Pernyataan Aku Cinta Dia dalam Lagu dan Cerita Remaja
Dalam hidup, Anda tentu pernah menggunakan pernyataan 'aku cinta dia', bukan? Ya, 'aku cinta dia' merupakan sebuah pernyataan dengan kekuatan yang sungguh luar biasa. Saat pernyataan tersebut diucapkan, rasanya segala beban yang menggelayut di dada ikut tumpah bersamaan dengan keluarnya pernyataan tersebut.
Mengapa beban? Karena seseorang yang mengatakan atau mengeluarkan pernyataan 'aku cinta dia' berarti orang yang bisa dikatakan sedang memiliki masalah, memiliki beban hidup. Dia akan menyampaikan pernyataan 'aku cinta dia' kepada orang ketiga, bukan pada orang yang dicintainya.
Masalah atau beban hidup di sini, tentu saja sangat beragam. Bisa masalah kecil, bisa juga masalah besar. Orang dengan masalah kecil biasanya akan mengeluarkan pernyataan 'aku cinta dia' saat sedang membicaraakan lelaki atau perempuan yang dicintainya kepada seorang teman. Dia memiliki sedikit masalah sehingga hanya mampu mengatakan 'aku cinta dia' pada teman dekatnya, dan bukan mengatakan 'aku cinta kamu' pada lelaki atau perempuan pujaannya.
Sementara orang dengan masalah yang cukup berat, biasanya akan mengutarakan pernyataan tersebut kepada orangtua lelaki atau perempuan yang dicintainya karena hubungan yang tidak direstui.
Cara mengutarakan pernyataan 'aku cinta dia' sangat beragam, ada yang mengutarakannya melalui sebuah lirik lagu, ada juga yang mengutarakannya melalui sebuah cerita. Berikut ini akan penulis hadirkan dua cara pengutaraan penyataan 'aku cinta dia' dalam sebuah lagu dan cerita.
Aku Cinta Dia dalam Sebuah Lagu
pernyataan aku cinta dia bisa kita jumpai dalam banyak lirik lagu. Salah satu yang bisa jadi familiar dengan telinga Anda adalah 'aku cinta dia' dalam lagu Krisye yang dinyanyikan ulang oleh Gita Gutawa. Berikut adalah contoh pernyataan 'aku cinta dia' dalam sebuah lagu.
Aku Cinta Dia
di saat kau berjalan
di muka rumahku, penuh gaya
tersita pandanganku hingga ku terpesona
siapakah dirimu hatiku ingin tahu segera
reff:
hati yang berbunga
pada pandangan pertama
oh Tuhan tolonglah
aku cinta, aku cinta dia
di manakah rumahmu
siapakah namamu, sebutkanlah
kuingin berkenalan, terimalah salamku
gayamu dan wajahmu, terbawa dalam mimpi
diriku, dimabuk asmara
Aku Cinta Dia dalam Sebuah Cerita
banyak yang telah mengutarakan pernyataan 'aku cinta dia' melalui sebuah cerita yang menyentuh. Berikut ini adalah salah satu contohnya.
Pernah Aku Cinta Dia
Miana hanya tersudut di antara tembok gang yang merata. Dia mengintip, dan hampir mirip menguntit bayangannya sendiri. Seakan tidak tersadar, matanya terus terpaku pada satu arah di seberang jalan tempatnya berdiri. Jauh, namun jelas terlihat. Di mana seorang pria paruh baya tengah bersenda gurau dengan wanita yang asing baginya.
Namun suara tawa itu terdengar jelas di telinganya, mirip suara yang didengarnya dari percakapan beberapa hari yang lalu. Sebuah perjanjian yang menjanjikan. Antara pria paruh baya yang dikenalinya, dan wanita yang dicurigainya. Kini wanita itu hanya memiliki satu nama, satu panggilan, satu sebutan, yang ada pada hati Miana. Seorang perayu.
***
Dilihatnya seorang wanita tengah bersandar di kursi sudut yang terlihat lapuk. Miana membuka sepatunya dan hanya menatapnya sekilas, setelah itu kembali mengurai tali-temali yang melilit sepatu hitamnya. Ia hanya merasakan kalau wanita itu tengah berada di belakangnya. Jauh. Menatap dengan tatapan kosong. Meskipun Miana telah melempar sepatunya ke sudut ruangan dengan suaranya yang keras. Wanita paruh baya itu tetap tidak bergeming…
“Kenapa ibu diam?”
Hening. Tak ada suara yang menjawab. Miana menatap wajah wanita yang dipanggilnya ibu itu. Dilihatnya mata yang terpejam. Bukan tertidur. Hanya menutup pikiran.
“Mengapa ibu terdiam?”, ujarnya mengulang. Namun, suara yang menjawab tak kunjung datang. Dia kembali mengulang perkataannya yang lantang. Yang mirip dengan sebuah ancaman ketimbang pertanyaan. “Mengapa ibu terdiam? “Mengapa ibu terdiam? “Mengapa ibu terdiam “Mengapa ibu terdi….”
“Diam!!”
Miana diam dalam tatapan. “Seharusnya ibu katakan itu dari awal.” Ujarnya sedikit terperangah dengan teriakan ibunya.
“Ya, diam dan lihatlah. Hanya itu yang perlu kau lakukan….”
“Meskipun ayah melakukannya?”, ucap Miana.
“Ya.” Jawab ibunya.
“Meskipun ayah dengannya dan ibu merasa sakit?”
“Ya.”
“Meskipun tidak ada lagi pria yang dipercaya?”
“Ya. Pergilah. Ibu sudah tak tahan mendengarnya.”
“Ya. Karena aku sudah melihatnya. Sama seperti ibu…”
Miana beranjak pergi memasuki kamarnya. Meninggalkan wanita yang menatap kosong ke arah di mana ‘sang surya’ mulai membuatnya terbakar.
***
"Aku membenci laki-laki,” begitu ujarnya. Setelah gagal menikmati masa remajanya dengan laki-laki kesatu, kedua, ketiga, dan seterusnya. Pertama hanya segelintir permainan. Kedua pengabaian yang sempurna. Ketiga sosok yang menjauh, dan seterusnya ketidakhirauan yang dibalut harapan. Miana sakit. Disakiti. Dan meraung habis-habisan.
Sedang kawannya hanya berkomentar, “Hei!.Ini hanya kesenangan pada masa remaja. Kau terlalu berlebihan menanggapinya. Kau akan menemukan penggantinya.”
“Apa ibuku juga?”, tanyanya.
“Apa?”, kawannya tak mengerti. Hanya menatap Miana yang melenggang pergi. Barangkali ini kali penghabisan di mana Miana merasakannya. Seorang anak laki-laki tengah mempermainkannya. Dalam harapan yang berbunga, kemudian dalam kekecewaan yang meraja.
Dia enggan berkata, enggan menjawab. Dan dirinya berlalu dalam waktu!
***
Ada yang sama dengan dirinya. Satu masa, satu rasa, dan satu tanggungan nasib. Miana mengenalnya dalam ikatan. Dalam kesatuan yang mendalam, dalam pertemanan yang berkembang. Seseorang itu disebut dengan panggilan Gadis.
"Kau cantik”, ujar Miana merajuk manja.
“Apa aku harus mengatakan kalau kau tampan?”, Tanya Gadis kembali merajuk.
“Tidak. Kita sama.” Jawab Miana tersenyum dalam semu yang memerah. Dirasakannya perasaan yang sering ditemuinya, namun selalu dikatakan oleh setiap orang baru merasakannya. Seperti pertama kali kembali.
‘Bukankah perasaan ini cinta?’, ujarnya dalam hati.
“Ikut aku…”, kata si Gadis meraih lembut lengan Miana. Mereka bercanda, bergurau, tertawa, saling menatap, saling memberikan senyuman, dan Miana merasakan sesuatu hal yang berbeda dan terasa nyata. Dia tidak takut, ataupun merasa ragu. Baginya, ‘Bukankah cinta tak memandang apapun?’
Beberapa hari, beberapa minggu, dan beberapa waktu. Gadis bertanya bukan dalam gurauan yang canda.
“Kamu pernah jatuh cinta?”, ujarnya.
“Ya. Aku pernah jatuh cinta.”
“Katakan. Pada siapa kamu pernah jatuh cinta?”
Miana menghela napas dalam.
“Pada ayahku yang aku banggakan, aku cinta dia, dia cinta pertamaku yang menggetarkan, kekasih lamaku yang mencengangkan, dan beberapa pecundang yang merebut perhatianku. Aku pernah jatuh cinta pada mereka semua.”
“Lantas?”
“Lantas??”, Miana balik bertanya. “Lantas itu hanya ‘pernah’, jika dikatakan ‘pernah’ itu artinya telah berlalu.” Lanjut Miana kemudian.
Miana menatap Gadis lama. Dadanya berdetak dalam rima khayalannya.
“Lantas?” Gadis kembali bertanya. Dia membalas tatapan Miana dalam.
“Bukankah cinta tidak memandang hal apa pun?” ucap Miana. Matanya teduh menyusuri setiap helai wajah Gadis.
“Kali ini kamu bukan ‘pernah’ jatuh cinta. Tetapi ‘sedang’ jatuh cinta. Benar bukan?” tanya Gadis lirih. Miana tersenyum mengangguk.
“Kau mencintaiku?” kembali Gadis bertanya lembut. Diraihnya tangan Miana dan didekapnya erat. Miana menunduk terlihat mirip malu.
“Sahabat?”, ucap Gadis.
“Cinta.” Miana berkata.
Sedang Gadis tertawa lirih, “Ya. Cinta,” ujarnya kemudian.
Mereka melenggang bergandengan. Bukan sahabat ataupun teman. Tetapi sesuatu yang dikatakannya perasaan cinta.
***
“Ada seorang perempuan yang menunggumu di depan gerbang”, ujar kawannya. Miana terperangah. Disambarnya tas yang berat. “Temanmu?” tanya kawannya lagi.
“Pacarku,” jawab Miana seraya melewati kawannya.
Nah, itulah dua cara mengutarakan pernyataan 'aku cinta dia' yang paling sering dilakukan seseorang. Cara mana yang pernah Anda coba?






