Kearifan Akhlak Terhadap Lingkungan
Bencana alam kerap terjadi di seluruh dunia, terutama di Indonesia. Anehnya, setiap bencana terjadi, masyarakat sibuk mencari siapa yang salah. Datangnya bencana boleh jadi suratan takdir Illahi. Bencana juga boleh jadi merupakan ekspresi alam yang sedang marah. Jika alam memang marah, lantas kenapa ia semarah itu?
Tanpa disadari kita berperan dalam perusakan alam. Akhlak kita seringkali tidak memperdulikan kelestarian lingkungan. Ya, semua berawal dari akhlak yang tidak terkendali. Sikap serakah, tak acuh, ceroboh, boros, dan jorok merupakan cerminan akhlak yang merusak lingkungan. Untuk itu, diperlukan suatu kearifan akhlak terhadap lingkungan.
Akhlak Perusak Lingkungan
1. Serakah
Keserakahan merupakan pemicu utama kehancuran lingkungan. Hutan dibabat, pasir dikeruk, minyak terus-menerus dipompa keluar, batu mulia ditambang, dan seterusnya.
Bagi para penguasa ekonomi, berlakulah prinsip greedy is good (serakah itu baik). Namun, tidak demikian jika kita memegang teguh akhlak bijaksana. Bukankah agama telah menyiratkan dengan jelas bahwa serakah adalah perbuatan iblis.
2. Sikap Tak Acuh
Sikap tak acuh seringkali tidak kita sadari. Hal-hal kecil yang bisa merusak lingkungan, seperti penggunaan kertas tisu dan plastik, sering kita abaikan.
Kertas tisu terbuat daru serat kayu. Artinya, semakin banyak kita menggunakan tisu, semakin banyak pohon yang ditebang. Padahal, kertas tisu bisa diganti sapu tangan.
Demikian juga plastik. Setiap kita membeli makanan kecil selalu dibungkus plastik. Bahkan, membeli cabai dan terasi untuk sambal pun harus dibungkus plastik. Plastik bekasnya dibuang ke alam dan mengendap selama ratusan tahun. Padahal, selain plastik, beberapa barang bisa dibungkus kertas bekas dan daun tanaman.
3. Ceroboh
Ceroboh artinya berbuat sembarangan. Buang sampah sembarangan, menggunakan air sembarangan, berkendara sembarangan, dan seterusnya.
Sikap ceroboh ini sering merusak lingkungan. Misalnya, membuang puntung rokok ke tempat sampah tanpa dimatikan sering memicu kebakaran. Menyambung kabel secara asal-asalan juga sering menjadi faktor penyebab kebakaran.
4. Boros
Sikap boros juga sering merusak lingkungan. Bukan cuma merusak ekonomi karena harus mengeluarkan ekstra biaya, melainkan merusak lingkungan karena kita “mengambil” lebih banyak dari alam.
Boros listrik, boros bahan bakar, boros air, semuanya hanya membuang-buang energi. Padahal, energi itu bisa kita simpan untuk anak cucu kelak. Di sisi lain, agama pun telah melarang kita untuk boros dan berlebihan karena segala sesuatu yang berlebihan tidak akan membawa kebaikan.
5. Jorok
Sikap jorok sudah jelas tidak mempedulikan kebersihan. Padahal, Tuhan lebih senang pada segala yang bersih. Selain itu, kebersihan adalah sebagian dari keimanan.
Orang beriman yang mencintai kebersihan tentu saja tidak akan senang dengan lingkungan yang kotor. Dia juga tidak akan senang berada di lingkungan yang tercemar.
Selanjutnya, orang beriman akan bertindak sebagai reaksi terhadap lingkungan kotor tersebut. Reaksinya akan berbeda sesuai tingkat keimanannya.
Jika keimanannya tinggi, dia akan melakukan aksi nyata, seperti memungut sampah, membuat karya yang nyata untuk menyelamatkan lingkungan, dan sebagainya.
Jika imannya sedang, dia akan bicara, seperti mengingatkan orang untuk menjaga lingkungan, menulis anjuran menjaga lingkungan, membuat larangan membuang sampah sembarangan, dan sebagainya.
Jika dia tidak mampu, cukuplah baginya menunjukkan rasa tidak senang terhadap segala bentuk perusakan lingkungan itu di dalam hati. Namun, tentunya sikap ini mencerminkan keimanan yang lemah.






