Arti Kenakalan Remaja, Jadikan Penuh Arti
Ilustrasi arti kenakalan remaja
Masa remaja adalah masa-masa yang paling indah. Begitu syair lagu yang sering kita dengarkan. Yah, begitulah kenyataannya. Ada yang berhasil melalui tahapan ini dengan baik dan berhasil mengukir prestasi. Namun tak sedikit pula yang gagal dan terjebak dalam berbagai bentuk kenakalan remaja yang meresahkan. Arti kenakalan remaja pun sering dikaitkan dengan perilaku penyimpangan yang melanggar hukum dan sosial.
Sebagai sebuah tahapan dalam periode perkembangan manusia, masa remaja merupakan yang masa paling rentan. Secara psikologis, perubahan kondisi pada masa ini menyebabkan remaja mudah menyerap pengaruh yang datang dari sekitarnya. Kita tentu sering mendengar perilaku remaja yang senang meniru gaya dari para bintang idolanya. Dari gaya rambut, mode busana, maupun gaya hidup artis atau penyanyi idolanya kerap menjadi inspirasi yang mempengaruhi perilaku dan gaya hidup sang remaja.
Keprihatinan Sosial
Menurut ilmu psikologi, kenakalan remaja sering diistilahkan dengan juvenile delinquent. Istilah ini diambil dari Bahasa Latin juvenilis yang berarti anak-anak, anak muda, atau ciri khas ataupun sifat khas pada masa muda.
Sedangkan delinguent berasal dari kata delinguere yang berarti mengabaikan atau terabaikan. Sehingga arti kenakalan remaja adalah ciri atau sifat khas pada periode anak muda yang terabaikan atau mengabaikan lingkungan sosialnya.
Kenakalan remaja merupakan perilaku menyimpang yang dilakukan pada usia remaja, baik menurut norma sosial maupun tata hukum yang berlaku. Dari segi social, perilaku menyimpang ini bertabrakan dengan aturan dan tata nilai sosial. Sedangkan dari segi aturan hUkum, perilaku menyimpang pada kenakalan remaja merupakan bentuk pelanggaran terhadap hukum yang berlaku.
Perilaku menyimpang yang terjadi pada para remaja ini dilakukan sebagai bentuk pengabaian terhadap realitas sosial, sekaligus juga dapat menyebabkan mereka terabaikan secara sosial dari lingkungannya. Karena itulah kenakalan remaja sering menimbulkan keprihatinan berbagai pihak. Apalagi masa remaja merupakan periode penting sebagai bekal berharga untuk memasuki masa dewasa yang lebih matang.
Faktor Pengaruh
Kenakalan remaja tidak bisa dilepaskan dari pengaruh lingkungan dimana remaja tinggal. Lingkungan ini terdari dari keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Dari berbagai bentuk lingkungan yang ada, sebenarnya keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pembentukan kepribadian seorang manusia. Melalui pola asuh dari orang tuanya, seorang anak akan memperoleh berbagai bekal berharga untuk memasuki masa remaja yang penuh gejolak.
Melalui pola asuh yang baik, seorang remaja akan memiliki bekal dalam menghadapi berbagai pengaruh lingkungan, baik dari masyarakat maupun lingkungan yang lebih luas. Termasuk pengaruh media massa, khususnya televisi, yang ditengarai membawa dan memberikan berbagai nilai baru dari sistem modernitas yang lebih kompleks.
Karena itu, memahami arti kenakalan remaja tak bisa dilepaskan dari pola pendidikan dalam keluarga, pengaruh lingkungan, serta perkembangan jaman dengan berbagai tata dan sistem nilai yang dibawanya.
Hanya Tahu Bersenang Senang
Salah satu bagian dari rekomodifikasi gaya hidup di kalangan remaja. Ialah mengkonsumsi sampai titik jenuh, menghabiskan suatu fungsi demi pemenuhan hasrat yang tidak ada habisnya, dan kemudian berlangsung dalam spasialisasi kebutuhan yang berulang-ulang.
Dalam contoh Fesyen, ada istilah Back to: Back to Eighties, Back to Nainties, Back to Nature, Back to Middle Age, Back to Orba Back to Jurrasic sekalian dsb. Dimana istilah itu mengacu kepada nilai intrinsik suatu busana tidak lagi dilihat dari fungsinya: menutup aurat, atau minimal biar tidak telanjang-telanjang amat. Melainkan fungsi simbolik, gaya hidup, spasialisasi, juga mode, yang kesemuanya ditujukan untuk membenamkan manusia dalam kesenangan. Lagipula dorongan untuk melakukan semua itu muncul tidak dari brosur belanja, tapi dari media penyalur ideologinya. Dimana Idy Subandy Ibrahim berpendapat:
“Majalah-majalah yang diperuntukan bagi pria dan wanita (berselera) kelas menengah keatas ini menanamkan nilai, cita rasa, dan gaya yang terlihat jelas dari kemasan, rubrik, atau kolom, dan dengan ideologi yang bisa dilihat dari slogannya yang menawarkan fantasi hidup, seperti “Be Smarter, Richer, & Sexier!” atau “Get Fun!.”
Idy pun berpendapat hal yang serupa terjadi dikalangan anak remaja. Kegalauan mereka dalam pergulatan identitas, dimanfaatkan oleh media untuk memperoleh keuntungan. Dengan slogan yang sama: Get fun. Anak-anak remaja itu tumbuh dengan benda-benda komoditas disekeliling mereka yang belum tentu mereka membutuhkannya.
Get fun merupakan pandangan hidup yang sangat eskapis. Kemelut hidup, kondisi sosial-politik yang tidak menentu, karakter genealogis suatu bangsa yang sedang membangun identitas nasionalismenya, juga didikte bangsa asing. Menjadikan seseorang cenderung melarikan diri untuk mencari ruang ekstase yang bernama gaya hidup dan senang-senang.
Mencoba mencari hiburan dan kemudian menghabiskan barang yang dibeli dengan uang sendiri merupakan hal yang sangat lumrah, sampai-sampai orang dianggap naif bila tidak terdorong untuk melakukannya, tetapi melakukannya ditengah batas yang senjang antara miskin-kaya, nasionalis-partisan, jujur-korup, ditengah ledakan bom terorisme, krisis ekonomi berkepanjangan, konflik antar etnis, dan pendidikan yang compang-camping.
Contohnya dalam salah satu majalah remaja, bersenang senang itu di gambarkan dalam bahasa bahasa yang vulgar,
“Gue beruntung dikaruniai otak yang cerdas dan dikelilingi orang-orang yang sayang ama gue dan mau menyisihkan waktu untuk membimbing gue tanpa menggurui. Adalah menyenangkan jika hidup berdasarkan bakat karunia, dan menyenangkan untuk lepas dari beratnya di gurui –sebagai tanda sayang. “..Wah semua yang dilarang memang menyenangkan buat dilanggar tentu...” If you are Daniel Bedingfeld, akan sangat menyenangkan di lempar bra dan celana dalam (even G-string) setiap manggung, bisa dikumpulin, dicuci, dijual hingga menyaingi toko Victoria Secret!
Get fun, ini memang punya akar yang lebih besar, jelas merupakan eskapisme yang terjebak dalam jerat kapitalisme makna. Tidak tua, tidak muda, tidak remaja dan balita, termasuk ‘calon warga negara’ yang masih dalam kandungan –sudah terjerat kapitalisme diantaranya ‘meminum’ susu pabrik, untuk ibu hamil yang mencobanya hanya untuk iseng dan senang-senang saja.
Kalangan kelas menengahnya saja, membuat klab-klab komunitas, dan memparsialkan harapan dan keinginan manusia untuk berkelompok, namun kelompok kelompok ini cenderung jauh dari produktif, dan tahunya hanya marah dan marah, entah geng motor, balapan di jalan, main musik dengan merusak alat musik, atau sex party.
Get fun secara ideologis mencakup semuanya, bagaikan rantai fetish yang tidak akan pernah ada habisnya. Ketertarikan untuk mengekspos segala hal demi kepuasan pribadi, melanggar tabu, menelisik segala kemungkinan pada posisi -setidaknya untuk tidak merugi. Manusia pada kehendaknya harus memacu dan menstimulir keinginan nafsu primitifnya. Karena itulah pada konsep ini tidak ada rasa tanggungjawab moral terhadap semua tingkah laku budaya manusia.
Loh memangnya tidak boleh bersenang senang? Memangnya tidak boleh bikin hati gembira dan bahagia, bukankah orang dewasa juga melakukannya dengan selingkuh? Dengan jalan korupsi? Dengan jalan mengumpulkan mobil? Dengan jalan bikin lokasi harem?
Sebagian orang dewasa yang lain bersenang senang lewat agama dengan jalan memukuli orang lain yang tidak sepaham, sampai dengan membunuhnya? Sebagian bersenang senang dengan jalan membom orang lain yang tidak bersalah hanya karena dirinya ingin masuk surga, egois banget.
Mengapa remaja yang ingin bersenang senang di persalahkan dan bahkan di anggap jahat? Maka dari itu, resume dari artikel ini adalah, jika remaja menjadi nakal. Itu tandanya remaja yang sehat. Tinggal di arahkan saja kenakalannya menjadi produktif. Arti kenakalan remaja, yang di berikan semacam arti.

