Profil Singkat Menantu Rasulullah, Ali Bin Abi Thalib
Ilustrasi ali bin abu talib
Tak seorang pun yang mengaku Muslim yang tidak pernah mendengar nama Ali bin Abi Thalib. Ya, beliau adalah pemuda pertama yang masuk Islam saat Muhammad bin Abdullah diangkat menjadi Rasul Allah. Atau, orang kedua yang mengakui Muhammad bin Abdullah sebagai Rasul Allah. Ali bin Abi Thalib juga masih memiliki garis keturunan yang dekat dengan Rasul. Ia adalah sepupu Rasulullah Saw.
Ali bin Abi Thalib Kecil
Ali bukanlah nama aslinya. Nama aslinya adalah Haydar. Artinya adalah singa. Pemberian nama ini, menurut catatan sejarawan muslim, merupakan harapan kedua orangtuanya agar ia kelak menjadi penerus keluarga yang pemberani dan disegani oleh kaum Quraisy Mekkah. Ayahnya bernama Abu Thalib sedangkan ibunya bernama Fatimah bin Asad.
Adapun merubah nama Haydar menjadi Ali adalah Rasulullah Saw. Hal ini berawal saat Muhammad bin Abdullah mengetahui telah mempunyai sepupu baru yang diberi namanya Haydar. Ia pun merubahnya menjadi Ali yang artinya tinggi di sisi Tuhan.
Dalam catatan para sejarawan Muslim, Ali bin Abi Thalib lahir 10 tahun sebelum kenabian Rasulullah. Kira-kira pada tahun 599 Masehi. Lahirnya Ali sendiri menjadi hiburan bagi Rasullullah. Pasalnya, ia tidak memiliki anak laki-laki. Karena begitu lemahnya ekonomi Abu Thalib, Ali pun diasuh oleh Rasulullah Saw dan isterinya, Siti Khadijah. Ia pun dijadikan anak angkat.
Ali bin Abi Thalib Remaja
Masa remaja Ali bin Abi Thalib banyak bersama Rasulullah. Ia gunakan untuk selalu membantu Rasulullah, baik dalam berdagang maupun dalam hal yang lain. Sehingga ia paham betul bagaimana watak Rasulullah. Sehingga tak heran saat Rasulullah menceritakan tentang dipilihnya sebagai Rasul Allah, Ali bin Abi Thalib pun langsung mengimaninya. Ia percaya lantaran mengetahui bahwa Rasulullah tidak pernah berbohong. Bahkan Rasulullah adalah figur panutannya.
Ali bin Abi Thalib Dewasa
Kehidupan Ali bin Abi Thalib bersama Rasulullah tentu memberi warna lain dalam dirinya. Ia sangat dipastikan banyak belajar dari Rasulullah Saw. Sehingga tak heran bila kaum Sufi menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai rujukan dalam beramal maupun pengalaman ruhani. Sehingga ia pun sering digelar dengan babul ilmi (pintu ilmu).
Saat khalayak Muslim yang berada di Mekkah diperintahkan hijrah ke Madinah dan menetap di Madinah, Ali bin Abi Thalib menikah dengan putri Rasulullah, Fatimah. Statusnya sebagai sepupu berubah menjadi menantu.
Pemilihan Ali sebagai suami Fatimah lebih dilatarbelakangi bahwa Rasulullah melihat dari sisi nasab Ali bin Abi Thalib dan Fatimah sederajat (kufu). Rasulullah juga melihat Ali adalah orang yang sangat percaya kepadanya dan juga sangat banyak belajar tentang Islam kepadanya.
Setelah menjadi menantu Rasulullah, Ali bin Abi Thalib kerap menemani Rasullullah, baik dalam berdakwah maupun dalam berperang. Hanya satu peperangan yang tidak diikuti Ali bin Abi Thalib, yaitu perang Tabuk. Ketidakikutsertaannya dilatarbelakangi oleh amanah dari Rasulullah untuk mewakili dirinya menjaga Madinah.
Kehidupan Ali bin Abi Thalib senantiasa berada dalam koridor Rasulullah. Karena itu, pasca wafat Rasulullah, ia pun menjadi objek perbedaan pendapat dikalangan kaum muslimin saat itu. Bagi publik Syiah, Ali bin Abi Thalib adalah yang paling tepat sebagai khalifah pertama. Mereka memberinya gelar dengan ‘alaissalam (as). Sedang bagi publik Sunni, Ali bin Abi Thalib adalah khalifah keempat, sehingga gelarnya disebut dengan radiaallahu ‘anhu (ra). Ali bin Abi Thalib juga menjadi suri tauladan bagi publik sufi dan ia diberi gelar dengan karamaallhu wajhah.
Perbedaan Pandangan Mengenai Pribadi Ali bin Abi Thalib
Menurut Syiah, Ali bin Abi Thalib adalah seorang khalifah yang berhak menggantikan nabi Muhammad. Hal itu sudah ditunjuk oleh beluai atas perintah Allah di Ghadir Khum. Syiah meninggikan kedudukan Ali atas sahabat nabi yang lainnya, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Dalam ajaran Syiah, nama Ali bin Abi Thallib sering ditambahkan dengan sebutan Alayhi Salam (AS) yang artinya semoga Allah melimpahkan keselamatan dan kesejahteraan. Sebutan AS (Alayhi Salam) ini sama halnya dengan nabi lainnya.
Menurut ajaran Sunni, sebagian Sunni, yaitu mereka yang menjadi anggota Bani Ummayah dan para pendukungnya memandang Ali sama dengan sahabat Nabi yang lainnnya. Sunni menambahkan bahwa Ali mendapat sebutan Radhiyallahu Anhu (RA) yang artinya semoga Allah melimpahkan Ridha-Nya. Sebutan tersebut sama dengan yang diberikan kepada sahabat nabi lainnya.
Menurut Sufi, di belakan nama Ali bin Abi Thallib ditambahkan nama Karramallahu Wajhah (KW) yang artinya semoga Allah memuliakan wajahnya. Doa kaum Sufi ini sangat unik. Berdasarkan riwayat bahwa beliau tidak suka menggunakan wajahnya untuk melihat hal-hal yang buruk, bahkan yang kurang sopan sekalipun. Oleh kaum Sufi, Ali bin Abi Thalib dianggap sebagai Imam dalam ilmu Al Hikmah.
Dari Ali bin Abi Thalib, bermunculan cabang-cabang tarekat. Hampir seluruh tarekat Sufi adalah keturunan beliau dengan catatan nasab yang resmi mereka miliki. Seperti pada tarekat Qadiriyah dengan pendirinya Syekh Abdul Qadir Jaelani, yang merupakan keturunan langsung dari Ali melalui anaknya Hasan bin Ali seperti yang tercantum dalam kitab manaqib Syekh Abdul Qadir Jilani (karya Syekh Ja'far Barzanji) dan banyak kitab-kitab lainnya.
Pertempuran yang Diikuti Ali bin Abi Thalib pada Masa Nabi Muhammad Saw
1. Perang Badar
Setelah Ali bin Abi Thalib menikah, pecahlah Perang Badar. Perang Badar merupakan perang pertama dalam sejarah Islam. Dalam Perang Badar, Ali bin Abi Thalib menjadi pahlawan selain Hamzah, paman Nabi. Dalam perang tersebut, banyak kaum Quraisy Mekah yang tewas di tangan Ali. Dalam Perang Badar, Ali bin Abi Thalib menjadi pahlawan dalam usia yang masih muda, 25 tahun.
2. Perang Khandaq
Perang Khandaq menjadi saksi nyata keberanian Ali bin Abi Thalib ketika memerangi Amar bin Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.
3. Perang Khaibar
Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian damai antara Kaum Muslimin dengan Kaum Yahudi, Kaum Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut sehingga pecah perang melawan Yahudi di Benteng Khaibar yang sangat kokoh. Saat para sahabat tidak mampu membuka Benteng Khaibar, Ali bin Abi Thalib mendapatkan kehormatan dan mampu untuk menghancurkan Benteng Khaibar. Selain itu, Ali bin Abi Thalib berhasil membunuh seorang prajurit yang berani bernama Marhab. Beliau menebasnya dalam sekali pukulan hingga menjadi dua bagian.
Ali bin Abi Thalib Sebagai Khalifah
Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam pada waktu itu yang sudah membentang hingga ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang pada waktu itu menguasai Madinah tidak memiliki pilihan lain selain mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah.
Saat ditunjuk sebagai Khlifah pengganti, Ali bin Abi Thalib sempat menolak. Akan tetapi, Zubair bin Awwan dan Talhah bin Ubaidillah memaksa beliau sehingga akhirnya Ali bin Abi Thalib pun menjadi Khalifah. Pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah menjadikan beliau satu-satunya Khalifah yang dibai’at secara massal karena Khalifah sebelumnya dipilih dengan cara yang berbeda.
Nah, itulah penjelasan menganai Ali bin Abi Thalib. Semoga bermanfaat bagi Anda.

