Puisi Aku Karya Chairil Anwar
Ilustrasi aku karya chairil anwar
Puisi berjudul AKU karya Chairil Anwar semakin meneguhkan penyair ini sebagai seorang seniman kontroversial. Coba perhatikan bagaimana Chairil Anwar menuangkan gagasannya :
Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Cara Chairil Anwar menuangkan gagasan dalam bentuk puisi seperti itu memang tidak lazim pada angkatan pujangga sebelumnya, bahkan dengan sesama pujang angkatan 45 pun, cara Chairil Anwar ini juga berbeda sehingga selalu mengundang kontroversi.
Dalam khasanan sastra Indonesia, dengan sendirinya ketika berbicara tentang pujangga angkatan 45 maka tidak terlepas dari sosok Chairil Anwar. Ia penyair yang kontroversial pada masanya, dari diksinya (pilihan kata) untuk tiap-tiap karyanya hingga gaya hidupnya yang bohemian. Terlepas dari itu, puisi Aku karya Chairil Anwar berhasil membakar semangat para pemuda untuk berjuang membebaskan diri dari imperalisme Jepang.
Puisi Aku dibuat Chairil Anwar pada tahun 1943 pada masa Jepang menguasai Indonesia. Puisi ini merupakan bentuk kebencian Chairil pada pasukan Jepang yang banyak membuat warga Indonesia menderita. "Aku" juga merupakan hasil dari pengamatan Chairil selama bergaul dengan para tokoh pemuda pergerakan.
Seperti yang dikisahkan oleh Syumanjaya dalam karya tulisnya bertajuk "Aku", Chairil tiba-tiba merasa gelisah dan secara lancar menuliskan baris demi baris puisi "Aku" di hadapan tokoh pemuda dan seniman seperti Armijn Pane dan Sudjoyono.
Siapa sebenarnya Chairil Anwar ini ? Chairil Anwah lahir pada 26 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara. Dalam usianya yang masih belia yakni 26 tahun, Chairil Anwar meninggal di Jakarta, tepatnya 28 April 1949, belum empat tahun negeri Indonesia merdeka. Cara Chairil Anwar mengekspresikan pikiran dan perasaannya melalui puisi, memang sangat berbeda. Tidak mengherankan bila H.B Jassin kemudian menobatkan Chairil Anwar sebagai pelopor penyair modern dari Indonesia sekaligus sebagai penyair dan pelopor pujangga angkatan 45 bersama dengan Rivai Apin dan Asrul Sani. Dalam masa singkatnya bergelut dengan dunia kepenyairan, diperkirakan Chairil Anwar telah menulis 96 karya termasuk di dalamnya tak kurang dari 70 puisi.
Karya Chairil Anwar memang berbada untuk jamannya, bahkan dalam pemilihan tema sekalipun sehingga seringkali mengundang multi interpretasi. Banyak yang mengira perbedaan Chairil Anwar baik dari diksi maupun pemilih tema sebagai buah dari minat bacanya yang baik.
Sebagai anak tunggal pasangan Toeloes dengan seorang perempuan bernama Saleha, Chairil Anwar hidup mapan. Maklum ayahnya saja seorang bupati di Inderagiri. Dari pertalian darah, Chairil Anwar juga masih saudara dekat Perdana Menteri I Indonesia yakni Sutan Syahrir. Keras kepala dan tidak ingin kehilangan apapun yang telah ada dalam genggamannya, merupakan sedikit dari watak Chairil Anwar. Hal ini juga sebagai salah satu dampak sikap kedua orang tuanya yang selalu memanjakan Chairil Anwar. Maklum sebagai anak tunggal dari kalangan berada pada waktu itu, memanjakan menjadi sebuah pembenaran.
Chairil Anwar yang telah bersinggungan dengan berbagai macam bacaan memang tidak bisa disangkal. Ia sekolah terbaik yang bisa dicapai orang pribumi pada zaman penjajahan Belanda, yakni HIS dan kemudian ke MULO. Namun anehnya di tengah gelimang harta, justru pada usia 18 tahun Chairil Anwar tak berniat melanjutkan sekolahnya dan di luar dugaan mengatakan kepada keluarganya bahwa ia akan menjalani hidup sebagai seorang seniman. Langkah yang dianggapnya aneh, maklum ia lahir dari keluarga pejabat. Dan sebagai langkah menuju niatnya untuk menjadi seniman, Chairil Anwar mulai sering membaca karya-karya Archibald, Hendrik Marsman, Edgar du Perron, Rainer Maria Rilke, Auden, Slaurhoff dan penyair dunia lainnya. Kemampuannya dalam bahasa Jerman, Belanda dan tentu saja Inggris, semakin memberli keleluasaan Chairil Anwar untuk menjelajahi dunia kesenian.
Aku Karya Chairil Anwar
Ketika Chairil Anwar selesai menuliskan puisi Aku di papan tulis semua kalangan yang hadir terdiam, meresapi makna dari puisi tersebut. Inilah puisi yang melambungkan nama Chairil Anwar. Bila sebelumnya Chairil Anwar dianggap pujangga bohemian dan dipandang sebelah mata, sejak lahirnya puisi "Aku", ia dianggap salah satu penyair jenius. Dan para tokoh pemuda dan seniman kadang mencandainya dengan memanggilnya binatang jalang.
Seperti karyanya yang lain, puisi Aku menggunakan pilihan bahasa yang lugas, tidak berbunga-bunga, dan langsung ke sasaran. Namun, Chairil tetap jeli dalam memilih kata-kata yang berima seperti binatang jalang dan terbuang; meradang dan menerjang; serta waktuku dan merayu. Aku karya Chairil Anwar ini kemudian laris dideklamasikan murid-murid sekolah pada masa tersebut.
Corak Puisi Aku
Aku karya Chairil Anwar dianggap salah satu puisi perjuangan. Namun, hal ini dibantah oleh beberapa kalangan, seperti sastrawan Asrul Sani. Puisi-puisi Chairil Anwar, menurut ia, kental dengan gaya individualis khas puisi dari Barat. Hal ini mungkin terinspirasi dengan kegemaran Chairil Anwar membaca buku dari Barat seperti Friedrich Nietzsche dan Ernest Hemingway.
Bagi Asrul Sani, puisi Aku karya Chairil Anwar lebih tepat sebagai ungkapan kesedihan dan kekecewaannya terhadap sosok ayahnya. Ayahnya kerap cekcok dengan ibunya dan pernikahan orang tuanya tersebut berakhir dengan perceraian. Ayahnya menikah lagi dan tidak pernah lagi memberikan nafkah bagi ibu dan Chairil sehingga mereka hidup dalam kekurangan.
Terlepas dari kontroversi puisi Aku, apakah bercorak perjuangan atau ungkapan kekecewaan Chairil, sejak karya "Aku"-nya berhasil memikat penggemar sastra dan masyarakat awam lainnya, Chairil Anwar semakin percaya diri melahirkan karya-karyanya yang lain. Karyanya bercorak perjuangan yang populer selain "Aku" yaitu Kerawang Bekasi dan Persetujuan dengan Bung Karno.
Demikianlah tentang puisi Aku karya Chairil Anwar, sosok yang senantiasa mengundang kontroversi baik sebagai pribadi maupun dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya ke dalam bentuk puisi. Chairil Anwar dikenal sebagai seorang penyair yang memiliki vitalitas dalam berkarya, namun sayangnya tidak diimbangi dengan kondisi fisiknya sebagai seorang yang senang mengembara dan hidup tidak teratur. Bayangkan saja sebelum usianya genap 27 tahun, Chairil Anwar yang putra bupati Inderagiri ini justru telah diserang berbagai macam penyakit. Dalam usia sangat muda, Chairil Anwar akhirnya meninggal di Rumah Sakit CBZ, Jakarta tepatnya pada 18 April 1949. Ada yang menduga penyakit yang merenggut nyawa pelopor penyair modern ini adalah kuman TBC.
Sayang penyair berjudul “Binatang Jalang” ini harus mati muda, padahal Indonesia masih sangat menunggu karya-karya lainnya yang memiliki geloran dan berhasil membakar semangat para pemuda untuk angkat senjata dan segera mengusir penjajah dari Indonesia. Ini juga merupakan langkah kontroversi sebagai seorang anak bupati, yang pada waktu itu merupakan perpanjangan dari tangan penjajah.

