Info Penitng dari Artikel Psikologi Anak dan Remaja
Ilustrasi artikel psikologi anak
Mendidik anak itu gampang-gampang susah, bahkan tidak lebih mudah dibandingkan membesarkannya. Bila Anda terlalu menggampangkan dalam mendidik anak dapat membuat anak terlalu bebas atau merasa tidak diperhatikan.
Namun bila Anda mendidik terlalu keras, bisa membuat anak merasa tertekan dan memberontak. Tak sedikit artikel psikologi anak yang menyorot soal mendidik anak ini.
Emosional Anak
Perkembangan emosional anak seringkali membuat para orang tua bingung. Tak jarang yang menyikapinya secara ekspresif dan keras. Bahkan orang tua sering merasa was-was atau khawatir terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada anak. Termasuk ketika anak berubah menjadi pemalu, pendiam, dan senang menyendiri.
Perasaan malu pada anak mulai muncul saat usia satu tahun. Pada saat itu rasa malu timbul karena anak sudah mulai bisa membedakan antara orang-orang yang sudah dikenal dengan orang-orang yang dianggapnya asing. Perasaan malu ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan bisa karena temperamen anak sejak lahir maupun karena pengaruh perlakuan orang tua terhadap anak.
Harapan Tinggi
Ada beberapa jenis perlakuan orang tua yang membuat anak menjadi pemalu. Berdasarkan dari artikel psikologi anak, diantaranya, harapan yang terlalu tinggi dari orang tua terhadap anak. Para orang tua mengharapkan anak menjadi seseorang yang ‘lebih unggul’.
Baik menyangkut kepintaran, kecerdasan, ekspresi, kelucuan, maupun perkembangan fisik. Namun harapan orang tua ini justru bisa berbalik menjadi tekanan bagi anak ketika berlebihan.
Artikel psikologi anak banyak yang menyorot sikap berlebihan orang tua dalam melindungi anak, justru akan memberikan efek kurang baik pada anak. Orang tua yang terlalu protektif, banyak memberikan larangan, maupun berbagai pembatasan justru akan membuat anak menjadi takut untuk berbuat dan malu terhadap orang-orang di sekitarnya.
Dalam mendidik anak, orang tua biasanya terjebak pada berbagai ketakutan maupun kejengkelan menghadapi perkembangan kejiwaan anak. Larangan maupun pembatasan orang tua merupakan cermin ketakutan apabila anak-anak ingin bermain akan menjadi kotor, terkena penyakit, jatuh, atau ketakutan lainnya.
Sementara pada sisi lain, ketika anak menunjukkan kebandelan dan kebebasan dalam berekspresi seringkali ditangkap sebagai beban yang menjengkelkan orang tua sehingga perlu dibatasi.
Persaingan
Sedangkan faktor lainnya yang mempengaruhi anak menjadi pemalu adalah persaingan antar saudara atau teman sebaya. Seorang anak yang aktif akan mudah bergaul, periang, dan gampang menarik perhatian. Sedangkan anak yang pasif cenderung menarik diri karena kurang mendapat tanggapan dari anak-anak yang lain. Kondisi ini akan semakin membuat anak menjadi pemalu dan tertekan.
Menghadapi anak-anak seperti ini, orang tua perlu melepaskan ambisi dalam mendidik anak. Artikel psikologi anak banyak yang menekankan agar orang tua memberikan kebebasan kepada anak, untuk merasakan apa yang diinginkannya.
Terutama saat anak berusia 1 - 5 tahun, keleluasaan dalam berekspresi ini justru akan mengembangkan kejiwaan anak menjadi seseorang yang aktif. Sehingga anak tidak akan menjadi malu atau takut terhadap lingkungannya.
Mengembangkan Bakat Anak
Bagi sebagian orang tua, bila anaknya mempelajari sesuatu, anak tersebut harus menjadi seorang ahli di bidang itu. Padahal, dengan banyaknya mempelajari sesuatu sedini mungkin tanpa dituntut untuk menjadi yang terbaik, seorang anak akan semakin berani menjelajahi bidang-bidang lain.
Ketika jiwa ingin tahu yang ditunjukkan dengan keinginan kuat menjelajahi keilmuan yang lain, itu berarti anak sudah masuk ke dalam proses pendalaman bakatnya. Kalau saja orang tua tidak terlalu menuntut banyak dan terlalu mendikte anak, maka kemandirian berpikir pada anak akan terbentuk di usia yang semakin kecil.
Pola pikir yang mandiri ini akan menuntun anak semakin cepat untuk menemukan 'dunia'nya. Bila seorang anak telah menemukan dunianya, maka dia akan semakin fokus pada dunia tersebut. Jika sudah begitu, biasanya anak tersebut akan meraih kesuksesan di usia yang sangat muda.
Dengan kata lain, tugas orang tua adalah memberikan ekspos terhadap kehidupan dunia seluas dan sebanyak mungkin. Lalu perhatikan, apa yang diperbuat dan tanggapan anak terhadap dampak dari tereksposnya dia di setiap lingkungan itu. Bila sudah menganalisis dampaknya, orang tua bisa lebih mengarahkan anak untuk lebih memberikan perhatian kepada hal-hal tertentu.
Bagaimana cara memberikan ekspos yang dahsyat kepada anak? Seringlah mengajak anak ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjunginya. City cruising atau touring keliling kota sekitarnya sambil melihat-lihat kehidupan di setiap kota, dapat memberikan pengalaman hidup yang bagus bagi anak.
Siapa tahu dia nanti mau menjadi seorang sosiolog yang handal.Perkenalkan anak kepada metode penelitian. Pengenalan format berpikir seperti dalam metode penelitian akan membuat anak selalu berpikir dengan mendasarkan kepada beberapa teori atau referensi sebelum memutuskan sesuatu.
Berikanlah kesempatan kepada anak untuk mempelajari beberapa jenis alat musik. Permainan musik akan mengasah daya kreasi dan harmoninya.Ajaklah anak untuk mendiskusikan beberapa berita terkini. Bahaslah permasalahan yang ada dengan memakai bahasa anak.
Perkenalkan anak dengan komponen banyak mesin yang ada di rumah, misalnya, komponen pembuat sebuah motor berjalan, komponen komputer, komponen lampu, dan sebagainya.
Hal ini selain dapat membuat seorang anak paham kepada keteraturan dan kedisiplinan dalam menjalankan peran, juga akan membuat anak mengerti bahwa dia harus bekerja sama dengan yang lain untuk meraih sesuatu.
Perhatikan Perkembangan Anak
Dari pertumbuhan dan perkembangan anak maka yang menjadi peran pertama adalah keluarga yang menyusun perkembangan individual pada anak. Dan keluraga adalah elemen yang memberikan pendidikan kepada anak sehingga anak tersebut berkembang menjadi besar dan diberikan ilmu bersosialisasi dengan yang lainnya.
Anak yang motoriknya lebih cepat dari anak yang lainnya biasanya lebih cepat dalam memegang sesuatu dan bisa membedakan warna atau bentuknya terkadang anak seperti ini dia bisa belajar sendiri tanpa harus dipandu oleh orangtuanya.
Anak yang aktif seperti ini selalu tidak mau diam dan apa saja barang-barang yang ada disekitarnya selalu di jajaki, karena rasa ingin tahu anak tersebut terhadapa barang yang ada disekitarnya.
Setiap anak mempunya psikologi dan bakat tersendiri tetapi bakat yang dimiliki anak tidak bisa dilihat secara langsung, bakat yang dimiliki anak berkembang sejalannya perkembangan anak tersebut.
Setelah menemukan bakat dari seorang anak, maka yang harus orangtua lakukan adalah memberikan dorongan yang baik kepada anak agar anak bisa diarahkan ke bakat anak itu sendiri. Anak yang berbakat perkembangannya akan lebih cepat dalam melakukan sesuatu dibandingkan anak seperti biasanya.
Apabila Anda mempunyai anak yang perkembangannya lebih cepat maka Anda harus selalu memperhatikan anak tersebut agar anak tersebut bisa dikontrol perkembangannya. Berikanlah perhatian khusus kepada anak karena anak mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan dari orangtuanya.
Orangtua adalah cermin buat anak-anak mereka baik buruknya tingkah laku orangtua adalah hal yang paling penting bagi anak dalam pembentukan anak sejak dini. Setiap pertumbuhan anak adalah cikal bakal orangtua yang akan dimiliki oleh anaknya saat dewasa nanti.
Di zaman sekarang untuk mengasuh anak dan mengembangkan anak butuh kesabaran, peka terhadap perkembangan anak dan pintar dalam mengurus anak. Banyak orangtua yang tidak peka dengan perkembangan anak saat ini. Dan orang tua tidak menyadari dampak dari akibat pembentukan personaliti yang tidak baik kepada anak-anaknya.
Pendidikan Seks yang Masih Dianggap Tabu
Berbicara masalah pendidikan seks atau psikologi seks selalu menarik untuk dibicarakan dalam artikel psikologi anak ini, karena masalah seks adalah hal yang penting dalam kehidupan makhluk hidup. Seks adalah cara makhluk hidup untuk mempertahankan keturunannya dan bergenerasi.
Psikologi pendidikan seks pada anak seharusnya sudah ditanamkan sejak dini bahkan ketika di dalam kandungan, agar kelak mereka sadar akan gendernya sebagai makhluk sosial yang harus memposisikan diri secara benar sesuai dengan jenis kelaminnya. Karena banyak contoh kasus yang terjadi di masyarakat, seperti penyimpangan seksual, seperti homoseks atau lesbian.
Penyimpangan seks 90% disebabkan oleh lingkungan dan hanya 10% saja yang sifatnya turunan. Itu pun hanya didasarkan pada teori pembelaan bahwa ada yang mengatakan gay itu adalah genetika. Saya sangat tidak sepakat dengan pernyataan semacam itu karena bagaimana pun perilaku seksual dibentuk oleh lingkungan.
Pentingnya pendidikan seks remaja, memang masih dianggap tabu oleh sebagian orang tua Indonesia. Bicara soal seks dengan orang tua dianggap tidak sopan dan tidak baik.Padahal, pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis.

