logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Suku    Suku Asmat

Mengenal Asal Usul Suku Asmat dan Tradisinya


Ilustrasi asal usul suku asmat

Sejauh ini Suku Asmat hanya dikenal sebagai salah satu suku di Indonesia yang memiliki seni pahat atau seni ukir  yang mengagumkan. Seni pahat bagi Suku Asmat bukan semata kerajinan melainkan bagian tak terpisahkan dari unsur-unsur keyakinan.

Oleh karena itu, semua masyarakat suku Asmat memiliki kemampuan seni ukir karena kesenian tersebut merupakan bagian dari penyembahan yang dilakukan terhadap nenek moyang atau leluhur yang dipercaya memiliki kekuatan gaib di luar kekuatan duniawi yang mereka miliki.

Kepercayaan seperti inilah yang kemudian mampu menghasilkan keyakinan dan kepercayaan dari mereka untuk bisa mengukir atau memahat kayu yang baik dan berdaya seni tinggi, meskipun tanpa bantuan sketsa sekali pun.

Suku asli dari Irian Jaya atau Papua ini memiliki dua daerah tempat tinggal, yakni daerah sepanjang pantai yang luas dengan daerah sekitar pedalaman dataran rendah yang berawa dan belrumpur. Daerah yang terakhir disebutkan merupakan daerah yang tertutup oleh hutan rimba tropis dengan pohon mangrove dan hutan sagu yang mendominasi.

Oleh sebab itu, suku yang terkenal karena kekhasan ukiran kayunya ini dibagi menjadi dua kelompok masyarakat, yakni kelompok masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai dan kelompok masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman.

Kedua perbedaan tempat tinggal tersebut juga memengaruhi hasil karya cipta masyarakatnya, terutama dalam nilai-nilai kebudayaan. Kedua kelompok masyarakat tersebut memiliki perbedaan dalam hal struktur soisal, bahasa yang digunakan, pola hidup dan cara berpikir, kegiatan keagamaan atau ritual yang dilakukan, dan lain sebagainya.

Selain itu, masyarakat yang hidup di daerah pesisir pantai juga dibagi lagi menjadi dua kelompok, yakni suku Bisman dan suku Simai.

Asal-Usul Suku Asmat

Asal usul Suku Asmat sama seperti suku asli di Selandia baru dan Papua Nugini yang berasal dari rumpun Polonesia dengan ciri-ciri fisik warna kulit dan rambut hitam, kelopak mata bulat, hidung mancung dan berperawakan tegap.

Sebagai bagian dari suku bangsa di Indonesia, suku Asmat dalam kehidupan sehari-harinya berlangsung dengan dua kepemimpinan, yaitu pemimpin formal dari unsur pemerintah dan kepala suku yang berasal dari masyarakat.

Seperti suku lainnya di Papua, seperti suku Yohukimo, Jayawijaya dan suku Mappi, kepala adat atau kepala suku memegang peranan sangat penting dalam tata kelola kehidupan sehari-hari.

Dalam menjalankan program-program resmi pemerintah formal, maka kerjasama dengan kepala suku atau kepala adat ini mutlak diperlukan. Tanpa kerjasama dengan kepala suku, program pemerintah bisa kandas di tengah jalan.

Dalam hal pemilihan kepala suku atau kepala adat bagi suku Asmat, bukanlah jabatan yang turun-temurun seperti kebanyakan suku tradisional lainnya. Juga pemilihan kepala suku ini tidak mengenal pewarisan tahta kepemimpinan seperti dikenal dalam tradisi kerajaan.

Kepala suku bisa berasal dari suku tertua, marga yang dianggap tua atau bahkan bisa diangkat dari seorang yang dianggap berjasa, seperti yang berhasil memenangkan peperangan misalnya. Jadi, setelah kepala suku meninggal, dari unsur-unsur itulah kepala suku baru berasal.

Kepercayaan Masyarakat Suku Asmat

Masalah kepercayaan, di suku Asmat sebelum masuk para misionaris yang membawa agama Kristen Katolik dan Protestan, bahkan belakangan agama Islam, kepercayaan suku Asmat adalah animisme. Ukiran kayu khas suku Asmat pun tidak terlepas dari masalah kepercayaan animisme inilah pada awalnya.

Namun, setelah masuk pengaruh agama, kepercayaan itu sendiri mulai pudar namun tidak demikian dengan kerajian ukir kayunya. Hal-hal yang sifatnya magis dan supranatural, menjadi bagian tak terpisahkan.

Untuk menopang kehidupan sehari-hari, suku Asmat mengenal cara bercocok tanam yang baik terutama berladang. Beberapa jenis komoditas seperti matoa, jeruk, jagung, wortel, keladi telah dikenal dengan baik. Begitu pula dalam hal bagaimana beternak ayam dan babi, bagi suku Asmat bukanlah sesuatu yang dianggap baru.

Tradisi Suku Asmat yang tetap lestari selain seni pahat kayu adalah tradisi berperang. Perang antar suku merupakan hal yang biasa dalam kehidupan suku Asmat, seperti juga suku-suku lain di Papua. Bahkan tradisi perang antar suku ini bisa dibilang sebagai tradisi yang mengerikan.

Bayangkan saja, ketika musuh berhasil dibunuh, biasanya mayat musuhnya itu akan dibawa ke kampung, lalu dipotong dan dibagikan kepada seluruh isi kampung untuk dimakan.

Bahkan lebih sadis lagi, puluhan tahun ke belakang, setelah terjadi perang antara suku dan musuhnya berhasil dibunuh, maka otakanya dibangun dengan daun sago, lalu dipanggang dan dimakan bersama.

Menurut survei terakhir yang dilakukan pemerintah Indonesia, dalam satu kampung dihuni oleh 100 sampai 1000 orang. Secara tradisional masing-masing kampung memiliki satu rumah bujang. Rumah bujang ini merupakan rumah tempat dilangsungkannya berbagai upacara adat dan keagamaan.

Mata Pencaharian Masyarakat Suku Asmat

Pada umumnya, manusia yang hidup di pedalaman sangat erat kaitannya dengan mata pencaharian berburu. Begitu juga dengan masyarakat suku Asmat yang hidup di pedalaman, mereka juga melakukan perburuan berbagai binatang liar untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka dalam hal pangan dan sandang. Beberapa binatang yang sering jadi objek perburuan liar mereka antara lain adalah babi hutan, burung, ular, komodo, dan binatang lain yang hidup di hutan.

Sementara itu, masyarakat suku Asmat yang tinggal di daerah pesisir pantai memiliki mata pencaharian yang sama dengan media yang berbeda. masyarakat kelompok pesisir ini biasanya mencari binatang buruan yang ada di laut atau lebih sering kita sebut dengan nelayan.

Akan tetapi, meskipun terdapat metode dan objek buruan yang berbeda, kedua kelompok tersebut memiliki satu kekhasan yang sama, yakni sama-sama menjadikan sagu sebagai makanan pokok yang wajib dikonsumsi sehari-hari.

Rumah Adat Suku Asmat

Setelah kita mengetahui asal-usul Suku Asmat, kepercayaan yang mereka miliki, serta mata pencaharian yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, kini kita akan berkenalan dengan tempat tinggal mereka atau biasa kita sbeut sebagai rumah adat.

Semua suku tradisional yang ada di dunia ini memiliki rumah adat yang berfungsi sebagai tempat penampungan kelompok masyarakat, atau bahkan tempat melakukan berbagai kegiatan ritual yang berhubungan dengan adat tersebut. oleh sebab itu, setiap rumah adat memiliki ciri khas yang berbeda dengan konsep filosofi yang juga tidak sama.

Begitu juga dengan masyarakat suku Asmat yang memiliki rumah adat dengan filosofi adanya nilai-nilai kesopanan serta keinginan agar terhindar dari campur tangan masyarakat luar suku dalam hal pembuatan rumah adat tersebut.

Masyarakat suku Asmat ini masih sangat memegang teguh pendirian serta kepercayaan primordial yang mereka miliki agar kehidupan mereka senantiasa dilindungi oleh leluhur yang memberikan nilai-nilai kebudayaan tersebut.

Berikut adalah rumah adat suku Asmat yang memiliki fungsi dan peran masing-masing dalam hal memelihara kebudayaan tersebut.

Rumah adat yang pertama adalah rumah Jew, yakni rumah adat yang dibangun demi kepentingan khusus saat melakukan kegiatan yang bersifat tradisional atau menurut ketentuan adat, seperti kegiatan rapat adat, kegiatan membuat aneka kerajinan tangan, membuat berbagai ukiran kayu, serta sebagai tempat tinggal untuk para lelaki bujang. Dengan demikian, rumah Jew sering juga disebut sebagai rumah bujang oleh masyarakat adat setempat.

Rumah adat yang kedua adalah rumah Tsyem, yakni rumah adat yang ditinggali oleh seluruh anggota keluarga. Anggota keluarga yang mendiami rumah adat ini biasanya berjumlah dua tau tiga kepala keluarga.

Rumah adat Tsyem ini diletakkan di sekeliling rumah adat Jew karena ukurannya yang kecil. Namun, kedua rumah adat ini memiliki kesamaan dalam hal pembuatannya, yakni tidak menggunakan materi bangunan berupa paku karena bahan-bahan yang digunakan adalah bahan alami yang terdapat di alam.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Mengenal Adat Istiadat Suku Asmat
  • Mengenal Suku Asmat di Irian Jaya
  • Mengenal Pakaian Adat Suku Asmat
  • Rumah Adat Suku Asmat yang Penuh Filosofi
  • Makalah Suku Asmat - Kupas Tuntas Tentang Suku Asmat
  • Suku Asmat Penghuni Pulau Irian
  • Mempelajari Budaya Suku Asmat Secara Seksama
  • Mengenal Adat Suku Asmat
  • Mengenal Seni Budaya Suku Irian Jaya
  • Mengetahui Bahasa Suku Asmat
  • Kehidupan Suku Asmat yang Unik
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA