logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Kesehatan    Gaya Hidup Sehat    Kebersihan Tubuh

Gejala dan Penanganan Alergi Susu


Ilustrasi alergi susu

Susu sapi merupakan asupan gizi yang sangat baik untuk tubuh. Akan tetapi,di sisi lain, susu juga bisa menjadi penyebab alergi makanan pada anak dan bayi yang bisa membuat berbagai gejala dan efek dalam tubuh anak-anak dan bayi.

Alergi susu merupakan suatu penyakit yang ditimbulkan akibat adanya reaksi imunologis yang timbul setelah pemberian susu atau makanan olahan yang berbahan dasar susu.

Alergi terhadap susu bisa menajdi kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan karena alergi terhadap susu. Alergi seperti itu juga dapat membawa dampak buruk terhadap anak berupa perilaku hiperkinetik, gangguan konsentrasi, gangguan tidur, dan memperberat autisme.

Deteksi dan pencegahan alergi terhadap susu harus dilakukan dengan cermat, baik gejalanya merupakan akibat alergi susu sapi atau pun susu formula saat seorang ibu menjalankan diet di masa pemberian ASI.

Pertama kali dilaporkan adanya reaksi susu, yakni sekitar 370 masehi yang dalam beberapa dekade belakangan ini menjadi perhatian di dunia kesehatan akibat susu yang sering menjadi penyebab alergi makanan pada anak dan bayi di dunia.

Sekitar anak dan bayi pada umumnya mengalami alergi terhadap protein susu sapi dengan jumlah sebanyak 1 sampai 7 persen. Sementara itu, anak dan bayi yang alergi terhadap susu formula dengan bahan dasar susu sapi berjumlah sebanyak 80 persen.

Pencegahan Alergi Susu

Hal yang bisa dilakukan untuk menangani anak atau bayi yang alergi susu tentu saja dengan menghindarkan susu sapi dari makanan yang mengandung unsur tersebut.

Pengganti asupan gizi bisa dilakukan dengan memberikan susu kedelai sampai akhirnya muncul toleransi terhadap susu sapi. Gejala alergi terhadap susu sapi akan jauh lebih spontan dibandingkan gejala alergi terhadap makanan lain.

Oleh sebab itu, pada usia 2 sampai 3 tahun, seorang anak yang mengalami susu sapi haruslah dihindari dari jenis makanan dan minuman yang berbahan dasar susu sapi. Pencegahan seperi ini harus dilakukan sedini mungkin sebelum terjadinya berbagai dampak negatif akibat alergi tersebut.

Jika dilihat secara sepintas, alergi sepertinya merupakan hal ringan yang biasa-biasa saja dan mudah untuk ditangani. Akan tetapi, reaksi yang ditimbulkan justru akan sangat memengaruhi organ tubuh dan perilaku anak sehingga pertumbuhan dan perkembangannya bisa sangat terganggu.

Pada tahun pertama, anak memiliki sistem imun yang relatif rentan terhadap berbagai penyakit. Oleh sebab itu, jika ada reaksi alergi terhadap suatu makanan, maka hal itu akan berpengaruh terhadap sistem imun anak dalam jangka waktu yang cukup lama.

Walapun alergi ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk orang tua, namun penanganan alergi terhadap anak harus dilakukan secepat mungkin karena anak tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.

Bahkan beberapa waktu dekat, alergi disinyalir dapat menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya. Gangguan sistem organ dan imun di dalam tubuh akan mengakibatkan gangguan fungsi otak sehingga hal itu bisa berpengaruh terhadap kehidupan orang yang terkena alergi tersebut.

Alergi terhadap susu dan makanan olahannya disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan spesifik dan non spesifik saluran cerna bayi atau anak yang belum sempurna.

Susu sapi atau formula merupakan protein asing yang diberikan kepada seorang bayi sehingga alergi terhadap susu harus dibedakan dengan reaksi intoleransi terhadap hal lain yang bukan berdasarkan efek imunologis.

Susu terdiri dari campuran air, protein, karbohidrat, laktosa, mineral, lemak, dan zat-zat lainnya. Alergi susu terjadi bila tubuh bereaksi terhadap protein dalam susu sapi, yaitu kasein dan whey.

Alergi susu lebih banyak menyerang anak-anak. Namun orang dewasa juga dapat tiba-tiba mengalami alergi susu ketika menginjak usia 30-an atau 40-an. Alergi ini seringkali dapat hilang dengan sendirinya ketika tubuh sudah tidak menganggap kasein dan whey sebagai musuh. Penderita alergi susu biasanya juga alergi terhadap makanan tertentu.

Gejala Alergi Susu pada Bayi

1.    Gangguan saluran cerna

Gangguan ini menyebabkan anak sering muntah, kembung, sering buang angin, sering ngeden,rewel, buang air besar, atau jarang buang air besar, berak darah, atau bahkan fese menjadi cair, hijau, dan berbau tajam. Gejala gangguan saluran cerna juga bisa dicirikan oleh pusar yang menonjol, benjolan di selangkangan, buah zakar, dan hernia.

2.    Kulit Sensitif

Kulit sensitif bisa timbul karena adanya reaksi alergi terhadap makanan atau susu. Ciri-cirinya adalah timbul bintik atau bisul kemerahan di bagian pipi, telinga, dan daerah yang tertutup popok atau pada bagian ketiak. Selain itu, muncul noda hitam di bagian mata, telinga, dan daerah sekitar rambut yang terasa gatal.

3.    Gangguan pada Sistem Pernapasan

Gangguan yang muncul biasanya berupa napas yang berbunyi, ngorok, atau disertai dengan batuk pada waktu malam dan pagi hari. Lidah bayi yang mengalami alergi biasanya berwarna putih dengan bibir yang tampak kering dan berwarna lebih gelap.

Bayi yang mengalami alergi terhadap susu sapi juga akan merasakan sesak dan hidungnya lebih sensitif dengan seringnya bersin, pilek, memiliki kotoran hidung yang banyak, dan meminum ASI dominan pada bagian satu sisi payudara ibu.

4.    Keringat berlebihan

Bayi yang mengalami alergi akan berkeringat secara berlebihan, memiliki berat badan yang berlebihan atau kekurangan berat badan dalam jangka waktu yang dekat dan cepat, memiliki mata yang sensitif sehingga sering berair dan sering timbul kotoran mata.

5.    Gangguan saluran kencing

Gangguan ini akan mengakibatkan kencing berwarna oranye dengan sedikit bentuk kristal yang menempel di bagian popok. Selain itu, badan bayi juga akan terasa hangat saat dipegang.

Gejala Alergi Susu pada Anak dan Orang Dewasa

Alergi muncul ketika alergen (penyebab alergi) memasuki sistem tubuh. Gejala alergi susu bagi anak dan orang dewasa terbagi menjadi 3 reaksi, yakni :

1.    Reaksi kulit:

•    Ruam kemerahan
•    Gatal-gatal
•    Eksim
•    Pembengkakan pada bibir, lidah, mulut atau wajah

2.    Reaksi perut dan saluran cerna:

•    Nyeri abdomen dan kembung
•    Diare
•    Muntah
•    Kram

3.    Reaksi hidung dan saluran pernapasan:

•    Hidung berair
•    Bersin
•    Mata kemerahan dan gatal
•    Batuk
•    Napas tersengal

4. Gangguan hormonal

Gangguan ini bisa mengakibatkan keputihan dan perdarahan dari vagina, timbul jerawat berwarna putih, bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok, dan gejala gangguan hormonal lainnya.

Produk yang Mengandung Protein Susu

Protein susu juga terdapat pada berbagai makanan. Oleh karena itu, penderita harus membiasakan diri mencermati label makanan. Makanan yang mengandung protein susu antara lain:

  • Susu bubuk, mentega, krim, keju, yoghurt, es krim, krimer, puding, topping, kue basah, roti, pancake, wafel, produk sereal, wafer, dan kue kering.
  • Semua makanan yang mengandung kasein. Dalam label makanan, kasein dapat berupa: casein, caseinate, rennet casein, zinc caseinate, calcium caseinate, ammonium caseinate, hydrolyzed casein, magnesium caseinate, potassium caseinate, iron caseinate, sodium caseinate, dan sodium caseinate solids.

Sumber Kalsium untuk Penderita Alergi Susu

Susu terkenal akan kandungan kalsiumnya. Namun, bila Anda alergi terhadap susu, Anda dapat memilih makanan lain dengan kandungan kalsium tinggi. Misalnya brokoli dan sayuran hijau lainnya, seafood, buah-buahan kering, susu kedelai, tahu, almond, kacang-kacangan, salmon, dan sarden.

Penanganan Alergi Susu

Cara menangani alergi susu yang paling tepat adalah dengan menghindari pencetusnya, yaitu protein susu. Seorang ibu yang menyusui bayi penderita alergi susu akan diberikan diet khusus oleh dokter. Jika bayi masih alergi, maka air susu ibu diganti dengan susu formula hipoalergenik yang berbahan protein hidrolisa atau tanpa kandungan asam amino.

Pengobatan terhadap alergi susu dilakukan dengan menggunakan:

  • Epinephrine, digunakan bila reaksi alergi berlangsung parah. Jika disuntikkan akan bekerja seperti bronchodilator.
  • Antihistamin, misalnya diphenhydramine, cetirizine, dan sebagainya.
  • Kortikosteroid. Untuk mengurangi pembengkakan dan gejala alergi lainnya. Kortikosteroid juga tersedia dalam bentuk salep kulit.



Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Mengenal Penyakit Herpes Simplex
  • Saat Kencing Terasa Sakit
  • Apa Gatal gatal di Selangkangan Itu Normal?
  • Penyebab Sakit Perut - Waspadai Hadirnya Penyakit Lebih Serius
  • Penyebab dan Jenis Penyakit Alergi
  • Penanggulangan Penyakit Kaki Gajah - ANNEAHIRA.COM
  • Mengenal Macam Penyakit Tulang
  • Macam-Macam Penyakit Kelamin
  • Penyakit Keputihan Menurunkan Citra Perempuan
  • Macam-macam Penyakit pada Pencernaan
  • Waspadai Penyakit Kanker Payudara
  • Bagimana Mempercepat Haid Selesai?
  • Manfaat Menjaga Kebersihan Tubuh
  • Mencegah dan Mengobati Bau Mulut
  • Sabun Anti Bakteri Belum Sepenuhnya Aman Dipakai
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA