Arsitektur
Ilustrasi arsitektur
Arsitektur erat kaitannya dengan rumah. Arsitektur memang tak bisa dipisahkan dari rumah. Rumah adalah satu di antara tiga kebutuhan manusia yang sifatnya primer, tentu saja selain makanan dan pakaian. Ketiga kebutuhan tersebut sampai kapan pun rasanya tidak bisa digantikan oleh apa pun. Rumah adalah tempat berteduh dari hujan dan panas. Rumah juga merupakan sarana tumbuh kembang serta interaksi anak dengan kedua orangtuanya.
Selain fungsinya sebagai tempat berteduh, rumah memiliki nilai lain. Nilai ini berkenaan dengan selera seni seseorang terhadap bangunan. Rumah bisa menggambarkan selera sekaligus keadaan ekonomi seseorang. Mereka yang beruntung dan memiliki uang lebih biasanya akan memanfaatkan jasa para arsitek untuk membangun tempat tinggal. Para arsitek adalah orang-orang yang mahir dalam ilmu arsitektur.
Ilmu Arsitektur
Arsitektur sepertinya tidak asing bagi mereka yang menaruh perhatian lebih pada sebuah bangunan. Pada dasarnya, arsitektur adalah ilmu menata bangunan. Ilmu ini cukup mendapat apresiasi dari masyarakat dunia. Di Indonesia saja, berbagai perguruan tinggi sudah menyediakan arsitektur sebagai salah satu ilmu yang bisa dipelajari.
Arsitektur tidak beda jauh dengan seni. Arsitektur juga menciptakan sesuatu yang indah. Ketika belajar mengenai arsitektur, yang dipelajari bukan hanya bagaimana mendirikan sebuah bangunan kokoh, melainkan bagaimana mendirikan sebuah bangunan yang memiliki nilai seni indah.
Secara tugas, mereka seolah berkewajiban untuk merancang bentuk-bentuk rumah idaman. Rumah yang bukan sebagai tempat tinggal, melainkan rumah sebagai hal lain yang lebih dari itu. Sebagian besar arsitek beranggapan bahwa rumah bukan hanya sebagai tempat untuk tidur, makan, dan bercengkerama.
Merencanakan, Merancang, dan Membangun
Berbicara hal yang lebih luas, arsitektur bukan hanya berkenaan dengan bagaimana membangun dan merancang sebuah rumah dengan baik. Arsitektur juga bertugas untuk merencanakan, merancang, dan membangun tata kota. Istilah arsitektur juga sering dikenakan pada hal-hal yang merupakan hasil perancangan dan pembangunan itu sendiri.
Berkenan dengan keilmuan, arsitek merupakan ilmu multidisipliner. Ilmu jenis ini mengharuskan seseorang untuk menguasai ilmu lebih dari satu. Ketika memutuskan untuk menjadi arsitek, secara otomatis Anda juga harus memahami ilmu-ilmu lain. Ilmu yang biasanya mendampingi ilmu arsitek adalah matematika, seni, sains, sejarah, filsafat. Bahkan, politik.
Secara sepintas, ilmu-ilmu tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan membangun dan merencanakan sebuah bangunan. Namun, seorang ahli bernama Vitruvius mengatakan bahwa seorang arsitek haruslah memahami ilmu-ilmu humaniora, yaitu sejarah, seni, filsafat, dan politik. Tujuannya tentu saja agar bangunan yang akan dirancang dan didirikan memiliki nilai “manusia” di setiap jengkalnya.
Arsitek Kalah Pamor Dibanding Tukang Bangunan
Meskipun demikian, keberadaan seorang arsitek, khususnya di Indonesia, masih kalah pamor dengan keberadaan tukang-tukang bangunan. Minimnya penggunaan jasa seorang arsitek tersebut berkaitan erat dengan kemampuan ekonomi masyarakat Indonesia yang rata-rata masih dalam tahap “berjuang” belum "menikmati".
Mereka akhirnya beranggapan bahwa yang terpenting rumah bisa ditempati, bisa untuk berteduh dari panas dan hujan. Tanpa sedikit pun memikirkan nilai seni sebuah bangunan. Jasa seorang arsitek pada akhirnya hanya laku di kalangan masyarakat tertentu. Jasa arsitek, biasanya, diperlukan ketika akan membangun sebuah bangunan yang rumit secara desain. Bangunan tersebut rata-rata diciptakan dengan tujuan wisata atau budaya.
Sejarah Arsitektur
Arsitektur muncul dari dinamika kebutuhan keadaan lingkungan yang kondusif dan cara, yaitu bahan bangunan yang tersedia serta teknologi konstruksi. Tahap awal dari dinamika ini adalah arsitektur prasejarah serta arsitektur primitif. Lalu, manusia menjadi lebih modern dan pengetahuan pun mulai tercipta lewat tradisi lisan juga praktik-praktik. Arsitektur pun berkembang menjadi sebuah keterampilan.
Pada tahapan inilah, ada yang disebut dengan proses uji coba, improvisasi atau peniruan, sampai jadi hasil yang sukses. Saat itu, seorang arsitek tidak dianggap sebagai sosok penting. Mereka hanya dianggap melanjutkan tradisi. Dari pendekatan seperti ini, arsitektur Vernakular lahir dan masih dilakukan di banyak tempat di dunia hingga saat ini.
Perkembangan
Pada dasarnya, permukiman manusia di masa lalu itu bersifat rural. Lalu, muncullah surplus produksi hingga akhirnya masyarakat rural berkembang menjadi sebuah masyarakat urban. Kompleksitas bangunan serta tipologinya pun mengalami peningkatan. Teknologi pembangunan fasilitas umum seperti jembatan dan jalan juga mulai berkembang. Selain itu, tipologi bangunan yang baru seperti misalnya rumah sakit, sekolah, serta sarana hiburan pun mulai bermunculan.
Di masa itu, arsitektur religius masih tetap menjadi bagian terpenting di dalam masyarakat. Gaya-gaya arsitektur pun berkembang dan karya tulis tentang arsitektur perlahan muncul juga. Karya-karya tulis ini menjadi kumpulan kanon (aturan) untuk diterapkan, terutama di dalam pembangunan arsitektur religius.
Contoh dari aturan tersebut di antaranya yaitu karya-karya tulis dari Vitruvius dan Vaastu Shastra yang berasal dari India purba. Sementara di zaman Klasik dan Abad Pertangahan Eropa, bangunan tercipta bukan dari hasil karya arsitek-arsitek individual, tetapi dari asosiasi profesi (guild) yang dibentuk oleh para ahli keterampilan bangunan untuk melakukan pengorganisasian proyek.
Masa Pencerahan
Saat masa Pencerahan, humaniora dan juga penekanan terhadap individual dianggap lebih penting dibandingkan agama. Inilah yang menjadi awal baru dalam dunia arsitektur. Tugas pembangunan diserahkan kepada para arsitek individual seperti Leonardo da Vinci, Brunelleschi, dan Michealangelo. Kultus individu pun dimulai dari sini.
Tapi, pada saat itu, tak ada pembagian tugas yang jelas di antara arsitek, seniman, dan insinyur ataupun bidang-bidang kerja lainnya yang saling berhubungan. Pada tahapan ini, seorang seniman juga bisa merancang sebuah jembatan sebab perhitungan struktur yang ada di dalamnya masih bersifat global.
Seiring dengan penyatuan pengetahuan dari berbagai macam bidang ilmu seperti engineering misalnya serta munculnya bahan-bahan bangunan baru, termasuk teknologi, seorang arsitek mulai menggeser fokusnya, dari yang awalnya aspek teknis bangunan pindah menjadi ke estetika.
Setelah itu, banyak bermuculan “arsitek priyayi” yang umumnya berurusan dengan bouwheer (klien) kaya serta fokus pada unsur visual berbentuk atau merujuk pada contoh-contoh historis. Lalu, pada abad ke-19, Ecole dos Beaux Art di negara Perancis. Melatih para calon arsitek untuk membuat sketsa-sketsa dan juga gambar yang cantik tanpa menekankan pada konteksnya.
Arsitektur Modern
Revolusi Industri telah membuka pintu untuk segmen konsumsi umum, sehingga menyebabkan estetika menjadi ukuran yang bisa digapai bahkan oleh kalangan menengah. Awalnya, produk-produk berornamen estetis hanya terbatas di dalam lingkup keterampilan yang cukup mahal dan akhirnya menjadi terjangkau lewat produksi massal. Produk-produk seperti itu tidaklah mempunyai keindahan serta kejujuran dalam ekspresi dari suatu proses produksi.
Ketidakpuasan dengan situasi seperti itu yang terjadi pada abad ke-20 awal telah berdampak lahirnya pemikiran-pemikiran arsitektur modern. Misalnya Deutscher Werkbund (dibentuk pada 1907) yang membuat obyek-obyek buatan mesin berkualitas lebih baik dan ini adalah titik munculnya profesi di dalam bidang desain industri.
Selanjutnya, sekolah Bauhaus yang didirikan di Jerman pada 1919 menolak tegas masa lalu sejarah. Instansi ini lebih memilih memandang arsitektur sebagai sebuah sintesa seni, teknologi, dan juga katerampilan. Saat arsitektur mulai diaplikasikan, itu merupakan sebuah pergerakan terdepan dengan dasar filosofis, moral, dan estetis.
Itulah ulasan seputar arsitektur lengkap dengan sejarahnya. Semoga bermanfaat!

