logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Al-Quran    Bacaan Al Quran

Tujuh Bacaan Al quran Mutawatir

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Al Quran itu diturunkan dalam tujuh huruf (tujuh dialek), sebagaimana dinyatakan Rasullullah Saw dalam hadisnya;

“....Sesungguhnya Al Quran ini diturunkan dalam tujuh huruf (tujuh bacaan/dialek) maka bacalah yang kau anggap mudah.”

Islam terus berkembang luas ke seluruh penjuru dunia, dan masanya pun semakin jauh meninggalkan zaman kenabian. Dalam perjalanannya tentu saja melahirkan berbagai permasalahan-permasalahan. Tidak terkecuali permasalahan ke-Al quran-an.

Salah satu permasalahan paling mendasar yang berkaitan dengan Al quran adalah masalah bacaan (dialek). Bahkan pada zaman Rasulullah pun permasalahan ini sempat menimbulkan ketegangan di antara para sahabat.

Kriteria dan ketentuan bacaan Al quran yang diakui

Perbedaan dialek ini sangat berpotensi menimbulkan perpecahan dan kekacauan dalam tubuh ummat karena kurangnya pemahaman terhadap kenyataan ini. Para ulama serta pengahafal Al quran cepat menangkap isyarat tersebut dan segera mengambil tindakan nyata untuk menyelamatkan kemurnian Al quran.

Mereka segera melakukan penelitian untuk menguji bacaan Al quran yang dibawa oleh orang-orang yang mengaku bahwa ayat-ayat Al quran yang dibawanya dengan dialek tertentu tersebut bersumber dari Rasulullah saw. Penelitian tersebut dilakukan dari segi sanad dan qiraat dengan menggunakan kriteria dan ketentuan yang disepakati oleh ulama islam.

Adapun kriteria dan ketentuan tersebut adalah sebagai berikut:  

  • Sanadnya harus shahih.

Maksudnya bacaan Al Quran tersebut bersumber dari guru-guru yang jelas, tertib, tidak cacat dan memiliki sanad yang bersambung hingga sampai kepada Rasulullah saw.  

  • Sesuai dengan khath/rasam ustmani

Yaitu metode yang disepakati dalam penulisan Al quran semenjak zaman khalifah Ustman bin affan. Metode ini dinamakan dengan ‘Ar-Rasmul Ustmani Lil Mushaf’, yaitu dengan menisbatkan kepada Ustman.  

  • Sesuai dengan kaidah tata bahasa ara

Enam tingkatan bacaan Al quran

Berdasarkan penelitian yang berlandaskan kriteria-kriteria yang telah disepakati oleh para ulama di atas, maka ditetapkan bahwa bacaan Al quran itu ada enam tingkatan:

1. Mutawatir.

Ini adalah tingkatan tertinggi dan diakui oleh para ulama Al quran dan ulama hukum islam lainnya sebagai bacaan Al quran yang sah. Bacaan ini diriwayatkan oleh sejumlah perawi yang sangat banyak, terpercaya, tidak memiliki cacat dan memiliki sanad yang bersambung hingga sampai kepada Rasulullah saw.

2. Masyur.

Sanad bacaan Al quran itu shahih namun jumlah perawinya mencapai jumlah mutawatir. Tingkatan ini juga diakui sebagai bacaan yang sah.

3. Ahad

Bacaan ini banyak menyalahi kaidah tata bahasa atau rasam ustmani namun ia memiliki sanad yang shahih. Para ulama sepakat bahwa tingkatan bacaan ini tidak wajib diakui sebagai bacaan yang sah.

4. Syadz

Bacaan ini tidak memiliki sanad yang shahih, banyak menyalahi tata bahasa dan rasam ustmani sehingga tidak diakui sebagai bacaan Al quran yang sah.

5. Mudraj

Bacaan ini tidak diakui sebagai bacaan al quran yang sah, karena mengandung kalimat tambahan terhadap ayat-ayat Al quran.

6. Marudlu’

Tingkatan ini sangat menyimpang jauh dari kebenaran Al quran yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Oleh karena itu bacaan ini tidak diakui sebagai bacaan yang sah.

7 macam bacaan al quran yang diakui

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa bacaan yang memenuhi syarat dan kriteria mutawatir serta disepakti oleh para ulama hanya ada tujuh macam bacaan. Bacaan ini dsimbolkan dengan ‘nama’ para ahli Al quran yang mempopulerkannya, yaitu:

1. Qiraat Nafi’

Dipopulerkan oleh Nafi’ bin Abdurrahman bin Abi Nuaim al-Laitsy. Perawinya yang terkenal ialah Qalun dan Warsy.

2. Qiraat Ibnu Katsir

Dipopulerkan oleh Abdullah bin Katsir. Perawinya yang terkenal ialah Qunbul dan al-Bazzi.

3. Qiraat Abu Amer

Dipopulerkan oleh Abu Amr bin ‘Alla’, perawinya yaitu Ad-Duri dan As-Susi.

4. Qiraat Ibnu Amir

Dipopulerkan oleh Abdullah bin Amir dan perawinya yang terkenal yaitu Ibnu Zakwan dan Hisyam.

5. Qiraat Ashim

Dipopulerkan oleh Ashim bin Abi Nujuud. Perawinya yang cukup terkenal adalah Syu’bah atau Abu Bakar dan Hafs bin Sulaiman.

6. Qiraat Kisa’i

Dipopulerkan oleh Ali bin Hamzah al-Kisa’i. Perawinya ialah Hafs bin Umar (ad-Duri) dan al-Laitsy bin Khalid.

7. Qiraat Hamzah

Dipopulerkan oleh Hamzah bin Hubeib dan perawinya ialah Khallaf bin Hisyam dan Khallad bin Khallid.

Tujuh Qiraat ini sangat populer di kalangan ahli quran dengan sebutan “Qiraat Sab’ah” (Qiraat tujuh). Sampai saat ini diakui sebagai qiraat yang memiliki derajat mutawatir dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Perjalanan Sejarah Pembukuan Al Quran
  • Seni Bacaan Quran: Antara Pendukung dan Penentang
  • Membedah Ayat-Ayat Al-Quran
  • Kisah di Balik Ayat Al-Kursi
  • Ilmu Bantu bagi Para Ahli Tafsir Quran
  • Mengenalkan Allah pada Anak
  • Tafsir Surat Al Ikhlas, Sepertiga Al Quran
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA