logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Politik dan Pemerintahan

Panduan Menulis Artikel Budaya Politik


Ilustrasi artikel budaya politik
Artikel budaya politik kian digemari. Perilaku budaya politik yang nyeleneh menarik minat publik untuk mengetahuinya secara mendalam. Budaya politik erat kaitannya dengan budaya masyarakat. Budaya politik merupakan cerminan dari budaya masyarakat. Apa yang ada dimasyarakat itu adalah apa yang terlihat dipermukaan. Walaupun pernyataan ini tidak semuanya benar, kebanyakan seperti itu. Bahwa politik di Indonesia itu menyimpan begitu banyak borok terutama yang berkaitan dengan tahta, wanita, dan harta.

Berita Bermutukah?

Artikel budaya politik yang lebih mengedepankan aksi saling serang, apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang bermutu? Satu artikel membahas tentang segala sesuatu yang berkenaan tentang seorang politikus yang sedang naik daun, baik yang baik maupun yang kurang baik. Satu artikel lagi membantah semua penyataan yang ada di artikel yang pertama. Itulah sajian banyak artikel politik yang berkembang saat ini. Apa yang terjadi dengan bupati Garut saat ini merupakan salah satu fenomena saling serang tersebut.

Kalau bukan masuk dalam kategori saling serang, bagaimana bisa perceraian yang terjadi beberapa bulan yang lalu, baru keluar sekarang. Lalu tidak hanya satu, namun ada dua wanita yang dinikahi secara sangat singkat oleh bupati tersebut. Ada yang mengatakan bahwa hal ini berkaitan dengan keinginan sang bupati untuk maju dalam bursa pencalonan gubernur Jawa Barat. Jangan coba-coba mempunyai satu affair yang akan menjatuhkan. Tidak ada kawan sejati dan tidak ada lawan sejati dalam perpolitikan.

Kawan bisa menjadi lawan dan lawan bisa menjadi lawan. Tidak boleh percaya dan terlalu percaya dengan satu orang. Agung Laksono, hampir saja terjatuh akibat wanita. Namun karena bukti yang ada hanya sedikit dan wanita yang berkoar-koar itu bisa diredam, maka selamatlah karir Agung Laksono. Hal ini tidak terjadi dengan Andi Mallarangeng. Ia terjebak dalam korupsi. Kalaupun misalnya, ia yang terkenal pelit memberitahu tentang adanya proyek kepada bahkan keluarganya itu, tidak makan uang hasil korupsi, namun, apa yang terjadi dalam kementerian Olahraga yang merupakan tempatnya memimpin, adalah tanggung jawabnya.

Sehingga ia pun harus menunjukan jiwa ksatria seorang pemimpin. Apalagi, adiknya pun dikaitkan dengan permasalahan ini. Budaya politik di Indonesia ini seolah senang sekali melihat orang lain tidak senang. Politik menjatuhkan itu luar biasa telah menjadi jamur yang sangat banyak. Jamur yang telah menggerogoti hati manusia yang terlibat di dalamnya. Lihatlah apa yang dilakukan orang terhadap Joko Widodo dan Ahok, pasangan gubernur dan wakil gubernur Jakarta yang baru. Aksi mereka malah dikira mau mengambil hati rakyat agar mereka bisa maju mencalonkan diri menjadi presiden dan mungkin juga wakil presiden.

Dengan entengnya Jokowi menanggapi hal tersebut dengan mengatakan bahwa ia tidak mencoba mencari popularitas. Yang terjadi adalah bahwa para wartawan berusaha membuntutinya. Jadi, berita itu dibuat oleh sang wartawan sendiri. Jokowi memang tidak perlu membuat berita. Ia adalah berita itu sendiri. Ahok pun begitu. Mereka berdua menjadi sumber berita yang tiada ada habisnya. Padahal masih banyak gubernur dan wakil gubernur yang ada di Indonesia. Kedua memang mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh gubernur dan wakil gubernur daerah lain. Mereka adalah para pekerja keras.

Penampilan dan kerja keras yang mereka lakukan memang membutuhkan bukti konkrit satu kemajuan yang dirasakan oleh seluruh rakyat yang dipimpinnya. Berita tentang Jokowi-Ahok ini masih menjadi berita yang ditunggu. Seakan tidak ada habisnya. Presiden SBY saja mungkin kalah dengan popularitas yang dimiliki oleh Jokowi. Jangan sebut wakil Presiden Budiono yang seolah tenggelam dalam bayang-bayang SBY. Keadaan ini adalah cerminan dari budaya politik di Indonesia.

Tidak banyak wakil gubernur yang mendapatkan tempat di publik seperti Ahok. Lihat saja apa yang terjadi dengan wakil gubernur Sumatera Selatan. Tidak banyak orang tahu dengan Edi Yusuf. Ia seolah tenggelam sama seperti apa yang terjadi dengan wakil Presiden Budiono. Lain dengan apa yang dilakukan oleh Jusuf Kalla. Ia dengan caranya mencoba mendapatkan porsi yang sama dengan presiden dalam memberikan sumbangsih kepada negaranya. Tidak heran ternyata apa yang dilakukan oleh Jusuf Kalla ini kurang disenangi oleh SBY.

SBY tampaknya lebih senang berkolaborasi dengan orang yang tidak terlalu aktif seperti Jusuf Kalla. Padahal Jusuf Kalla pun banyak melakukan hal-hal yang cemerlang. Ia menjadi penengah kasus Aceh hingga Aceh akhirnya menjadi damai. I ajuga menjadi pendamai di Poso. Jusuf Kalla juga memberikan jalan mulus terwujudnya penggunaan gas di rumah tangga. Tetapi semua yang dilakukan oleh Jusuf Kalla seakan tidak ada apa-apanya. Inilah politik pencitraan. Semua seolah dilakukan oleh presiden. Negara ini seharusnya menjadi melek politik agar tidak mudah tertipu oleh popularitas.

Banyaknya kepala daerah yang terjebak dalam korupsi karena ketidaktahuan mereka terhadap batas-batas yang seharusnya tidak dilanggar. Tidak menutup kemungkinan bahwa sebenarnay mereka tidak makan uang korupsi itu. Namun, karena mereka tidak tahu dan tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, mereka terjebak korupsi. Seorang pemimpin itu tidak boleh hanya sebatas populer. Mereka haruslah orang-orang yang sangat tahu dengan ilmu administrasi pemerintahan. Mereka adalah pemimpin yang harus menguasai semua lini kehidupan dan tidak hanya bermodalkan popularitas.

Rakyat harus tahu dan belajar dengan apa yang telah terjadi saat ini. Melalui artikel yang membahas tentang budaya politik, seharusnya mereka tahu bagaimana seorang pemimpin harus bertindak dalam menjalankan pemerintahannya. Tidak boleh hanya tahu bagaimana menjadi populer. Tanpa ilmu manajemen pemerintahan dan ilmu bagaimana memimpin, seharusnya mereka tidak berani maju menjadi pemimpin. Harus ada ujian terbuka dan ujian tentang kepemerintahan sebelum seseorang maju dalam pemilihan pemimpin daerah atau bahkan presiden.

Akan sangat indah dan objektif kalau rakyat tahu kapasitas seorang pemimpin tentang apa yang ia pimpin. Seorang pemimpin bukan hanya seseorang yang tampak berwibawa tanpa ilmu. Ia adalah seseorang yang sangat menguasai lapangan pekerjaannya. Ia berguru kepada para guru besar yang ada di sekelilingnya agar ilmunya tetap mumpuni.

Budaya Politik Luar Negeri

Misalnya, budaya politik legislatif Korea yang kerap gontok-gontokan hingga adu jotos. Budaya politik legislatif di Indonesia yang disebut Gusdur bak anak TK. Budaya politik di Jepang yang merawat sikap malu. Itulah sekelumit macam budaya politik. Semua itu bisa menjadi bahasan menarik dalam artikel.

Menulis artikel budaya politik harus menarik. Ulasan enak dan mudah dipahami. Berikut ini tips dalam menulis artikel budaya politik.

* Trending. Topik budaya politik yang diambil sebaiknya sedang trending (hangat). Topik yang sedang jadi buah bibir akan lebih banyak dicari pembaca.
* Pemilahan kata. Politik identik dengan kata njelimet. Usahakan Anda memakai kata populer sehingga kalimat yang tersusun mudah dipahami oleh pembaca.
* Ringkas. Anda harus paham bahwa tidak setiap orang mempunyai banyak waktu untuk membaca artikel (panjang). Semakin ringkas bahasa yang Anda tulis, semakin cepat waktu untuk membaca artikel.
* To the point. Ini penting agar pembaca tidak menangkap kesan bertele-tele. Pesan harus straigt pada inti masalah. Menusuk langsung inti gagasan.

Macam Topik

Berikut ini macam topik yang bisa dijadikan referensi dalam menulis artikel budaya politik.
* Jepang. Budaya malu di Negeri Sakura ini kental terasa. Bahkan, politisi di sana tidak segan mengundurkan diri hingga bunuh diri jika tidak kuat menanggung malu. Budaya politik semacam ini layak dikupas. Akar budaya Jepang sebagai Samurai ikut mempengaruhi, seperti kita simak dalam film The Last Samurai yang dibintangi Tom Cruise.


* US. Budaya politik di Negeri Paman Sam mengedepankan national interest. Ingat rivalitas Hilary dan Obama saat kontestasi politik Partai Demokrat. Namun, ketika Obama menang, Hilary legowo. Bahkan, rival Obama, John Mccain, menganjurkan untuk menyudahi konflik politik dengan Obama saat Pemilu. Mccain meminta para pendukung untuk bersatu.


* Indonesia. Budaya politik di Indonesia sempat berada di posisi luhur. Di masa prakemerdekaan, politisi Indonesia berjuang untuk rakyat. Sayangnya, kini budaya politik sering tercoreng dengan kasus korupsi. Budaya politik di Indonesia boleh berbangga soal Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan sebagainya. Namun, itu pun kini seolah jadi macan kertas. Budaya politik di Indonesia menarik karena negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia yang menganut sistem politik demokrasi.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Pelaksanaan Pemilu di Indonesia
  • Kunci-Kunci Memahami Konsep Politik
  • Hukum dan Kekuasaan: Benturan pada Praktiknya
  • Pesawat Angkut Militer: Daratkan Tentara, Menangkan Pertempuran
  • Demokrasi Orde Baru: Demokrasi Bermata Dua
  • Tujuan Demokrasi : Menangkap Pesan dan Suara Rakyat
  • Hak DPR yang Tepat Guna
  • Perbandingan Sistem Politik Negara ASEAN
  • 5 Berita Politik Terhangat
  • Negara Demokrasi dan Kekuasaan Politik
  • Stempel dan Peranannya dalam Kegiatan Institusional
  • Pembayaran Pajak Melalui SPT Tahunan
  • Mengenal Kekuatan Militer Jepang
  • Meleburnya Macam-Macam Sistem Politik
  • Bentuk Partisipasi Politik di Era Social Media
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA