Mengenal Gejala dan Terapi Anak Penderita Autis

Autisme atau lebih dikenal dengan autis berasal dari bahasa Yunani, auto yang berarti sendiri. Hal ini disebabakan karena para penyandang autisme, khususnya anak-anak mengalami gangguan perkembangan sehingga tidak mampu berinteraksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.
Sebenarnya, fenomena autis sudah lama dikenal manusia, namun istilah “autis” itu sendiri baru diperkenalkan oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Harvard pada 1943.
Gejala Anak Autis
Gejala autis pada anak biasanya terlihat sebelum anak berusia 3 tahun, bahkan sebagian lagi pada saat kelahirannya. Seorang anak yang menderita autis dapat dilihat dari gejala-gejala berikut ini.
1. Terhambatnya Komunikasi
Anak autis menunjukkan gejala sebagai berikut: terlambat bicara, bicara tidak jelas, tidak mengerti pembicaraan, meniru pembicaraan, berbicara dengan raut wajah datar, bahkan tidak dapat berbicara. Anak penderita autis juga tidak komunikatif, tidak bisa memulai dan menjaga pembicaraan dua arah.
2. Gangguan Interaksi Sosial
Anak yang menderita autis menunjukkan gejala terhambatnya interaksi sosial seperti: menghindari kontak mata, suka menyendiri, menarik tangan orang yang terdekat untuk melakukan sesuatu sesuai keinginannya, tidak suka diajak bermain, tidak bisa mencari teman secara spontan, dan tidak bisa berbagi kesenangan.
3. Memiliki Kendala dalam Bermain
Anak autis biasanya sangat tertarik pada roda sehingga dapat berjam-jam memainkan roda terus menerus, memiliki cara yang aneh saat memainkan mainan, bila menyukai sebuah mainan akan dipegangnya terus-menerus dalam waktu yang lama, hiperaktif (tidak bisa diam, berlarian, lompat-lompatan, berteriak, memukul-mukul), atau hiperpasif (sangat diam, tidak bersuara, tenang)
4. Gangguan Emosi
Hampir dipastikan anak autis sangat minim dalam mengelola emosi. Mereka cenderung tidak mampu berempati, tidak merasakan emosi orang lain, sedih atau senang tanpa sebab, tertawa atau menangis sendiri, tidak segan memukul dan melakukan kekerasan lainnya demi mendapatkan keinginannya.
5. Terganggunya Sensor
Anak penderita autis kadang lebih memilih telanjang daripada menggunakan pakaian karena merasa bahannya tidak nyaman akibat adanya gangguan sensor di kulit. Hampir semuanya juga tidak suka dipeluk dan dicium, memiliki pendengaran yang sensitif, sehingga bila mendengar suara keras langsung menutup mata.
Terapi Anak Autis
Ada kemungkinan anak penderita autis dapat disembuhkan, tergantung dari berat/tidaknya. Untuk mengurangi dan menyembuhkan anak yang telah terdeteksi terkena autis, sebaiknya diberikan terapi khusus terutama bagi mereka yang akan memasuki usia sekolah.
Terapi khusus tersebut antara lain:
1. Terapi komunikasi, agar anak penderita autis dapat melancarkan otot-otot mulut sehingga dapat berbicara dengan jelas.
2. Terapi okupasi, tujuannya agar anak dapat lebih mengontrol gerak dan untuk melatih motorik halus anak.
3. Terapi bermain, agar anak dapat mengerti cara bermain yang baik dan benar.
4. Terapi obat, penggunaan obat yang tepat dan sesuai aturan dapat menenangkan anak pada saat sulit dikendalikan.
5. Terapi makanan, kadar gangguan autis dapat diturunkan dengan pemberian makanan yang tepat.






