalam medan yang di jadikan tempat bertempur. Salah satu wasiat yang kemudian diikuti oleh para Khulafaur Rasyidin- adalah larangan untuk menebang pepohonan kecuali untuk strategi perang, hal demikian tertuang dalam Quran Surat Al-Hasyr ayat 5.
Dalam setiap pertempurannya, Rasulullah SAW selalu memperingatkan kita untuk selalu menjaga lingkungan dalam medan pertempuran. Di anjurkan untuk kita tidak merusak tanaman, membunuh bintang unt7uk alasan yang tidak jelas, seprti untuk di makan, meracuni sumber - sumber air. Begitulah wasita Rasulullah SAW untuk kita agar selalu menjaga akhlak terhadap alam lingkungan kita.
Tentun dengan adanya wasiat yang di perintahkan oleh Rasulullah tersebut maka sudah pasti ajaran Islam pun menjunjung tinggi akhlak terhadap alam. Bagi umat muslim tentu haram hukumnya bila kita merusak lingkungan sekitar, bahkan mungkin hal tersebut melanggar perintah agama atau Al Quran. Seperti yang menjadi firman Allah dalam surat Al Araf ayat 56 , "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya.
Dalam agama Islam, tentunya banyak akhlak yang di anjurkan oleh Allah Swt dan di contohkan oleh Nabi Muhammad Saw yang patut kita teladani. Salah satu akhlak tersebut adalah akhlak terhadap alam kita. Akhlak kita terhadap alam tentunya harus dimiliki oleh setiap umat manusia di muka bumi ini. Semua akhlak yang kita tujukan kepada Allah Swt merupakan sesutau yang menjadi kesatuan saling yang berhubungan.
Dengan demikian, ketika seseorang mengabaikan akhlak terhadap alam, semisal merusak, mencemari, menyakiti, atau setidaknya tidak peduli akan kelestariannya, pastilah keimanan orang tersebut tidak sempurna. Tidak dikatakan lurus iman seseorang apabila tindakannya merugikan dan membawa mudharat bagi makhluk Allah Swt lainnya. Maka dari itu, Rasulullah memperingatkan kepada umatnya untuk tidak sembarangan menyakiti mkhluk hidup lainnya yang berada di lingkungan alam, apalgi sampai merusak ekosistem yang ada pada alam tersebut.
Dalam beberapa hadist menyebutkan bahwa ada orang yang beribadah sangat bagus namun ia di anggap tidak baik oleh Nabi Muhammad SAW, karena ia berlaku tidak baik kepada seekor binatang yang merupakan salah satu ciptaan Allah Swt yang merupakan bagian terpenting dari alam.
Sebuah hadits dari Ibnu Umar menyebutkan, "Seorang wanita masuk neraka karena mengikat seekor kucing. Dia tidak memberinya makan dan tidak pula melepaskannya untuk memperoleh makan di bumi." (HR Bukhari Muslim). Itu menjelaskan pada kita, bahwa dengan ibadah kepada Allah Swt saja tidak cukup menjadi jaminan kita untuk masuk surga. Kita juga harus menjaga akhlak terhadapa alam dan seisinya termasuk juga binatang.
Sebagaimana yang sudah kita ketahui bahwa, manusia yang hidup di dunia ini merupakan khalifah di bumi, yang harus menjaga, merawat dan melestarikan kekayaan alam di dunia ini dengan akhlak terhadap alam. supaya apa - apa yang bermanfaat di bumi ini bisa manusia gunakan dengan sebaik - baiknya, tetapi tetap menjaga kelestariannya supaya teru bisa bermanfaat bagi manusia itu pula.
Namun sebaliknya, ada orang yang ibadahnya biasa-biasa saja, sering bermaksiat malah, akan tetapi dinilai baik oleh Nabi SAW karena dia penyayang terhadap binatang dan gemar memelihara lingkungan sekitarnya. Nabi SAW pernah bercerita tentang seorang lelaki yang dengan susah payah mengambil air ke sumur untuk menolong anjing yang kehausan. Padahal ia juga sedang merasakan haus yang dalam, tetapi ia memutuskan untuk menolong seekor anjing itu dan akhirnya ia pun mati dan dia mati dengan keadaan yang dosa - dosanya diampuni oleh Allah Swt, itulah salah satu akhlak terhadap alam.
Karena perbuatannya ini, Allah Swt. memuliakan dia dan mengampuni dosa-dosanya. "Sesungguhnya, Allah Swt. mensyukuri apa yang dilakukannya dan mengampuninya," sabda Nabi SAW. Para sahabat bertanya, "Apakah dengan memperlakukan binatang secara baik kita memperoleh ganjaran?" Beliau pun menjawab, "Setiap perlakukan baik terhadap yang memiliki jiwa ada ganjarannya." (HR Bukhari Muslim). Dengan hadist tersebut dapat kita simpulkan bahwa, kita memang seharusnya untuk menolong mahluk hidup di dunia ini sebagai akhlak terhadap alam.
Anjuran agar setiap Muslim memperlakukan alam dengan baik sejatinya berawal dari adanya doktrin "persaudaraan semahkluk". Di dalam Al-Quran, Allah Swt. menyebut semua hewan melata di muka bumi dan yang terbang di udara, sebagai "umat-umat" layaknya manusia. "Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan umat-umat juga seperti kamu ...." Quran surat Al anam ayat 38. Sudah di pastikan bahwa akhlak terhadap alam kita adalah mahkluk Allah Swt yang diciptakan oleh Allah Swt untuk saling tolong menolong dengan sesama mahkluk yang sejatinya adalah mahkluk ciptaan Allah Swt juga.
Itu artinya, alam sekitar pun dengan segala komponennya, termasuk ke dalam pihak-pihak yang layak mendapat kasih sayang dan penghormatan yang proporsional seperti halnya manusia. Bahkan, sebagai khalifah Allah di muka bumi, manusia dituntun untuk lebih proaktif dan kreatif dalam menebarkan kebaikan dan keharmonisan dibandingkan makhluk lainnya. Kegiatan manusia yang seharusnya proaktif dan menjadi khalifah di dunia ini bukan serta merta menjadi seenaknya saja. Tugas manusia yang menjadi Khalifah di bumi ini memang untuk menjaga, melestarikan dan merawat apa - apa yang ada di bumi ini.
Kegagalan manusia dalam menjalankan peran dan fungsinya tersebut, bukan hanya tercela, tetapi juga membawa konsekuensi buruk bagi yang bersangkutan di dunia dan di akhirat; di dunia berupa bencana alam dan di akhirat berupa pertanggungjawaban di hadapan Allah Azza wa Jalla. Tanggung jawab manusia sebagai Khalifah ini jugalah yang menyebabkan bencana alam terjadi. Sering kali manusia menyalahkan alam yang sudah menjadi tua sehingga bencana terus datang, padahal bukan faktor itu saja yang menyebabkan bencana alam terjadi, tetapi manusia jugalah yang serakah hanya mengambil kekayaan alam tanpa melestarikannya juga itu merupakan akhlak terhadap alam kita di bumi.
Nabi SAW pernah menyatakan bahwa segelas air dan sebutir kurma yang dimakan termasuk amanah yang akan dimintai pertanggungjawababnya oleh Al-Khaliq. "Ini (seteguk air dan sepotong kurma) adalah termasuk nikmat yang akan dimintakan pertanggungjawaban kalian." Hadist Riwayat Ahmad dan An-Nasa'i. Sehingga bisa kita katakan bahwa apa - apa yang kita ambil dari alam adalah akhlak terhadap alam, dan bagaimana kita memanfaatkannya Allah Swt akan meminta pertanggung jawaban kita sekecil apapun itu.
Misi Agama Islam adalah mengembangkan rahmat bukan hanya kepada manusia tetapi juga akhlak terhadap alam dan lingkungan sebagaimana firman Allah Swt yang terdapat dalam Quran surat Al Anbiya ayat 107 sebagai berikut "Tidaklah Kami mengutus engkau Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.".
Pada intinya etika Islam terhadap alam semsta hanya mengajarkan satu hal saja yaitu perintah jangan membuat kerusakan di muka bumi. Namun perintah ini mempunyai makna yang cukup luas mulai dari menjagakebersihan bumi, tidak bersikap sewenang - wenang tehadap alam, tidak mengeksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan sendiri.
Setelah kita mengetahui wasiat Rasulullah terhadap apa yang harus kita ketahui tentang akhlak terhadap alam ini, seharusnya kita sudah bisa merenung apa yang selama ini kita kerjakan terhadap apa yang tela kita kerjakan di bumi kita ini. apa yang telah kita ambil akan di minta pertanggung jawabannya oleh Allah Swt, maka dari itu, akan sangat bijak jika kita menggunakan manfaat yang sudah Allah Swt sediakan yang ada di alam kita ini, dan sudah sepatutnya juga kita bisa menjalankan perintah untuk menjadi khalifah di bumi ini.

