logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Tauhid

Membangun Akhlak Terhadap Allah


Ilustrasi akhlak terhadap allah

Semua ibadah yang dilakukan seorang Muslim, pada hakikatnya merupakan perwujudan dari akhlak terhadap Allah. Artinya, apapun amal yang dia perbuat menjadi cerminan dari tujuan kehadirannya di muka bumi, yaitu untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya (QS Adz-Dzâriyât, 51: 56).

Makna ibadah atau pengabdian ini sangat luas cakupannya, tidak sekadar menyangkut aspek ritual semacam shalat, zakat, puasa, haji, membaca Al-Quran, dan sebagainya- saja, tetapi juga mencakup semua aspek sosial -mulai dari pernikahan, perdagangan, sampai mengurus sebuah negara.

Dengan demikian, tidak ada satu pun aspek kehidupan seorang Muslim yang bisa dilepaskan dari Allah Swt. Hal ini seakan menegaskan kembali bahwa Islam adalah agama yang sangat “teosentris”. Allah Yang Maha kuasa menjadi pusat keimanan dan semua orientasi nilai.

Batasan Menegakkan Akhlak Terhadap Allah

Seseorang tidak dianggap menegakkan akhlak terhadap Allah, apabila perbuatan yang dia lakukan bukan untuk-Nya. Seseorang pun tidak dianggap menegakkan akhlak terhadap Allah, apabila yang dia lakukan bertentangan dengan peraturan yang telah digariskan-Nya.

Inti akhlak terhadap Allah, dengan demikian, adalah lurusnya niat dan selarasnya perbuatan dengan aturan-Nya. Kedua hal fundamental ini terangkum jelas dalam kalimat syahadat atau persaksian yang selalu kita baca setiap hari dalam shalat.  

“Asyhadu allâ ilâha ilallâh, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhû wa rasûluh.” Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul

Kalimat syahadat ini terbagi ke dalam dua bagian, yaitu syahadat tauhid dan syahadat rasul. Kalimat “Tiada Tuhan kecuali Allah” terdiri atas penolakan (negasi) dan penetapan (afirmasi). Ungkapan pertama syahadat adalah “tiada Tuhan” atau “tiada sesuatu bentuk Tuhan apa pun”, dengan penetapan yang sempurna “kecuali Allah”.

Inilah dasar ketauhidan, bahwa tiada sesuatu pun yang layak disembah, dijadikan sumber motivasi, kecintaan, dan diyakini kebenarannya, kecuali Allah Swt, baik itu dalam zat maupun sifat-Nya. Dalam tataran aplikasi, syahadat tauhid akan melahirkan keikhlasan dalam beramal.

Semua yang dilakukan seorang Muslim diniatkan untuk meraih keridhaan Allah. Shalat kita, ibadah kita, hidup dan mati kita hanyalah untuk Allah semata. Sikap inilah yang menjiwai dan melandasi tegaknya akhlak terhadap Allah.

Adapun syahadat Rasul -sebagai bagian integral dari syahadat tauhid- adalah menjadikan Rasulullah SAW dan risalah yang dibawanya sebagai acuan dan model dalam bertindak. Artinya, setiap amal ibadah yang kita lakukan harus sesuai dengan yang dicontohkan dan diperintahkan Nabi Muhammad SAW.

Jadi, dalam sebuah amal, ikhlas saja tidak cukup. Amal yang kita lakukan harus sesuai pula dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Perpaduan antara lurusnya niat dan sesuainya perbuatan dengan syariat, dengan demikian, menjadi faktor utama yang menjiwai dan melandasi tegaknya akhlak terhadap Allah Swt.

Setelah Ikhlas, Harus Bersyukur dan Bersabar  

Untuk membangun akhlak terhadap Allah tak hanya ikhlas saja, kita juga harus selalu bersabar dan bersyukur atas apa yang ditetapkan Allah terhadap diri kita. Karena cara ini kita bisa menjadi hamba yang disayangi Allah. Inilah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as. hingga ia ditetapkan Allah sebagai kekasih-Nya. Sebagaimana yang tercantum di dalam surat An-Nisa, “Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kekasih-Nya.” (QS. An-Nisa: 125)

Di dalam kitab Nasa-ihul Ibad dijelaskan, bahwa ada penyebab Nabi Ibrahim as. dianggkat menjadi kekasih Allah. Berikut ini petikan riwayatnya.

Suatu hari Nabi as. ditanya oleh salah seorang pengikutnya. “Wahai Ibrahim, apa yang menyebabkanmu diangkat menjadi kekasih Allah? Lalu Nabi Ibrahim as. menjawab, “Aku diangkat menjadi kekasih Allah karena tiga perkara. Pertama, Aku lebih mendahulukan perintah Allah dari perintah yag lain. Kedua, aku tidak perna gundah gulana dengan apa yang telah ditetapkan Allah terhadap diriku. Ketiga, aku selalu makan siang dan makan malam bersama dengan tamu”.

Bila diperhatikan riwayat ini, tampak sekali yang menyebabkan nabi Ibrahim menjadi kekasih Allah adalah, karena ia selalu bersyukur dan bersabar. Lihat saja di alasan yang kedua dan ketiga.

Alasan kedua menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim as. selalu sabar dengan apa yang ditetapkan Allah terhadap dirinya. Ia tak akan pernah protes kepada Allah. Yang dilakukan nabi Ibrahim adalah bersabar dengan ibadah yang diperintahkan Allah kepada dirinya. Sebagai contohnya, ketika ia meninggalkan anak (baca; Ismail) dan isterinya (Siti Hajar) di tanah yang tandus dan tak ada air, yaitu tanah suci mekah.

Ketika meninggalkan anak dan isterinya, ia tak pernah memiliki rasa was-was. Karena yang menyuruhnya untuk meletakkan anak dan isterinya di Mekah adalah Allah Swt. Sehingga ia pun dengan sabar menunggu rahasia apa yang diberikan Allah terhadap dirinya dan keluarganya. Ternyata, kesabaran itu membuahkan hasil yang luar biasa. Anak dan isterinya menemukan telaga air zam-zam. Air yang sangat mulia dan memiliki khasiat yang luar biasa.

Alasan ketiga, yaitu berbicara tentang syukur. Nabi Ibrahim as. selalu menjadi orang yang senang berbagi dengan orang lain. Inilah tanda syukur yang luar biasa. Ketika memiliki kenikmatan harta ia tak luput untuk  mengajak orang lain untuk menikmati harta yang diberikan Allah kepadanya. Sebagai buktinya, ia selalu mengajak orang lain makan siang dan makan malam bersamanya. Dalam catatan sejaarah, nabi Ibrahim as. mencari orang yang siap makan bersamanya hingga berjalan 2-3 mil.

Alasan ketiga ini pula yang menyebabkan para malaikat cemburu dengannya. Hingga akhirnya, mereka meminta kepada Allah untuk diizinkan menyaksikan amal apa yang dilakukan Ibrahim as. sehingga begitu mulia di sisi Allah. Ketika turun ke bumi dan ketemu dengan Nabi Ibrahim as. langsung diajak untuk menikmati jamuan makan siang.

Sesampainya di rumah Nabi Ibrahim as. dipersilahkan untuk menikmati jamuan yang sudah disiapkan. Ketika Nabi Ibrahim as. sedang asyik menikmati jamuan makanan, ia merasa heran kenapa kedua orang yang diajaknya makan tidak memakan makanan yang telah disediakannya. Terjadilah dialog antara Nabi Ibrahim dengan dua malaikat tersebut.

“Apa yang menyebabkan kalian tidak memakan makanan yang dihidangkan? Apakah kalian tidak suka dan ingin makanan yang lain?” tanya Nabi Ibrahim as.

“Bukan Ibrahim?” Jawab salah satu malaikat

“Lalu, kenapa tidak dimakan? Marilah kita nikmati rezeki yang diberikan Allah.”

“Bukan kami tidak mau memakan makanan yang kamu hidangkan, Ibrahim. Tapi kami ini memang tidak bisa makan.” Jawab malaikat yang satu lagi.

“Maksudnya?” balas Ibrahim as. dengan cepat.

“Ibrahim! Sebelum kami mohon maaf. Kami ini sebenarnya bukanlah mahluk dari jenis manusia. Kami adalah malaikat Allah. Kami turun ke bumi ini tujuannya adalah untuk melihat amal apa yang kau lakukan hingga begitu mulia di sisi Allah. Namamu selalu disebut-sebut Allah di depan kami. Jelas saja ini membuat kami cemburu. Kami ingin mengetahui apa kelebihanmu. Makanya kami memohon izin kepada Allah untuk turun ke bumi melihat apa yang kamu lakukan.

Jika amal ini memang rutin kamu lakukan setiap hari, maka pantas sekali bila kamu begitu mulia di sisi Allah. Pasalnya, amal ini memang tidak bisa dilakukan oleh malaikat. Kami hanya bisa melakukan amal yang memang ditugaskan kepada kami.”

“Tidak apa-apa. Aku memang selalu melakukan aktivitas ini. Aku memang selalu makan siang dan makan malam bersama dengan tamu. Ini sudah menjadi kewajibanku untuk berbagi dengan orang lain atas nikmat yang diberikan Allah. Tentunya, setelah kebutuhan keluargaku terpenuhi, maka aku mengajak orang lain untuk menikmati sisa harta yang diberikan Allah Swt. Makanya, setiap hari aku mengajak orang makan siang dan makan malam bersamaku.”

Nah, dari sini menjadi jelas bagi kita. Untuk menjadi orang yang berakhlak kepada Allah, selain ikhlas dalam beribadah, juga harus memiliki sikap sabar dan syukur. Sabar dengan apa yang diberikan Allah terhadap diri kita. Juga, bersyukur dengan apa yang telah diberikan Allah Swt.

Maka pantas sekali, bila Umar bin Khattab mengatakan, apabila ia ditimpa musibah ia tetap memandangnya sebagai nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Berikut petikan riwayatnya yang terdapat di dalam kitab Nasha-ihul ibad.

“Demi Allah, tidaklah Allah mengujiku kecuali di dalamnya terdapat empat nikmat yang lebih layak disyukuri. Pertama, masih untung Allah menguji diriku, bukan agamaku. Kedua, masih untung Allah memberikan ujian tidak lebih besar dari ini, jika lebih besar tentu aku tak sanggup menanggungnya. Ketiga, masih untung ujian ini tetap membuka keridha Allah terhadap diriku. Jika tidak, kepada siapa lagi aku meminta keridhaan. Keempat, masih untung Allah menyediakan pahala yang besar dibalik ujian yang diberikannya, yaitu pahala sabar.”

Inilah kajian sederhana tentang akhlak terhadap Allah. Semoga artikel ini bermanfaat.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Tiga Kunci Karakteristik Agama Islam
  • Tugas Manusia Sebagai Khalifah di Bumi
  • Renungan Islam - Akhlak Islami
  • Ilmu Hati - Membersihkan Hati dan Menajamkan Mata Batin
  • Materi Akhlak Bagi Pribadi Mulia
  • Contoh Naskah Pidato Agama Islam
  • Membangun Bangsa dengan Ahklak Islami
  • Materi Kultum Islam - Manfaat Puasa bagi Tubuh dan Mental Manusia
  • Konsultasi Agama: 30 Menit Mengenal Islam
  • Akhlak Islam Adalah Tuntutan Iman
  • Menengok Gambaran Hari Kiamat untuk Memperkuat Iman
  • Misteri Kehidupan Setelah Mati
  • Tips Membangun Akhlak Mulia
  • Pergeseran Akhlak Manusia di Era Modern
  • Spirit Menjalankan Kehidupan yang Islami - ANNEAHIRA.COM
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA