logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Profil    Tokoh

Ridwan Kamil dan Indonesia Berkebun: Menciptakan Alam Hijau di Perkotaan


Ilustrasi alam hijau

Daftar Isi
  1. Ridwan Kamil dan Alam Hijau
  2. Indonesia Berkebun
    • Edukasi
    • Ekologi
    • Ekonomi

Bosan dengan pemandangan kota yang itu-itu saja? Jalanan macet, himpitan gedung bertingkat, udara panas, dan polusi di mana-mana, sudah pasti membuat mata kita rindu dengan keberadaan alam hijau. 

Namun persoalannya, jika bicara soal alam nan hijau, benak kita langsung penuh dengan pegunungan, hutan, pedesaan, atau segala sesuatu yang pastinya jauh dari pusat kota.

Zaman dulu, pemandangan serba hijau yang menyejukkan disediakan oleh alam di setiap tempat.

Wah, untuk menikmati kesegaran alam hijau saja harus mengeluarkan biaya dan menghabiskan waktu untuk menempuhnya.

Tentu hal itu akan sangat merepotkan. Cobalah berhenti mengeluh. Zaman dulu, pemandangan serba hijau yang menyejukkan disediakan oleh alam di setiap tempat.

Kini, lahan-lahan semakin menyempit sementara bangunan semakin padat. Manusia pun senantiasa bertambah, saling berebut udara bersih yang ketersediannya minim. Lalu, mengapa tidak kita sendiri yang menciptakan alam hijau di tengah kota? Ide brilian inilah yang ditangkap oleh Ridwan Kamil. 

Ridwan Kamil dan Kecintaanya Terhadap Alam

Emil, panggilan akrabnya, merupakan arsitek yang dikenal sangat peka terhadap lingkungan.

Karya-karya arsitekturnya bukanlah tipikal bangunan megah yang “sombong”, tetapi bangunan yang mewadahi ruang publik untuk masyarakat umum.

Di Bandung, Emil membangun sebuah taman bermain untuk anak yang menampung berbagai kegiatan seni dan olahraga. Tangan dingin Emil juga meninggalkan jejak di daerah Kopo, Bandung.

Ia membuat sumur resapan air untuk mencegah banjir. Emil sangat concern terhadap arsitektur yang memiliki keselarasan antara ruang huni dengan alam hijau.

Keduanya harus dipadukan karena memiliki porsi penting pada sisi psikologi manusia. Memang, gaya hidup manusia zaman sekarang serba terkukung di ruang tertutup.

Manusia berpindah dari satu bangunan ke bangunan lainnya tanpa sempat berinteraksi dengan lingkungan.

Untuk itu, dibutuhkan ruang publik yang mudah diakses dengan area hijau yang penuh dengan pepohonan.

Kesegaran alam hijau di tengah perkotaan tentu bisa membuat penghuninya nyaman dan tenang, tingkat stres pun menurun.

Untuk memenuhi mimpinya dalam menciptakan area publik, Emil menjelajah dan mempelajari 100 kota di seluruh dunia.

a amat terkesan pada London, di mana pemerintahnya giat untuk membangun fasilitas umum dan taman dibanding jalan tol maupun pusat pertokoan.

Salah satu penanda kota yang sehat, yaitu apabila orang tua dan anak-anak tidak merasa ragu atau takut untuk keluar rumah. Mereka akan merasa senang jika banyak ruang yang menyerupai alam hijau di perkotaan sebagai tempat bermain (Ridwan Kamil: 2011).

Pendiri PT Urban Indonesia ini memiliki mimpi untuk membuat alam hijau buatan dalam kotak yang nantinya akan diberi nama Green Box.

Masih terpatri dengan jelas dalam ingatan Anda bagaimana rupa boks telepon umum yang dulu sempat ada di pinggir-pinggir jalan besar? Nah, boks semacam inilah yang ingin difungsikan oleh Emil sebagai ruang relaksasi.

Dinding Green Box akan dirambati oleh tanaman hijau di dindingnya. Begitu masuk ke dalam, suara kicauan burung dan percikan air langsung terdengar.

Begitu pula aromaterapi yang berfungsi untuk menenangkan pikiran. Asyik, bukan? Jika proyek ini nantinya benar-benar terwujud, tidak perlu jauh-jauh ke pegunungan untuk menikmati suasana alam hijau. Cukup keluar kantor sebentar dan mencari Green Box yang terletak di sudut-sudut Kota Jakarta maka penat pun akan terobati.  

Indonesia Berkebun : Alam Hijau yang Mini

Ekonomi

Hasil kebun yang bisa dimanfaatkan tentulah akan membuat penanamnya memiliki potensi ekonomi yang lebih.

Misalkan saja, hasil kebun tersebut tidak dijual, toh sangat bisa dikonsumsi sendiri sebagai pasokan bahan pangan.

Bisa dibilang, modal untuk membangun Indonesia Berkebun benar-benar nol, semuanya merupakan hasil sumbangan dari followers Ridwan Kamil.

Sumbangan itu beraneka ragam bentuknya, mulai dari ilmu berkebun, tanaman, lahan, kompos, pupuk, air, dan banyak lagi. Jika dimanfaatkan dengan tepat, rupanya kekuatan media sosial bisa menghasilkan sebuah gerakan yang positif.

Semangat Ridwan Kamil dalam mewujudkan miniatur alam hijau bagi perkotaan melalui jejaring sosial, mengantarkannya meraih penghargaan “Google Web Heroes” karena sanggup memberikan contoh nyata penggunaan internet sebagai media perubahan.

Pernah melihat iklan Google yang menggambarkan seorang pria membangun sebuah jaringan komunitas berkebun lewat media sosial dan Google Map?

Jika iya, itu berarti Anda telah sedikit mengenal sosok Ridwan Kamil. Ilustrasi iklan yang berulang-ulang tersiar di televisi tersebut bukanlah skenario semata.

Emil, yang memiliki banyak proyek impian tentang pelestarian alam hijau, benar-benar memanfaatkan fasilitas Google Earth untuk mencari lahan-lahan kosong yang sekiranya bisa dimanfaatkan.

Bukan dimanfaatkan sebagai bangunan melainkan sebagai kebun. Berdasarkan kejeliannya melihat banyaknya lahan kosong di kota-kota besar inilah yang membuat Ridwan Kamil berinisiatif untuk membentuk sebuah komunitas yang diberi nama Indonesia Berkebun.

Dalam websitenya, komunitas ini memperkenalkan istilah urban farming yang berfungsi sebagai lahan produktif di perkotaan.

Indonesia Berkebun adalah komunitas yang bergerak melalui media jejaring sosial yang bertujuan untuk menyebarkan semangat positif untuk lebih peduli kepada lingkungan dan perkotaan dengan program urban farming, yaitu memanfaatkan lahan tidur di kawasan perkotaan yang dikonversi menjadi lahan perkebunan produktif hijau yang dilakukan oleh peran masyarakat dan komunitas sekitar serta memberikan manfaat bagi mereka. Untuk informasi selanjutnya buka source: www.indonesiaberkebun.org

Pengutamaan lahan produktif bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya ketahanan pangan.

Jenis tumbuhan yang ditanami kebanyakan berupa sayur-mayur dan buah-buahan. Ini penting agar nantinya setiap orang terbiasa untuk menanam tanaman yang bisa dikonsumsi berkat hasil kebunnya.

Jadi, jika kelak sayur-sayuran dan bumbu dapur kian mahal, masyarakat sudah tidak bingung karena bisa menanam di pekarangan kecilnya sendiri.

Selain tanaman produktif, juga dianjurkan untuk menanam berbagai bunga dan tanaman hias supaya masyarakat awam lebih mengenal jenis-jenis tanaman yang beraneka ragam. Anak-anak pun bisa melihat sendiri secara langsung tanaman yang biasanya hanya dikenal lewat internet atau majalah. Tinggal toleh, alam hijau mini pun tersaji di depan mata.

Indonesia Berkebun didirikan pada November 2010, tetapi gerakan perdananya dilakukan di lahan pinjaman milik pengembang apartemen di kawasan Kemayoran pada Desember 2010.

Gebrakan ini ternyata memicu perhatian banyak pihak karena diberitakan dengan gencar melalui media sosial. Ridwan Kamil, yang memiliki belasan ribu follower aktif meng-update berbagai kegiatan Indonesia Berkebun.

Laiknya virus positif, slogan Markibun (Mari Kita Berkebun) menular ke berbagai daerah. Hingga kini tercatat ada 20 kota di seluruh Indonesia yang memiliki komunitas berkebun. Sebentar lagi, harapan tentang kembalinya alam hijau di Indonesia kembali menyeruak dan tersebar.

Sebagai sebuah komunitas, Indonesia Berkebun juga mewadahi kegiatan bertukar ilmu pengetahuan dalam Akademi Berkebun. Akademi ini bukan berupa bangunan sekolah, tetapi sebuah ruang di dunia maya tempat berbagi ilmu tentang berkebun. Inilah kekuatan media sosial yang berhasil menghimpun berbagai individu dalam mencapai visi bersama, menciptakan alam hijau di wilayahnya masing-masing.

Berkat keberadaan media sosial inilah, para pakar pertanian dan perkebunan rela “turun gunung” ke kota-kota yang tergabung dalam Indonesia Berkebun untuk menularkan ilmunya secara gratis. Melalui Akademi Berbagi ini, diharapkan setiap anggota mendapat keuntungan, antara lain sebagai keuntungan ekonomi, edukasi dan ekologi.

Edukasi

Setiap peserta diberi pemahaman mengenai tata cara pertanian organik. Dalam kegiatan ini, peserta tidak diperbolehkan menggunakan pupuk buatan dan pestisida yang tidak ramah lingkungan. Berbagai perlengkapan pertanian, seperti benih, pupuk, kompos, dan semprotan hama yang mahal cukup membuat masyarakat awam enggan berkebun. 

Ekologi

Tanah yang digunakan untuk bertani organik lambat laun akan menjadi subur dan menjadi sarana resapan air. Banjir pun teratasi karena air hujan terserap ke tanah, tidak meluber ke jalan umum.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Profil Penyair Besar Yunani Homer
  • Kisah Payudara Terbesar Di Dunia
  • Keteladanan Sang Jenderal Besar Sudirman
  • Bicara Keberhasilan Hidup Ala Anand Krishna
  • Biografi Maradona - Si Bengal dari Argentina
  • Biografi Tokoh Sunda
  • Tokoh Betawi Si Pitung, Robin Hood-nya Indonesia
  • Bruce Lee, Sang Legenda Kung Fu
  • Kiichiro Toyoda - Tokoh Jepang Pendiri Toyota
  • Biografi Tokoh Pendidikan: KH. Ahmad Dahlan, Sang Pencerah yang Inspiratif
  • Tokoh Sejarah Islam Setelah Rasulullah
  • Fundamentalisme Islam dan Tokoh Ikhwanul Muslimin
  • Karikatur Gus Dur: Hayati Kearifan Gus Dur Lewat Goresan
  • Wawancara Obama
  • Menyimak Cerita dalam Biografi Hatta
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA