Arti Budaya - Pakar Budaya, Bahasa, dan Makna Budaya
Ilustrasi arti budaya
Ketika mendengar kata “budaya” atau “kebudayaan”, apa yang tergambar dalam benak kita? Biasanya, kita akan langsung mengasosiasikan budaya—culture [Inggris], cultuur [Belanda], atau kultur [Jerman]—dengan kesenian, entah itu seni tari, seni musik, seni lukis, seni suara, seni pahat, dan sebagainya.
Asosiasi tersebut sering pula ditambah dengan adat istiadat atau kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat. Ini tidak salah, karena kesenian dan adat istiadat termasuk salah satu unsur pembentuk kebudayaan.
Akan tetapi, mengasosiasikan budaya dengan kesenian atau adat istiadat, pada kenyataannya telah mempersempit makna budaya itu sendiri.
Arti Budaya Menurut Ahli
Prof. Koentjaraningrat
Di lihat asal katanya, kata “budaya” sudah menggambarkan betapa luasnya cakupan makna yang terkandung di dalamnya. Menurut Prof. Koentjaraningrat, seorang Antropolog kenamaan Indonesia, budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta; buddhayah, yaitu bentuk jamak dari kata “buddhi” atau budi dan akal.
Dari asal kata ini, budaya dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan budi atau akal dan segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal dan budi tersebut.
Sidi Gazalba
Itulah mengapa, dengan mengacu pada asal kata ini, Sidi Gazalba mengartikan budaya sebagai cara berpikir dan merasa untuk kemudian dinyatakan dalam seluruh kehidupan sekelompok manusia yang membentuk masyarakat dalam suatu ruang dan waktu tertentu.
Sumardjan dan Soelaeman Soemardi
Demikian pula Sumardjan dan Soelaeman Soemardi, mereka mengartikan budaya sebagai “semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat”.
Dengan demikian, budaya atau kebudayaan memiliki makna yang sangat luas dan seolah tidak ada batasnya. Ia mencakup berbagai dimensi kehidupan manusia yang lahir sebagai hasil olah akal dan budi, mulai yang terkecil hingga yang terbesar; mulai dari tata cara makan hingga tata cara mengelola sebuah negara.
Oleh karena luasnya cakupan kebudayaan, ada sekian banyak definisi atau arti budaya yang diungkapkan para sarjana. Dalam buku Culture: A Critical Review of Concepts and Definitions misalnya, David Kroeber dan Kluckhohn menghimpun sekitar 160 definisi budaya yang diungkapkan para ilmuwan.
Dari sekian banyak definisi ini, tidak ada satu pun definisi yang mampu menghimpun semua kompleksitas dari budaya. Setiap definisi hanya menekankan pada satu atau beberapa aspek saja dari kebudayaan.
Edward Burnett Tylor
Sebagai contoh, Edward Burnett Tylor mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan kompleks pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, kemampuan-kemampuan dan kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan manusia sebagai anggota masyarakat (Soekanto, 2000: 172).
Dengan demikian, menurut Tylor, kebudayaan mencakup segala sesuatu yang diperoleh atau yang dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Hal senada diungkapkan pula oleh Prof. Dr. Koentjaraningrat, bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Clifford Geertz
Hal ini sedikit berbeda dengan yang diungkapkan oleh Clifford Geertz. Penulis buku Abangan, Santri, Priyaydi dalam Masyarakat Jawa ini mengartikan kebudayaan sebagai sebuah sistem berupa konsepsi-konsepsi yang diwariskan dalam bentuk simbolik sehingga dengan cara inilah manusia mampu berkomunikasi, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan serta sikapnya terhadap kehidupan. (Abdullah, 2006:1).
Di sini, Geertz menekankan kebudayaan sebagai sekumpulan ide sebagai proses kreatif dari akal budi yang diwariskan dan kemudian mewarnai kehidupan sebuah masyarakat.
Walaupun definisi-definisi tentang kebudayaan memiliki perbedaan sudut pandang, akan tetapi setiap definisi menyimpulkan kesamaan, yaitu bahwa kebudayaan adalah ciptaan manusia. Dengan demikian, tidak ada budaya tanpa manusia dan tidak ada manusia tanpa budaya. Manusia dan budaya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan.
Wujud dan Komponen
Wujud
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
Setelah berbincang mengenai arti dari budaya, sekarang saat membahas menengenai wujuda dari budaya yang merupakan hasil dari manusia. Wujud dari budaya sendiri dibedakan menjadi tiga macam, yakni gagasan, aktiviti, dan artefak.
1. Gagasan
Gagasan merupakan wujud ideal dari kebudayaan yang bisa berupa kumpulan ide, gagasan itu sendiri, nilai-nilai, peraturan, norma, dan lain-lain yang masih memiliki sifat yang abstrak. Sifat abstrak maksudnya adalah masih belum berbentuk yang tidak dapat dindera dengan panca indera baik itu disentuh maupun diraba.
Wujud dari kebudayaan ini masih berada dalam kepala seseorang yang belum tercurahkan dalam sebuah bentuk. Semuanya masih berada di dalam angan-angan yang merupakan bagian dari alam pikiran.
Jika gagasan atau iden atau pun norma itu sudah dituangkan dalam bentuk tulisan, maka tempat dari kebudayaan yang ideal tersebut berada dalam sebuah karangan atau buku-buku hasil karya dari penulisnya.
Jadi gagasan baru akan terwujud ketika sudah berada dalam bentuk tulisan yang ada dalam sebuah buku atau kitab yang merupakan karya dari penulis yang juga merupakan bagian dari budaya yang ada dalam masyarakat tersebut.
2. Aktivitas
Aktivitas merupakan wujud dari budaya yang berbentuk tindakan. Aktivitas adalah wujud dari budaya yang merupakan tindakan berpola dari manusia yang ada dalam suatu masyarakat. Wujud dari aktivitas yang merupakan wujud budaya biasa dikenal dengan sebutan sistem sosial.
Di dalam sistem sosial berisikan dengan berbagai aktivitas manusia yang saling melakukan interaksi, saling melakukan kontak, dan adanya pergaulan antara manusia dengan manusia yang lainnya berdasarkan pola-pola tertentu yang didasarkan pada adat tata kelakuan.
Sifat dari aktivitas adalah konkret yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu, namun juga bisa diamati dan didokumentasikan wujud dari budayanya.
3. Artefak
Satu-satunya wujud dari budaya yang dapat dilihat dan berupa hasil adalah artefak. Artefak merupakan wujud kebudayaan yang dapat diindera secara fisik yang berupa hasil dari aktivitas, karya, dan perbuatn manusia dalam suatu masyarakat. Hasil dari artefak bisa dilihat dan diraba.
Biasanya berupa benda-benda yang berbentuk yang dapat dilihat dan didokumentasikan.
Dalam kenyataan yang ada di masyarakat bahwa antara wujud kebudayaan yang satu dengan wujud kebudayaan lainnya adalah saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Sebagai contohnya adalah wujud budaya yang berupa gagasan memberikan arahan sehingga timbul tindakan yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah karya yang merupakan artefak.
Komponen
Berdasakan wujud dari budaya maka budaya memiliki beberapa komponen. Bebrapa komponen tersebut adalah sebagai berikut.
a. Kebudayaan Material
Kebudayaan material adalah bentuk dari hasil cipta, rasa, dan karsa yang memiliki wujud secara nyata. Beberapa hal yang masuk ke dalam kebudayaan material adalah seperti yang telah banyak ditemukan oleh para arkeolog. Beberapa temuan tersebut adalah seperti peralatan makan yang berasal dari tanah liat, senjata, perhiasan, dan lain-lain.
Kebudayaan material tidak saja berdasarkan pada temuan para arkeolog saja. Namun barang yang sekarang kita pakai pun termasuk dari kebudayaan material, diantaranya adalah televisi, lemari, mesin cuci, pesawat terbang, mobil, sepeda motor, rumah, dan lain-lain.
b. Kebudayaa nonmaterial
kebalikan dari kebudayaan material yang memiliki wujud maka kebudayaan nonmaterial tidak memiliki bentuk yang dapat diindera. Namun kebudayaan nonmaterial tersebut masih ada dan dapat dirasakan kehadirannya misalnya adalah dongeng, lagu, tarian, dan lain-lain.
c. Lembaga Sosial
Lembaga sosial juga merupakan salah satu komponen yang ada dalam pembentukan budaya. Lembaga sosial juga memiliki peran yang penting dalam perkembangan peradaban manusia yang mencangkup hubungan interaksi antara manusia yang satu dengan yang lainnya.
d. Sisitem Kepercayaan
Sistem kepercayaan yang ada dalam suatu masyarakat akan mempengaruhi bagaimana manusiaitu bertindak. Sistem kepercayaan juga akan mempengaruhi penilaian yang ada dalam suatu masyarakat tersebut.
Sistem kepercayaan yang dibangun sendiri oleh masyarakat yang ada tersebut juga berpengaruh pada kebiasaan yang dalam masyarakat tersebut. Tidak hanya itu, sistem kepercayaan juga memiliki pengaruh dalam cara pandang hidup, komunikasi, dan makanan apa saja yang dikonsumsi oleh mereka.
Sebagai contoh adalah adanya kepercayaan yang dimiliki oleh suatu masyarakat yang ada di Lamongan. Di dalam daerah tersebut diyakini bahwa orang atau warga lamongan asli tidak diperkenankan untuk mengkonsumsi ikan lele. Hal tersebut didasarkan pada legenda dan kepercayaan yang ada di masyarakat lamongan tersebut.
e. Estetika
Estetika merupakan cerminan dari budaya yang mengutamakan nilai-nilai keindahan. Nilai estetika sering berhubungan dengan karya seni seperti tari, lukisan, musik, dongen, dan lain-lain. Nilai estetika suatu daerah juga berbedaa dengan daerah lainnya.
f. Bahasa
Bahasa merupakan alat yang digunakan manusia untuk menyampaikan informasi dari pembicara ke lawan bicara. Dengan adanya bahasa maka komunikasi dan hubungan antar sesama manusia dapat terjalin dengan baik dan apik.

