logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Budaya    Budaya Sunda

Alat-Alat Musik Tradisional Sunda


Alat musik ini sangat di gemari di berbagai dunia

Daftar Isi
  1. Alat musik Angklung
  2. Alat musik Calung
  3. Alat musik Karinding
  4. Alat musik Kacapi

Alat-alat musik tradisional Sunda adalah alat musik yang paling populer di antara alat musik tradisional lainnya. Di mana alat-alat musik ini sering digunakan untuk menghasilkan musik kotemporer.

Selain masih dijaga keberadaannya, alat-alat musik ini juga termasuk sangat mudah jika dikombinasikan dengan berbagai alat musik modern.

Di Jawa Barat sendiri, para anak mudanya mendirikan perkumpulan sebagai pelesatarian budaya Sunda. Mereka bangga terhadap alat musik tradisional ini. Sering terdapat acara yang diselenggarakan dengan menampilkan permainan musik dengan menggunakan alat musik tradisional, baik secara kontemporer maupun tradisional.

Berikut ini adalah alat-alat musik tradisional Sunda yang sering dipergunakan dalam berbagai acara musik oleh para anak muda di daerah Jawa Barat.

Alat-Alat Musik Tradisional - Angklung

Seperti halnya alat musik tradisional pada umumnya, angklung merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari bambu. Cara memainkannya adalah menggoyang-goyangkannya sehingga terjadi benturan dari badan pipa bambu yang akan menghasilkan getaran menjadi bunyi yang harmoni.

Alat musik bambu ini biasanya dibuat dari bambu putih (awi temen) dan bambu hitam (awi wulung) yang dibentuk menjadi tabung-tabung sebagai ruas yang beragam jenis, mulai yang terkecil hingga terbesar.

Dalam sejarahnya, konon Angklung dimainkan masyarakat di Jawa Barat dalam ritual untuk menarik perhatian Dewi Padi (Sri Pohaci) agar turun ke Bumi dan menyuburkan tanaman padi di sawah.Ritual ini pada akhirnya melahirkan musik dan lagu yang khas.

Selain menjadi ritual untuk penghormatan terhadap Dewi Padi, lagu yang dihasilkan juga menjadi penolak bala dan bencana (ritual nyinglar) agar sawah mereka terhindar dari bencana dan hama. Pada saat ini angklung telah dikenal tidak hanya hingga ke luar pulau Jawa, tapi juga ke negeri luar.

Alat-Alat Musik Tradisional - Calung

Dapat dikatakan bahwa alat musik ini sangat mirip dengan angklung. Bedanya, jika memainkan angklung caranya adalah menggoyang-goyangkannya, maka calung harus ditabuh.

Caranya adalah dengan memukul batangnya yang terdiri atas ruas-ruas, serta memiliki susunan berdasarkan titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Untuk membuat calung, biasanya digunakan bambu hitam (awi wulung) atau bambu putih (awi temen).

Dalam belantika musik tradisional Sunda, terdapat dua jenis bentuk calung Sunda, yaitu calung jinjing dan calung rantay. Calung jinjing memiliki deretan bambu bernada yang disatukan memakai sebilah kecil bambu (paniir). Calung jinjing memiliki lima atau empat buah anak calung.

Di mana calung kingking yang terdiri atas 12 tabung bambu, calung panepas yang terdiri atas 5, 3, dan 2 tabung bambu, calung jongjrong terdiri atas 5, 3, dan 2 tabung bambu, serta calung gonggong yang terdiri atas 2 tabung bambu.

Calung dulu dan calung sekarang memiliki bentuk agak berbeda.

Dewasa ini, calung jinjing dibuat sedikit berbeda. Ada calung yang hanya menggunakan satu buah calung kingking, dua buah calung panempas, serta satu buah calung gonggong, dan tanpa adanya calung jongjrong.

Untuk memainkannya, calung harus dipukul mengunakan pemukul yang dipegang dengan tangan kanan. Di mana tangan kiri menjinjing atau memegang alat musik tersebut.

Calung rantay memiliki bilah tabung yang dideretkan dengan tali kulit waru berjumlah 7 ruas bambu. Mulai dari ukuran terbesar hingga terkecil. Untuk memainkannya adalah dengan memukulnya menggunakan 2 pemukul yang dipegang oleh kedua tangan sambil duduk bersila.

Alat-Alat Musik Tradisional - Karinding

Alat musik tradisional ini telah ada dalam kehidupan masyarakat Sunda sejak abad ke-15. Berbeda dengan alat musik tradisional Sunda lainnya, alat musik ini sangat kecil, dengan ukuran 10 X 2 cm dan terbuat dari bambu atau pelepah pohon Enau (kawung).

Berbeda dengan alat musik tradisional lainnya, yang digunakan sebagai ritual, pada zaman dahulu, alat musik ini digunakan untuk menarik perhatian lawan jenis. Untuk memainkannya tidak hanya dibutuhkan keahlian khusus, tapi juga harus menggunakan kepekaan rasa dari dalam hati. Suara yang dihasilkan juga sangat unik, mirip seperti bunyi serangga.

Cara memainkannya juga sangat unik, yaitu dengan mendekatkannya ke mulut dan gunakan jari untuk memukul salah satu ujungnya. Nada yang dihasilkan juga berbada-beda, tergantung pada bentuk rongga mulut peniupnya.

Alat-Alat Musik Tradisional - Kacapi

Kacapi merupakan alat musik tradisional yang menghasilkan nada untuk musik klasik. Proses pembuatannya tidaklah mudah. Bahan bakunya berasal dari kayu kenanga yang sebelum dibuat menjadi kecapi harus harus direndam terlebih dahulu selama tiga bulan. Senarnya terbuat dari kawat suasa yang merupakan logam campuran tembaga dan emas. Akan tetapi, karena harganya sangat mahal, maka saat ini senar kecapi hanya dibuat dari kawat baja.

Kacapi Sunda hanya mempunyai 5 tangga nada pentatonis yang terdiri atas Da, Mi, Na, Ti, La. Biasanya alat musik ini dimainkan bersama suling Sunda. Di mana alat-alat musik tradisional tersebut jika disatukan dapat menghasilkan harmonisasi nada yang sangat memesona dan membuat kita teringat akan kampung yang sunyi dan permai.

Kacapi Sunda terdiri atas berbagai jenis, yaitu sebagai berikut.

Jenis-jenis Keacapi
Kacapi Parahu. Kacapi ini berbentuk kotak resonansi. Di mana pada bagian bawahnya terdapat lubang resonansi yang berfungsi sebagai tempat keluarnya suara. Sisi-sisinya berbentuk menyerupai perahu. Pada zaman dahulu, pembuatan kacapi ini langsung dipahat dari bongkahan kayu.
Kacapi Siter. Kacapi ini berbentuk kotak resonansi yang memiliki bidang rata dan sejajar. Tidak berbeda dengan kacapi parahu, kacapi ini juga memiliki lubang pada bagian bawahnya. Akan tetapi, bagian sisi bawah dan atasnya berbentuk trapesium.

Pada kedua kacapi tersebut, tiap dawainya diikat pada suatu sekrup kecil yang berada di sisi kanan atas kotak. Di mana mereka dapat ditala dengan berbagai sistem, seperti pelog, sorog/madenda, atau salendro. 
Berbeda dengan kacapi saat ini, yang pembuatannya dengan cara melekatkan sisi-sisi enam bidang kayu menggunakan bidang kayu. Berdasarkan fungsinya, dalam mengiringi musik, kacapi dimainkan sebagai kacapi indung dan kacapi anak (kacapi rincik).

Penggunaan Keacapi
Kacapi indung yang digunakan biasanya merupakan kacapi besar yang memiliki 18 atau 20 dawai. Fungsinya adalah sebagai pemimpin musik yang akan menjadi penentu tempo serta memberikan intro, bridges, dan interlude. 
Kacapi rincik atau kacapi anak yang digunakan biasanya memiliki ukuran yang lebih kecil, dengan jumlah dawai mencapai 15. Fungsinya adalah untuk mengisi ruang antarnada dengan frekuensi-frekuensi tinggi, sehingga dapat memperkaya iringan musik.

Alat musik tradisional sudah seharusnya dilestarikan karena merupakan salah satu kekayaan bangsa kita yang membuat Indonesia dikenal akan keindahan seninya, terutama pada seni musik. Alat-alat musik tradisional seolah membuktikan, bagaimana keindahan alam dapat menghasilkan harmonisasi nada dan lagu yang indah. Hal itu juga yang membangun kebudayaan bangsa kita. 

Masyarakat Bandung, terutama anak-anak mudanya melakukan pelestarian alat-alat musik tradisional Sunda sebagai bentuk rasa cinta dan bangganya terhadap tataran Sunda, walaupun tidak dipungkiri bahwa mereka juga mempelajari alat musik modern. Akan tetapi, hal itu tidak lantas membuat mereka merasa alat musik tradisional Suda adalah alat musik yang ketinggalan zaman.

Banyak sekali musisi muda yang kemudian dengan kreativitasnya, berusaha untuk menyatukan berbagai nada dan melodi yang dihasilkan alat musik tradisional Sunda dan modern untuk menghasilkan nada baru yang lebih bagus. Di mana kemudian muncullah aliran musik kontemporer yang saat ini sangat disukai oleh musisi di Bandung.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Rekam Jejak Sejarah Kerajaan Mataram
  • Pantun Sunda : Kebudayaan Sunda yang Masih Bertahan
  • Lagu Pop Sunda: Benarkah Dicintai Orang Sunda?
  • Mengenal Kebudayaan Suku Sunda
  • Nama Waktu Sehari Semalam Dalam Kebudayaan Sunda
  • Pengertian Calung, Jenis Calung, dan Fungsinya
  • Pakaian Adat Sunda
  • Tiga Karakter dalam Tari Topeng Jawa Barat
  • Macam-Macam Budaya Jawa Barat
  • Degung Sunda - Irama Tanah Pasundan
  • Sejarah Tembang Sunda
  • Mengenal Upacara Adat di Jawa Barat
  • Mari Mengenal Kesenian Tradisional Jawa Barat
  • Kebudayaan Masyarakat - Kampung Adat di Bandung
  • Penggunaan Bahasa Sunda Sehari-hari
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA