logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Al-Quran

Ayat Suci Al Quran Sebagai Pedoman Hidup


Ilustrasi ayat suci alquran

Al Qur’an merupakan bagian dari rukun iman. Begitu pentingnya Al Qur’an sehingga Allah menjadikannya sebagai rukun iman yang ke-empat setelah beriman kepada Rasul. Beriman berarti tidak hanya mengetahui saja, tetapi juga wajib dibaca dan diamalkan ke dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ayat Suci Al Quran sebagai pedoman hidup juga memuat hukum-hukum yang mengatur kehidupan umat beragama, keterangan mukjizat yang Allah berikan melalui nabi-nabi-Nya, serta memuat berbagai ulasan ilmu pengetahun.

Hukum Islam dalam Ayat Suci Al Qur’an

Hukum-hukum yang termuat dalam ayat suci Al Qur’an di antaranya ada hukum perkawinan, hukum waris, hukum perjanjian atau muamalah, hukum pidana, hukum disiplin, hukum perang dan hukum antar bangsa.

Sebagai mukjizat, Allah buktikan dengan adanya ayat yang menerangkan kisah Nabi Musa As., yang diberi kekuatan membelah lautan dengan hentakan tongkat kayunya (QS Asy Syu’araa: 45, 63-66), kemudian mukjizat yang diberikan kepada Nabi Isa as., yang dapat menghidupkan orang yang telah mati (QS Ali ’Imran: 49).

Sedangkan mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW, di antaranya perjalanan Isra’ Mi’raj dalam waktu satu malam (QS Al Israa’: 1), serta diturunkannya Al Qur’an (QS Al Hijr: 9).

Sebagai pedoman hidup, sudah tentu Al Qur’an wajib dibaca bagi umat Islam sedunia. Membaca ayat suci Al Qur’an tidak sama dengan kita membaca buku. Ada beberapa aturan yang harus kita perhatikan. Jika kita membaca dengan tidak benar, akan membuat orang yang mendengarnya tidak mendapat pahala.

Karena hukum membaca dan mendengar Al Qur’an sama, yakni mendapatkan pahala. Sehingga bagi yang sedang membaca atau mengaji Al Qur’an sebaiknya membaca sesuai dengan aturan tajwid atau tanda baca yang ditetapkan Allah dan rasul-Nya untuk membaca Al Qur’an.

Aturan Membaca Ayat Suci Al Qur’an

Membaca ayat suci Al Qur’an itu ada aturannya. Hal ini dikarenakan arti yang salah jikia kita tidak membacanya sesuai dengan aturan yang ditentukan. Salah satu aturan membaca ayat suci Al Qur’an itu harus sesuai tajwidnya. Membaca Al Qur;an juga harus dalam keadaan suci. Dalam membaca ayat suci Al Qur’an kita juga harus memperhatikan aspek adab membaca Al Qur’an yang baik, di antaranya sebagai berikut.

  • Disunnatkan membaca Al Qur’an sesudah berwudhu atau dalam keadaan suci dan bersih. Lalu, mengambil Al Qur’an hendaknya menggunakan tangan kanan dan sebaiknya memeganggnya dengan kedua belah tangan.
  • Disunnatkan membaca Al Qur’an di tempat yang bersih, yang jauh dari najis. Lebih diutamakan membaca di masjid.
  • Disunnatkan membaca Al Qur’an dengan menghadap kiblat, membacanya dengan khusyu dan tenang.
  • Mengenakan pakaian yang pantas. Untuk wanita mengenakan jilbab dan bagi laki-laki mengenakan sarung.
  • Ketika membaca Al Qur’an, mulut hendaknya bersih, tidak sedang makan, minum, dan sebaiknya sebelum membaca Al Qur’an mulut dan gigi kita bersihkan terlebih dahulu.
  • Sebelum membaca Al Qur’an disunnatkan membaca ta’awwudz, yang berbunyi, “a’udzubillahi minasy syaithanirrajim”, dan diakhiri dengan bacaan “shadaqallahul azim”.
  • Membaca Al Qur’an dengan tartil, yaitu membaca dengan tenang dan pelan-pelan dengan suara yang bagus lagi merdu.
  • Membaca Al Qur’an dengan khusyu’ , karena sentuhan dari ayat suci Al Qur’an yang dibaca bisa menyentuh jiwa dan perasaan.

Keajaiban Makhluk Ciptaan Allah dalam Ayat Suci Al Qur’an

Memikirkan hal-hal yang diciptakan oleh Allah Swt, merupakan perbuatan yang sangat penting dan sangat dianjurkan. Di dalam ayat suci Al Qur’an, Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi mereka yang berfikir” (QS. An-Nahl: 11)

Allah Swt tidak menyukai orang-orang yang tidak memanfaatkan potensi akalnya untuk merenungkan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya, serta tidak mengambil hikmah dari segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya. Allah Swt telah berfirman:

“Berapa banyak tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di langit dan di bumi yang berlalu begitu sja. Yang demikian itu karena mereka tidak mempedulikannya” (QS. Yusuf: 105).

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dengan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi siapa saja yang mempunyai akal (dan berfikir). Yaitu orang-orang yang selalu mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, atau dalam keadaan tidur. Dan mereka merenungkan kejadian di langit dan di bumi” (QS. Ali Imran: 190-191).

Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Swt pada Penciptaan Manusia

Allah Swt memerintahkan kepada manusia untuk merenungkan penciptaannya, tidak hanya pada satu ayat suci Al Qur’n saja. Allah Swt berfirman:

“Hendaklah manusia melihat dari apa ia diciptakan” (QS. Ath-Thariq: 5)

“Dan terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah pada diri kalian. Apakah kalian tidak melihat?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)

“Wahai sekalian manusia, jika kalian meragukan ahri berbangkit, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari debu, kemudian dari air mani, kemudian menjadi segumpal daging yang telah berbentuk, maupun belum berbentuk, agar Kami dapat menjelaskan kepada kalian. Kami juga telah menetapkan di dalam rahim-rahim apa yang kami kehendaki hingga batas waktu yang telah ditentukan. Kemudian Kami keluarkan kalian menjadi bayi, hingga kalian mendapatkan bentuk yang sempurna. Sebagian ada yang mati, dan sebagian yang lain ada yang mencapai usia lanjut, sampai menjadi pikun terhadap apa yang pernah diketahuinya” (QS. Al-Hajj: 5)

“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja. Bukankah pada mulanya ia hanya berupa air mani sebelah kanan. Kemudian berupa segumpal daging yang telah diciptakan dan telah dibentuk.kemudian Allah menjadikan darinya berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan. Bukankah Allah memiliki kekuasaan untuk menghidupkan orang yang telah mati?” (QS. Al-Qiyamah: 36-40)

“Bukankah Kami telah menciptakan kalian dari setetes air yang hina lagi menjijikkan. Dan Kami kukuhkan air itu di tempat yang kokoh (rahim) hingga batas waktu yang telah Kami tentukan. Maka Kami adalah sebaik-baik penentu” (QS. Al-Mursalat: 20-23)

Ini adalah ayat suci Al Qur’an yang mengajak manusia untuk berpikir dan merenungkan awal mula manusia diciptakan, proses selanjutnya, hingga kesudahannya. Diri manusia dan kejadiannya merupakan bukti yang terbesar bahwa Penciptaannya adalah benar adanya. Dan diri manusia adalah bukti yang paling dekat akan adanya manusia itu sendiri.

Dalam diri manausia terdapat keajaiban yang menunjukkan kekuasaan Allah Swt sebagai penciptanya, yang apabila diukur dengan bilangan umur manusia, maka umur tersebut akan habis jika digunakan untuk memikirkan sebagian saja dari kebesaran Allah Swt. Tetapi manusia banyak yang lalai akan dirinya serta tidak mau merenungkannyadan tidak mau bersyukur.

Seandainya saja manusia mau merenungkan tentang penciptaan dirinya maka apa yang ia temukan dari perenungan itu sudah mencukupi untuk tidak berbuat ingkar terhadap Allah Swt. Allah Swt berfirman:

“Binasalah manusia, alangkah ingkarnya manusia. Dari apa ia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang menjijikkan, kemudian ditentukan. Kemudian jalannya dipermudah. Kemudian dimatikan dan dikuburkan. Kemudian, jika Allah Swt menghendaki, ia akan dikumpulkan untuk dimintai pertanggung jawaban” (QS. ‘Abasa: 17-22)

Keindahan dan Keajaiban pada Penciptaan Langit

Sesungguhnya sebagian dari keindahan ciptaan Allah Swt di alam raya ini adalah langit. Lihatlah betapa tingginya langit, betapa luasnya, betapa besarnya, dan betapa indah bentuknya. Lihat pula keajaiban pada matahari, bulan, bintang-bintang, ukuran-ukurannya, bentuk-bentuknya, dan perbedaan garis edarnya.

Tidak ada satu pun benda langit yang tidak mengandung hikmah. Langit merupakan makhluk yang paling kuat, paling indah, dan paling komplet dibandingkan tubuh manusia. Bahkan apa saja yang ada di bumi tidak sebanding dengan apa saja yang ada di langit. Allah Swt berfirman:

“Apakah kalian lebih kuat daripada langit yang Allah bangun? Allah mengangkat atapnya dan meratakannya” (QS. An-Nazi’at: 27-28)

“Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi, silih berganti malam dan siang, bahtera yang berjalan di atas lautan dengan membawa apa yang bermanfaat bagi manusia, air yang diturunkan oleh Allah dari langit, yang dengannya Allah menghidupkan bumi setelah matinya, dan Allah menyebarkan makhluk melata di muka bumu, hembusan angin dan mega yang ditundukkan di antara langit dan bumi, sungguh merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah bagi mereka yang berfikir” (QS. Al-Baqarah: 164)

Allah Swt memulai dengan menyebut langit sebelum menyebut yang lainnya. Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tandatanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal” (QS. Ali Imran: 190)

Bumi, lautan, udara, dan semua yang ada di bawah langit, jika dibandingkan dengan langit bagaikan setetes air di lautan. Oleh karena itu, ayat suci Al Qur’an sering kali menyebut langit dalam ayat-ayatnya dengan tujuan sebagai kabar tentang keluasan langit dan kebesarannya, do’a ketika melihatnya, sebagai sumpah, sebagai petunjuk akan kekuasaan Pencipta langit, sebagai petunjuk akan perawatan-Nya pada langit dan keesaan-Nya dan sebagainya.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Isi dan Kandungan Kitab Suci Al-Quran
  • Seni Bacaan Quran: Antara Pendukung dan Penentang
  • Al-Quran pun Bicara Besi
  • Bukti Kebenaran Mukjizat Al-Qur'an
  • Pandangan Surga dan Neraka Menurut Beberapa Agama
  • Kombinasi Nama-nama Bayi Islam Pilihan
  • Kandungan Pelajaran dalam Surat Yusuf Ayat 3-33
  • Ayat ul Kursi, Ayat Paling Agung
  • Metode Tafsir Alquran
  • Ilmu Bantu bagi Para Ahli Tafsir Quran
  • Manfaat Surat Al Ikhlas
  • Sejarah Penyusunan Ayat Al-Quran
  • Ebook Islam – Al Quran Elektronik
  • Sumber Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Terlengkap
  • Tafsir Al-Qur′an Online – Gunakan Saja Situs altafsir.com
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA