logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hobi    Kerajinan Tangan    Bambu

Seni Anyaman Buluh, Bukti Kreativitas Rumpun Melayu


Ilustrasi anyaman buluh

Indonesia yang terdiri dari kepulauan dikenal dengan keragaman sukunya, memiliki kekayaan kreativitas tak terhingga, seni dan tradisi yang melimpah, yang salah satunya kemudian melahirkan berbagai kerajinan tangan unik. Dari sekian banyak kerajinan tangan khas nusantara adalah anyaman buluh yang menonjolkan citra khas suku (rumpun) Melayu.

Kekayaan alam nusantara pun telah banyak mengilhami masyarakatnya untuk menciptakan berbagai macam keperluan dan peralatan sehari-hari dengan memanfaatkan kekayaan alam di sekitarnya. Dari sinilah sebenarnya muncul kreativitas tersebut. Kreativitas dalam seni anyaman tradisional yang salah satunya adalah anyaman buluh, telah tercipta ketika masyarakat mengenal peradaban dan bercocok tanam, kemudian diturunkan kepada generasi selanjutnya sampai sekarang. Memang tak setiap generasi memiliki dan diwarisi keterampilan tersebut, terutama ketika dalam kehidupan sehari-hari banyak pilihan.

Satu hal yang membanggakan adalah selalu saja ada dari masing-masing suku yang tergerak dan memiliki kepedulian untuk meneruskan tradisi tersebut, sehingga pada akhirnya keterampilan anyaman tradisional ini terus lestari. Bisa dibayangkan bila tidak ada yang peduli dalam satu generasi saja, maka lambat-laun keterampilan anyaman tradisional tersebut dengan sendirinya akan berangsur-angsur punah pula.

Sejarah Anyaman

Menganyam berarti menjaringkan atau menyilangkan bahan-bahan dari tumbuh-tumbuhan kering seperti lidi, rotan, akar, buluh atau pandan untuk dijadikan satu rumpun yang kuat. Setelah itu, dibentuk menjadi barang tertentu yang bermanfaat. Pada awalnya barang-barang hasil anyaman tersebut untuk dipergunakan sendiri sesuai dengan kemampuan. Namun lambat laun ada orang atau suku lain yang merasa tertarik, kemudian melakukan transaksi secara barter. Dari sinilah berkembang sehingga pada akhirnya hasil anyaman tersebut menjadi salah satu komoditi dan memberi hasil tambahan untuk menopang kehidupan. Begitulah alur perkembangan seni anyaman tradisional ini terjadi sebelum akhirnya berkembang dan saling mempengaruhi dengan suku-suku lain di nusantara bahkan dengan lain kawasan. 

Seni anyaman tradisional ini telah lama dikenal dan dikembangkan olah suku Melayu di sepanjang Pulau Sumatera, Semenanjung Malaya, serta Pesisir Kalimantan bagian barat dan utara. Dua bangsa yaitu Indonesia dan Malaysia, berbagi kebudayaan serupa tentang seni anyaman ini sampai sekarang. Sehingga sekalipun memiliki pengaruh dan perkembangan yang berbeda, tapi tetap memiliki kesamaan dalam anyaman dasarnya karena memang asal-muasal juga dari sumber yang sama.

Bisa dikatakan menganyam termasuk seni original (asli) suku Melayu. Bukan hasil pengaruh dari budaya suku di luar Melayu. Seperti juga tembikar, seni anyaman yang dimulai pada masa neolitik ini menghasilkan tali, dinding rumah dan beragam perkakas sehari-hari. Awal mula bahan yang digunakan berupa akar dan rotan. Selain kuat dan lentur, kedua bahan ini juga mudah didapatkan di alam tropis. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa kekayaan alam sekitar benar-benar telah mendorong dan mengispirasi lahirnya seni anyaman tradisional ini. Tentu saja tanpa dukungan kekayaan alam berupa tumbuhan yang akar, pohon atau daunnya bisa dianyaman, tak mungkin seni tradisional ini bisa terus berkembang dan lestari.

Semakin lama, seni menganyam semakin berkembang. Tak hanya jenis barang kerajinan yang dibuat jadi beragam, bahan untuk membuat anyaman pun makin banyak jenisnya. Ada ayaman pandan berupa tikar sembahyang dan hiasan dinding. Bahkan ketika bahan-bahan dari alam mulai sulit didapat, para pengrajin juga mulai melirik bahan lain seperti sampah plastik atau barang-barang bekas yang bisa dipilin dijadikan tali kemudian dianyam.

Pada perkembangannya anyaman rotan yang paling sering digunakan juga mulai dibuat menjadi bakul, tempat pakaian, tempat gendongan anak dan sebagainya. Demikian pula anyaman dari buluh dengan barang kerajinan berupa nyiru, tudung saji, tas, sangkar burung atau ayam, keranjang, wadah untuk keperluan sehari-hari, dan masih banyak lagi barang lainnya.

Perkembangan seni anyaman tradisional itu terpicu ketika semakin banyak pula orang yang membutuhkannya baik di dalam masyarakat satu suku maupun masyarakat dari luar suku. Persinggungan antar suku ini juga saling mempengaruhi kepada produk anyaman dan motif anyaman, sekalipun tidak meninggalkan ciri khas masing-masing.

Anyaman Buluh

Anyaman buluh berbahankan buluh yang biasa juga disebut dengan bambu atau aur. Aur merupakan salah satu spesies rumput, sama seperti lalang, jagung dan padi. Buluh banyak tumbuh di kawasan tropis dan sub tropis. Kawasan tropis seperti Indonesia adalah surganya untuk berbagai jenis tanaman buluh ini.

Di Indonesia, terdapat berbagai jenis buluh, di antaranya buluh akar, buluh betung, buluh cina, buluh batu/tumpat, buluh duri, buluh gading, buluh kasap, buluh minyak/padang, buluh peleting, buluh perindu dan buluh sembilang. Adapun yang biasa digunakan untuk anyaman adalah buluh akar, buluh betung, buluh minyak dan buluh gading. 

Untuk anyaman dipilih buluh yang sudah cukup tua. Dipotong sesuai ukuran yang dikehendaki pembuatnya. Buluh-buluh tersebut tidak langsung dapat digunakan untuk membuat anyaman. Tapi, harus melewati beberapa proses agar menghasilkan buluh berkualitas baik. 

Proses pertama adalah merendam buluh. Dahulu, buluh direndam di dalam air asam dan air selut selama seminggu. Proses yang lumayan sulit dan memakan waktu. Namun belakangan cara merendam dengan asam seperti ini telah ditinggalkan dan lebih memilih jalan praktis dengan menggunakan penguat  atau anti rayap misalnya.

Salah satu cara untuk merendam bulu yang sering dipakai jaman sekarang yaitu dengan cara buluh direndam dan direbus bersama campuran soda. Tujuannya adalah agar kandungan gula di dalam buluh menjadi keluar sehingga buluh tidak dimakan bubuk dan tahan lebih lama. Dari segi warna, buluh yang telah direndam terlihat lebih menarik dibanding dengan buluh aslinya.

Proses berikutnya adalah menyalai atau buluh diasapi hingga kering. Setelah itu buluh dibelah, disepat (dipisahkan kulit dari isi batang) dan diraut. Setelah melalui proses-proses tersebut, barulah buluh layak digunakan sebagai anyaman dengan hasil yang memuaskan. Sebelum sampai pada tingkat menganyam, sebenarnya buluh telah dipotong-potong sesuai dengan anyaman dan bahan yang akan dibuat.

Demikianlah salah satu warisan leluhur yang masih lestari sampai sekarang yaitu keterampilan anyaman buluh. Keterampilan tersebut bisa dilestarikan karena ada orang-orang yang peduli untuk mempelajarinya, menekuninya, mengkreasikan berbagai keperluan sehari-hari sehingga bisa menambah penghasilan. Setelah merasa cukup memiliki kemampuan kemudian mewariskannya kepada anak dan keluarganya. Cara seperti inilah yang kemudian membuat keterampilan anyaman buluh ini bisa dipertahankan.

Mempertahankan keterampilan anyaman buluh sebagai salah satu bentuk usaha, sekarang ini memang bukan pekerjaan gampang. Hanya orang-orang yang memiliki tekad kuat untuk tetap mempertahankan dan melestarikan keterampilan warisan leluhurlah yang akan mau melakukannya. Kenapa demikian ? Karena dari sisi produk yang dihasilkan mendapat saingan sangat kuat terutaman dari produk berbahan plastik. Bahan-bahan keperluan sehari-hari dari bahan plastik memang terlihat lebih unggul, selain bentuk yang unik, warna-warni, tahan lama, ringan dan yang paling mengancam kelestarian anyaman buluh adalah harga produk berbahan plastik jauh lebih murah karena diproduksi secara pabrikan.

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Kerajinan Bambu dalam Lampu Hias
  • Cara Membuat Kerajinan Tangan Bambu
  • Sekilas Tentang Anyaman Tradisional
  • Kerajinan Anyaman Bambu yang Artistik
  • Seni Anyaman - Anyaman, Karya Seni, dan Media Sosialisasi
  • Ciri Khas Kerajinan Tasikmalaya
  • Membuat Kerajinan Anyaman Bambu
  • Nilai Estetis Anyaman Rotan
  • Asyiknya Membuat Gerabah
  • Bambu yang Mendunia
  • Berburu Anyaman Nusantara
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA