Artis Cantik Indo di Pentas Hiburan
“Mana hujyan…becyek…nggak ada ojyeeek….” Beberapa waktu lalu, kalimat yang diucapkan oleh Cinta Laura Kiehl ini sangat populer. Kalimat ini biasa saja sebenarnya, tapi menjadi tak biasa karena diucapkan oleh Cinta Laura, artis cantik Indo -Jerman ini dengan logat bule yang sangat kental.
Cinta Laura bukan satu-satunya artis cantik Indo yang wara-wiri di dunia hiburan Indonesia. Masih banyak artis-artis cantik lain yang berdarah Indo alias blasteran. Sebut saja di antaranya: Luna Maya, Dewi Sandra Killick, Rianti Cartwright, Julie Estelle, Cathy Sharon, Marisa Nasution, Nadine Chandrawinata, Rebecca, dan Olivia Jensen Lubis.
Melihat banyaknya artis cantik Indo di pentas hiburan tanah air, tak sedikit yang berpandangan sinis: asalkan punya darah indo (terutama indo Eropa) pasti gampang menjadi artis. Wajah cantik kebule-bulean dan tubuh tinggi semampai. Mata bulat, hidung mancung, bibir tipis, dan kulit putih dari darah Kaukasia plus rambut hitam lurus dari darah Indonesia. Modal yang sangat bagus untuk terjun ke dunia hiburan Indonesia.
Sebenarnya, femonena artis cantik Indo bukan hanya baru terjadi sekarang-sekarang ini. Fenomena ini sudah terjadi sejak lama. Pada dekade 80-an dan 90-an, ada wajah cantik Ida Iasha, Sophia Latjuba, Inneke Koesherawati, dan lain-lain yang kerap menghiasi layar lebar Indonesia. Sebelumnya ada artis Suzzana yang juga berdarah Indo (dan tetap eksis sebagai Ratu Film Horor Indonesia hingga akhir hayatnya).
Latar Belakang Kegandrungan Dengan Artis Indo
Mengapa para artis cantik Indo ini tampak begitu diminati di dalam industri hiburan kita? Mengapa artis-artis berwajah lokal seolah dinomorduakan? Padahal di luar negeri, wajah-wajah lokal Indonesia justru dinilai memiliki kecantikan yang eksotis. Anggun C. Sasmi, misalnya.
Kesukaan kita pada penampilan artis cantik Indo ini dapat kita telusuri dari sejarah panjang bangsa Indonesia. Selama berabad-abad tanah air kita dijajah oleh bangsa Eropa: Portugis, Inggris, dan yang paling lama Belanda. Selama ratusan tahun itu nenek moyang kita terbiasa melihat kecantikan ala Eropa. Kecantikan yang berbeda dengan kecantikan Indonesia. Pernikahan silang antara laki-laki Indonesia dengan perempuan Eropa dan sebaliknya, menghasilkan anak-anak Indo yang memiliki paduan keunggulan dua ras.
Meskipun secara fisik kita telah puluhan tahun lepas dari penjajahan, standar kecantikan yang kita anut masih sering mengacu pada standar kecantikan Eropa. Tubuh tinggi semampai, mata bulat, hidung mancung, bibir tipis, dan kulit putih. Perempuan-perempuan Indonesia pun lalu berlomba-lomba untuk tampil dengan standar kecantikan Eropa itu. Yang paling terlihat adalah dari besarnya keinginan kita untuk memiliki kulit putih seperti Cathy Sharon.
Padahal karena secara genetik kita tidak membawa gen kulit putih, memakai krim pemutih sebanyak apa pun tidak akan membuat kulit kita seputih Cathy Sharon yang Indo-Perancis.
Cukupkah artis-artis cantik Indo itu bermodalkan wajah cantik dan postur yang menawan? Jika ingin dikenal hanya karena kecantikan ragawi, tentu cukup. Namun jika ingin tetap eksis dalam jangka panjang, kecantikan ragawi itu harus ditunjang dengan kemampuan akting. Cantik dan jago akting…hm…siapa yang tak akan terpesona?






