Arsitektur Postmodern Penentang Arsitektur Modern
Ilustrasi arsitektur postmodern
Sebuah ilmu akan terus berkembang sesuai dengan kebutuhan manusianya yang juga berkembang. Ilmu yang sudah ada tersebut berkembang atau bahkan bisa menjadi batu loncatan untuk hadirnya ilmu-ilmu baru. Salah satu ilmu yang bisa dipelajari dan juga bisa berkembang karena kebutuhan manusia adalah ilmu arsitektur postmodern.
Ilmu arsitektur memiliki beberapa “anakan” yang berkembang di setiap zamannya, sesuai dengan kebutuhan pada manusia yang hidup pada satu zaman tertentu. Salah satu “anakan” arsitektur yang cukup mendapat perhatian dari para arsitek adalah arsitektur postmodern.
Arsitektur Postmodern
Mengenai istilah ini masih banyak perdebatan yang muncul dalam dunia pemikiran. Apakah post itu bermakna ‘setelah’ atau lebih bermakna ‘perlawanan’. Jika ditinjau dari kurun waktu, jelas istilah post itu ditandai dengan berakhirnya modernitas. Namun jika ditinjau dari sisi ideologi, post juga bisa bermakna perlawanan terhadap modernisme.
Di antara filsuf yang terkenal dalam pemikiran post modern adalah Nietzsche dan Liotard. Mereka menolak keteraturan dan teleologi (tujuan) yang selama kurun waktu dikembangkan oleh penganut modernisme. Bagi mereka, yang ada hanyalah nihilisme. Sebuah konsep yang sulit dimengerti karena berkaitan dengan kekosongan dan ‘ketiadaan tujuan’.
Post modern menolak gagasan-gagasan modernisme, misalnya gagasan tentang keteraturan yang matematis. Realitas yang matematis adalah realitas yang selalu dapat diprediksi dan diyakini bagi kalangan modernisme. Namun bagi kalangan post modern, realitas tidaklah sesederhana seperti itu. Mereka pun meragukan tentang keabadian.
Ungkapan Nietzsche tentang kematian Tuhan mungkin pula berkaitan erat dengan konsepnya mengenai post modern. Tuhan tidak lain adalah realitas aturan yang baku dan kaku, yang di sisi lain membawa manusia menjadi lemah. Oleh karena itu, ia berusaha untuk membunuhnya.
Nietzsche menginginkan berkembangnya manusia-manusia super yang mampu menunjukkan dan mengungkapkan kehendaknya. Namun, pandangan post-modern ini bukan tanpa kritik. Jurgen Habermas, filsuf Jerman, menganggap post modern hanyalah sekadar modernisme yang belum selesai.
Gaya bangunan modernisme yang menekankan pada keteraturan dan harmoni sangat terlihat dari warisan bangunan-bangunan Belanda yang ada di Indonesia. Bagunan peninggalan Belanda tersebut biasanya memiliki tiang-tiang besar di depannya, bentuk bangunan yang simetris, gazebo-gazebo yang kaku, serta cat putih yang menutup sebagian besar bangunan.
Jika sebelah kanan bangunan berbentuk segitiga, maka biasanya sebelah kiri pun dibentuk segitiga pula. Sama seperti sayap burung yang keduanya simetris. Tetapi tidak demikian dengan bangunan bergaya post modern.
Mereka menolak gaya-gaya ‘simetritisasi’ dan harmonisasi. Itulah sebabnya bagungan-bangunan post modern lebih nampak seperti sesuatu yang acak-acakan. Mungkin juga gaya lukisan surealis terinspirasi juga dari ideologi post modern.
Bangunan mereka tidak seperti WTC (si gedung kembar yang hancur oleh teroris), tidak pula seperti menara kembar Petronas di Malaysia. Post modern mengambil bentuk yang nihil dan bebas. Menara Pisa yang berdiri miring pada dasarnya bisa dikategorikan bangunan post modern (walaupun kemiringan itu terjadi di luar kehendak sang arsitek).
Atap terlihat seperti rusak tertimpa sesuatu, beton yang muncul seperti dibiarkan begitu saja, atau kursi yang aneh bentuknya adalah gaya-gaya post modern. Sekali lagi, semangat arsitektur post modern muncul dan dilatarbelakangi oleh penolakan terhadap tesis-tesis yang dibuat oleh kalangan modernisme.
Berdasarkan pada peradaban Yunani, banyak hasil karya seni arsitektur Yunani yang bernilai tinggi, sehingga tidak heran jika Yunani mendapatkan julukan sebagai negara yang memiliki peradaban arsitektur tinggi.
Anehnya, pada masa itu (sekitar 1200 SM-700 SM), arsitektur tidaklah dianggap sebagai suatu "seni". Arsitek hanyalah seorang tukang yang ahli dan dipekerjakan oleh bangsawan atau orang kaya Yunani. Tidak ada prestise di masyarakat. Status sosialnya pun sama saja dengan pekerja kasar lain.
Seorang arsitek bertugas merancang bangunan serta menyewa tenaga kerja dan tenaga ahli untuk membangun sesuai rancangan yang telah dibuat. Mereka juga bertanggung jawab atas anggaran dan penyelesaian tepat waktu. Tidak ada bedanya dengan pemborong bangunan zaman sekarang. Bahkan, seorang arsitek genius, seperti Iktinos yang merancang Parthenon, namanya tidak dikenal sebelum abad ke-5 M. Ia lebih dikenal hanya sebagai seorang pedagang biasa.
Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman, arsitektur Yunani dianggap sebagai nilai seni yang sangat tinggi karena arsitekturnya dianggap rumit dan memiliki ciri khas tersendiri, dibandingkan dengan negara-negara lainnya.
Ketenaran arsitektur Yunani memang tak ada duanya. Bangsa Romawi ketika berkuasa pun banyak mengadopsi gaya Yunani pada rancangan bangunan mereka. Terutama, bangunan kuil untuk semua dewa bangsa Romawi yang hampir tak ada bedanya.
Bangunan Yunani dikenal dengan ciri khasnya berupa dadu atau kubus. Biasa juga berbentuk segi empat panjang dan dibuat dari batu gamping. Untuk bangunan-bangunan istimewa, lazimnya menggunakan batu pualam (marmer) berkualitas tinggi dan mahal yang didatangkan dari beberapa tempat tertentu di Yunani. Yaitu, dari Kota Attica dan beberapa pulau seperti Paros.
Batu ini juga melimpah di pegunungan Hymettus dan Pentilicus dekat Athena di Yunani daratan. Batu-batu tersebut dipahat dan dibentuk menjadi kolom dan balok. Suatu desain bangunan yang banyak ditemukan pada kuil-kuil dewa Yunani.
Selain itu, iklim Yunani yang ramah (sejuk) membuat masyarakatnya menyenangi aktivitas di luar sehingga tempat publik mengambil bentuk panggung terbuka tanpa atap. Salah satu contohnya adalah Amphytheatre (tempat pertunjukan zaman Yunani dengan tempat duduk bertingkat).
Masih banyak lagi warisan arsitektur Yunani yang dapat dinikmati keindahannya hingga sekarang. Mencerminkan bagaimana masyarakat Yunani Kuno telah mengembangkan kemampuan luar biasa dalam membangun sesuatu yang menyiratkan keindahan. Memadukan beragam ilmu pengetahuan (science) dengan kepekaan seorang seniman.
Gaya arsitektur Yunani ini sering dijadikan inspirasi bagi para arsitektur postmodern. Banyak hasil karya-karya para arsitek yang menghasilkan karyanya yang bagus karena terinspirasi dari arsitektur Yunani, terutama di negara bagian Eropa dan Amerika.
Arsitektur Postmodern Bentuk Pertentangan Gaya Arsitektur Modern
Arsitektur postmodern kerap disandingkan dengan arsitektur dekontruksi. Berdasarkan kriteria bangunan, di antara keduanya memang tidak memiliki perbedaan yang mencolok. Dekontruksi membangun sebuah bangunan tanpa “aturan” begitu pun dengan gaya arsitektur ini.
Gaya postmodern pertama kali diwujudkan dalam bentuk nyata pada tanggal 15 Juli 1972. Saat itu, sebuah proyek pembangunan rumah di Santa Louis tengah dibangun. Gaya arsitekturnya dinilai sebagai lambang kemodernan sebuah arsitektur.
Pembangunan tersebut menggunakan teknologi. Namun sialnya, bangunan tersebut tidak memiliki umur yang panjang. Bangunan itu dihancurkan oleh penghuninya sendiri. Hancurnya bangunan modern tersebut justru dianggap sebagai lahirnya gaya arsitektur baru, bernama arsitektur postmodern.
Pada dasarnya, kematian modern dalam segala bidang kehidupan manusia menjadi lahirnya sebuah paham baru. Paham itulah yang dikenal oleh para ahli dengan sebutan postmodern. Postmodern bisa dikatakan sebagai sebuah fenomena tersendiri dalam kehidupan manusia. Ia hadir dalam keabstrakan. Sama halnya dengan pengertian modern secara hakikat.
Fenomena ini dinilai mengakhiri segala bentuk pemikiran dan cara pandang yang universal. Jika digambarkan sebagai sesosok manusia, postmodern adalah manusia yang memiliki gaya “nyentrik”, apa adanya dan tidak terbatas pada satu ikatan atau keharusan apapun.
Orang atau bangunan yang bergaya postmodern akan sangat menolak hal-hal yang bisa dijelaskan secara konsisten, universal, dan harmonis. Namun, gaya postmodern akan menghargai segala bentuk keberagaman.
Sederhananya, postmodern adalah gaya dari anti-modern. Postmodern dan Arsitektur gaya postmodern pada bidang arsitektur sudah dikembangkan sejak 1970-an. Tepatnya semenjak runtuhnya gaya modern.
Arsitektur postmodern hadir karena reaksi dari arsitektur modern yang univalence. Univalence bisa diartikan sebagai penyeragaman semua bentuk bangunan. Hal itu dianggap sebagai pengukungan kreativitas. Jika arsitektur modern mengenal univalence, maka postmodern mengenal istilah multivalence.
Gaya postmodern secara terang-terangan menolak penyeragaman bentuk bangunan. Gaya postmodern justru menunjukkan gaya, bentuk dan corak yang berbeda. Contoh pembelotan gaya arsitektur postmodern adalah penggabungan unsur tradisional dengan unsur lain. Dalam gaya modern hal ini adalah aturan yang salah.
Arsistektur postmodern menganggap bahwa bangunan dan segala pelengkapnya tengah berbahasa dengan bahasanya sendiri. Jika dalam gaya modern, bahasa tersebut tidak terdengar jelas, dalam postmodern justru sebaliknya.
Nilai seni dalam sebuah bangunan bergaya postmodern jauh lebih tinggi dibandingkan dengan gaya arsitektur modern. Mereka yang mencintai gaya arsitektur postmodern akan menghadirkan hal-hal atau ornamen yang bernilai seni pada bangunannya. Mereka juga akan mengembalikan nilai lain dari sebuah bangunan, yaitu seni, kreativitas, dan imajinatif.

