Jangan Baca Kitab Kuning Tanpa Ilmu Alat
Ilustrasi alat
Anda pernah membaca kitab Arab yang tidak ada barisnya tanpa "alat" atau dengan "alat bantu"? Ya, kebanyakan orang menyebutnya dengan nama kitab kuning. Konon, dinamakan kitab kuning lantaran kertas yang digunakan warna kuning dan pembahasan yang dikupas juga pembahasan-pembahasan yang lama. Jika pun ada penambahan, itu hanyalah sedikit penjelasan saja. Mau tahu cara membacanya? Tentu saja Anda mesti menguasai ilmu alat.
Ilmu alat dalam bahasa Arab nama kerennya ilmu Gramatikal. Para ulama terdahulu kerap menyebutnya dengan nama ilmu alat karena ia menjadi alat untuk bisa menangkap maksud dari tulisan Arab yang terdapat di dalam kitab kuning. Membaca kitab kuning tidak bisa sepintas lalu. Anda mesti paham apa yang tersembunyi. Atau, kata yang dibaca punya hubungan tidak dengan kata sebelumnya. Ada yang didahulukan atau dibelakangkan. Semuanya, hanya bisa diketahui oleh mereka yang memahami ilmu alat bahasa Arab.
Apa yang Disebut Ilmu Alat Itu?
Bila yang Anda baca kitab-kitab non fiksi Arab, seperti kitab fikih, tauhid, siroh, dan sebagainya, maka ilmu alat yang diperlukan hanya dua: Nahwu dan Sharf. Namun, jika yang dibaca kitab-kitab fiksi Arab seperti sya’ir, nushush dan sebagainya, maka Anda perlu menambah ilmu alat satu lagi, yaitu Balaghoh.
Karena itu, dalam membaca buku-buku bahasa Arab secara umum yang penting dikuasai ilmu alatnya adalah, Nahwu dan Sharaf. Kedua ilmu tersebut memang harus berbarengan dipelajari. Anda pintar ilmu Nahwu, tapi tak bisa ilmu Sharaf, juga susah, bukan tidak bisa. Demikian halnya, Anda pintar ilmu Sharaf, tapi tak bisa ilmu Nahwu, bisa jadi akan lebih susah lagi. Kedua ilmu alat ini mesti dipelajari.
Melihat Pentingnya Ilmu Alat
Ilmu Nahwu berperan dalam membaca kitab kuning atau kitab Arab sebagai alat untuk mengetahui fungsi kata dalam kalimat tersebut, mengetahui cara memberikan baris akhirnya, dan cara menguraikan posisinya di dalam kalimat yang dibaca. Misalnya, Muhammadun ‘Alimun (Muhammad adalah orang yang berilmu) berbeda membacanya dengan Kana Muhammadan ‘Alimun (Muhammad adalah orang yang berilmu)
Sementara ilmu Sharaf adalah alat untuk mendeteksi apakah kata yang terdapat di dalam kalimat mengalami perubahan, baik penambahan atau pengurangan. Misalnya, Fatimah qaamat (Fatimah telah berdiri) berbeda dengan Fatimah dan Aisyah qaamataa (Fatimah dan aisyah telah berdiri).
Nah, korelasi keduanya terdapat di saat membaca kitab kuning. Anda menjadi tahu dalam ilmu Nahwu, kata ini menunjukkan subjek dari kata kerja yang mengiringinya. Posisinya sebagai subjek diketahui dari alat yang ditunjukkan oleh kata kerja.
Misalnya Fatimah qaamat. Kata fatimah diketahui sebagai mubtada’ (subjek) dalam disiplin ilmu Nahwu, sebab ada alat yang ditunjukkan ta’ ta’nits oleh kata qaamat. Diketahui kata qamaat terdapat ta’ ta’nisnya dengan belajar di ilmu Sharaf. Karena itu, hubungan ilmu Nahwu dan ilmu Sharaf dalam membaca kitab Arab atau kitab kuning menjadi alat yang mesti dimiliki.
Kajian Ilmu Alat Nahwu dan Sharaf yang Mesti Dipelajari
Mempelajari seluruh ilmu Nahwu adalah baik, tetapi dibutuhkan waktu yang lama. Ada lima topik saja yang mestinya Anda pelajari sebagai alat untuk bisa memahami kitab kuning. Jika sudah menguasainya, Anda tidak akan susah membaca kitab atau mendalami ilmu Nahwu.
- Mubtada. ’Mubtada’ adalah isim yang berbaris depan yang terletak di awal kalimat. Mubtada’ adalah alat untuk mengetahui bahwa itu subjek yang membutuhkan adanya khabar. Ciri-ciri umumnya, ia adalah isim (kata benda) yang diawali dengan alif lam dan isim mabni (isim yang baris akhirnya tak berubah-ubah seperti isim dhamir (kata ganti orang pertama), isim isyarah (kata tunjuk) dsb. Misalnya, al-‘aamil fil mashna’i (Buruh itu di perusahaan). Al-‘Aamil adalah mubtada’. Alat yang menunjukkanya adalah ia terletak di awal kalimat dan disempurnakan maknanya dengan mubtada’.
- Khabar. Khabar adalah isim yang menjelaskan maksud mubtada’. Ciri-cirinya dia isim zhahir, jar majrur, dan zharaf. Contohnya adalah al-‘aamil fil mashna’i (Buruh itu di perusahaan). Kata fil mashna’I adalah khabar (predikat). Alat yang menunjukkannya adalah jar majrur.
- Fa’il. Fa’il adalah isim yang maksudnya dijelaskan oleh fi’il (kata kerja). Misalnya qaama al-‘amilu (telah berdiri pegawai). Kata al-‘amilu diketahui posisinya dengan sebab ada alat kata kerja qaama.
- Maf’ul bih. Maf’ul bih adalah objek yang berperan untuk menyempurnakan makna fi’il dan fa’il. Tentu saja, kata kerjanya mesti yang transitif (muta’addi). Misalnya tukarrimud daulatu al-mutafawwiqin (negara menghormati para finalis). Jika tidak ada kata al-mutafawwiqin, maka kalimatnya tidak sempurna. Oleh karena itu, dibutuhkan al-mutafawwiqin sebagai penyempurna makna. Dan, kata kerja (fi’il) yang digunakan adalah kata kerja transitif.
- Idhafah. Idhafah adalah ism (kata benda) yang digandengkan dengan kata benda lainnya sebagai penjelas maksudnya. Jika berdiri sendiri, maka ia masih menjadi kata benda umum. Misalnya, babul fashli (pintu kelas). Andai tidak ada kata “fashli”, maka kata pintu (babun) masih umum. Entah pintu mana yang dimaksud. Sehingga kehadiran “fashli” menjadi alat untuk menjelaskan kata “babun”.
Kalau sudah menguasai kelima topik tersebut, tak susah lagi Anda memahami topik-topik pembahasan dalam Ilmu Nahwu. Kelimanya adalah alat untuk mempelajari seluruh topik pembahasan dalam ilmu Nahwu.
Sementarailmu alat sharaf yang mesti dikuasai adalah mengenai fi’il (kata kerja). Perubahan-perubahan bentuknya layak untuk dihapal. Pasalnya perubahan bentuknya juga memengaruhi perubahan tujuan dan terkadang maknanya. Dari mengenal fi’il, Anda pun akan mudah mempelajari topik pembahasan lain yang ada di dalam disiplin ilmu Sharaf. Fi’il adalah alat untuk menguasai ilmu Sharaf.
Bisakah Membaca Kitab Kuning Tanpa Ilmu Alat?
Membaca kitab kuning tanpa ilmu alat ibarat Anda memasuki kota tanpa membawa peta. Mungkin saja Anda bisa memahami maksud dari kata dengan menggunakan kamus, tapi tetap saja membutuhkan waktu lama. Bahkan, rawan mengalami kesalahan dalam memahami maksud dari teks yang dibaca.
Memang ada kamus yang memuat kata umum yang terdapat di dalam kitab kuning, namun tetap saja susah memahami kitab jika hanya mengandalkan kata yang muncul. Karena dalam bahasa Arab ada kata-kata yang terkadang dia tersembunyi dan hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang mempelajari ilmu alat.
Kamus-kamus yang memuat langsung persis seperti kata yang ada di dalam kitab-kitab bahasa Arab adalah kamus al-Ashri atau yang biasa disebutkan dengan kamus kontemporer yang diterbitkan oleh Multi Karya Grafika. Kamus kontemporer ini cukup besar dan berat. Kamus ini biasa dipakai oleh mahasiswa Indonesia yang sedang menumpuh pendidikan di Timur Tengah.
Kamus al-Mufradat yang disusun oleh Abu Umar Abdillah dan diterbitkan oleh Wafa’ Press. Kamus saku yang memuat 3000 kata ini memang bisa digunakan. Lagi-lagi hanya alat untuk membaca maksud kitab yang tersurat. Jadi, masih memiliki kendala jika tidak menguasai dua ilmu alat yang mesti dipelajari agar mudah membaca kitab kuning.
Meski demikian, kedua kamus yang disebutkan di atas akan membantu Anda menjadi alat ketika membaca koran-koran berbahasa Arab. Karena koran berbahasa Arab tidak banyak memuat maksud yang tersirat. Yang dimaksud tersirat di sini, tidak susah menemukan subjek dan predikatnya. Kalau yang tersirat dalam buku-buku bahasa Arab, misalnya arah balikan dari kata ganti yang digunakan atau ke mana maksud kata penghubung yang digunakan. Ini problematika di dalam kitab kuning secara umum.
Paling tidak, kini Anda menjadi paham bahwa membaca kitab kuning memerlukan alat, yaitu Anda mesti menguasai ilmu Nahwu dan Sharaf. Dengan demikian, ketika membaca kitab kuning, Anda bisa memahami maksudnya dengan benar dan tepat. Sementara kamus menjadi alat kedua yang membantu untuk mencarikan makna atau arti yang tepat untuk konteks bacaan yang sedang dibaca.

