Bersiap Menghadapi Badai Matahari Tahun 2012
Ilustrasi badai matahari tahun 2012
Badai matahari tahun 2012 sungguh membuat heboh warga bumi beberapa tahun terakhir ini. Sejumlah media, dengan mengutip para ahli, meramalkan bahwa pada tahun 2012 akan terjadi peristiwa dahsyat yang disebut badai matahari (solar blast). Pada saat itu akan terjadi semburan energi di permukaan matahari yang besarnya setara dengan seratus juta kali bom hidrogen!
Ledakan energi dahsyat itu, menurut sejumlah ahli, akan membuat bumi dilanda badai geomagnetik. Badai geomagnetik tersebut akan menghancurkan pembangkit listrik, merusak sistem komunikasi, membuat pesawat terbang jatuh, merusak pasokan makanan, dan mematikan jaringan internet. Para pakar juga mengatakan bahwa matahari bakal mencapai puncak krisis peredarannya pada tahun 2013. Dampak peristiwa itu adalah energi magnetik matahari akan bertambah besar sehingga memicu terjadinya radiasi badai. Akibatnya dahsyat sekali, akan timbul kobaran api di alam semesta.
Para pakar tersebut juga mengatakan bahwa kondisi seperti itu terjadi setiap seratus tahun sekali. Pada tahun 1859, kobaran api seperti itu pernah terjadi. Waktu itu, sekitar dua pertiga langit tampak merah membara. Kondisi seperti ini disebut-sebut bakal terjadi lagi dan di beberapa kota besar seperti London, Paris, dan New York akan terjadi badai dahsyat. Pendeknya, diduga akan terjadi kiamat pada 2012, seakan-akan membenarkan ramalan banyak pihak, termasuk kisah dalam film 2012.
Siklus 11 Tahun
Benarkah akan terjadi kiamat akibat badai matahari? Apa sebenarnya yang disebut badai matahari? Sebenarnya, badai matahari bukan peristiwa yang langka. Permukaan matahari selalu diwarnai letupan-letupan, mulai kecil hingga besar, dengan frekuensi mulai beberapa kali dalam sehari hingga sekali dalam seminggu.
Kira-kira tiap 11 tahun sekali akan terjadi badai yang besar. Inilah yang disebut siklus sebelas tahunan badai matahari. Badai matahari pertama kali diamati oleh Richard Christopher Carrington dan secera terpisah oleh Richard Hodgson pada 1859 sebagai titik-titik yang tampak lebih terang dibanding permukaan matahari di sekitarnya.
Sinar X dan radiasi ultraviolet yang dilepaskan pada peristiwa badai matahari bisa memengaruhi ionosfer bumi dan mengganggu komunikasi radio jarak jauh. Emisi gelombang radio langsung dengan panjang gelombang di level desimeter bisa mengganggu kerja radar dan perangkat lain yang bekerja pada frekuensi tersebut.
Bukan Kiamat
Namun, masyarakat tidak perlu khawatir secara berlebihan. Menurut seorang ahli dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), badai matahari pada 2012-2015 bukan pertanda kiamat seperti yang diisukan banyak pihak. Menurut Clara Yono Yatini, ahli Lapan tersebut, badai matahari tidak akan menghancurkan peradaban secara langsung. Yang akan terkena efeknya secara langsung adalah perangkat berteknologi tinggi, seperti satelit dan komunikasi radio.
Guna meredam kekhawatiran akibat merebaknya isu kiamat yang ditimbulkan badai matahari, Lapan berupaya terus-menerus menyebarkan pengetahuan mengenai dampak aktivitas matahari, dan itu pula yang sedang coba AnneAhira.com lakukan sekarang. Masyarakat diharapkan lebih paham tentang dampak yang bisa terjadi dengan mengambil langkah antisipasi seandainya terjadi badai matahari pada tahun 2012 hingga 2015 itu.
Bagaimana Menyikapinya?
Teman, terlepas dari semua pendapat yang ada, tahun 2012 tidak perlu disikapi secara berlebihan. Kita tahu, bencana bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan dalam bentuk apa saja. Jika kita ingin mengambil sisi positif dari 'isu' bencana 2012 ini, boleh jadi itu merupakan ajakan dan peringatan agar kita selalu mawas diri, dan selalu ingat kepada Tuhan, karena kehidupan di dunia fana ini hanyalah sebentar dan sementara saja.
So, tidak perlu takut dengan ramalan 2012. Ramalan-ramalan tentang kiamat sudah banyak dan sering ada sejak zaman dulu, tidak hanya untuk tahun 2012 saja, dan faktanya banyak yang meleset! Yang namanya bencana alam bisa terjadi kapan saja. Jadi, lebih baik kita serahkan saja semuanya --selalu-- pada Sang Illahi. Badan matahari tahun 2012 yang terjadi pada Januari 2012 termasuk badai matahari terbesar dalam siklusnya yang ke-24. Meskipun dampak badai matahari tahun 2012 tergolong kecil, tapi dampaknya masih berlangsung di Indonesia.
Menurut para peneliti badai matahari 2012 dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Bandung, Badai matahari yang terjadi pada senin 23 Januari 2012 yang lalu merupakan badai matahari yang tergolong jenis tipe II. Tipe itu menandakan adanya gelombang kejut karena ada partikel matahari yang meloncat. Dari hasil pengamatan Lapan, dampak badai matahari tahun 2012 sudah sampai ke bumi dan terasa di belahan bumi Indonesia. Badai matahari mengganggu lapisan ionosfer sehingga berdampak gangguan terhadap komunikasi radio yang terjadi pada sore harinya.
Dampak badai matahari tahun 2012 yang berlangsung pada Januari lalu ini ada yang langsung berimbas ke bumi, ada juga yang tidak langsung. Dampak badai matahari secara tidak langsung akan terjadi menjelang satu hari hingga empat hari. Gangguan yang terjadi di lapisan ionosfer akibat badai matahari bisa berdampak pada kinerja satelit dan mengakibatkan gangguan sinyal telepon seluler. Namun, belum ada laporan yang menunjukkan gangguan akibat badai matahari yang mengganggu kinerja gelombang komunikasi telepon seluler.
Sampai sekarang, Lapan pun terus memantau kondisi matahari yang aktivitasnya kini menuju masa puncak badai matahari pada 2013 mendatang. Selain itu, lapan pun sedang menyiapkan peringatan dini ke pemerintah dan masyarat terkait badai matahari dan efek yang ditimbulkannya. Menurut seorang ahli dari ITB, badai matahari yang menghantam bumi pada Januari lalu kini sudah melewati masa kritisnya. Menurut ahli dari ITB itu, waktu badai matahari hanya beberapa jam. Bagian bumi yang paling besar terkena badai matahari adalah kawasan utara bumi, seperti kutub utara.
Badai matahari tahun 2012 itu memancarkan gelombang kejut sejauh 150 juta kilometer. Saat badai terjadi, gelombang kejut tersebut menyebar sampai merkurius, venus, dan bumi, selanjutnya menyebar ke planet-planet lainnya. Jadi, bisa dikatakan bahwa badai matahari yang terjadi pada Januari 2012 kemarin hanya lewat ke bumi.
Menurut ahli dari ITB itu, saat badai matahari terjadi, biasanya terjadi ejeksi massa korona, yaitu lontaran massa dari korona matahari, khususnya proton dengan kecepatan tinggi. Ejeksi massa korona inilah yang menyambar satelit komunikasi atau sampah-sampah antariksa yang berada di luar orbit bumi. Menurut peneliti asal ITB tersebut, seharusnya tidak ada dampak yang terasa bagi Indonesia. Hal ini dikarenakan selain tidak terlewati jalur ledakan, satelit komunikasi selama ini juga tidak terganggu. Namun, untuk memastikan dampak tersebut, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) sudah memiliki detektor. Meskipun badai matahari telah berlalu, Lapan tetap sedang mengkaji efek yang ditimbulkan.
Selain badai matahari yang terjadi pada Januari 2012, badai matahari tahun 2012 pun terjadi pada Maret 2012. Badai matahari yang yang terjadi pada Maret berasal dari dua ledakan matahari terbesar dalam kurun waktu 5 tahun. Badai matahari yang terjadi pada Maret 2012 itu mengalahkan badai matahari yang terjadi pada Januari 2012. Badai matahari tahun 2012 yang menghantam bumi pada Januari dan Maret yang lalu bisa mengakibatkan munculnya aurora. Fenomena ini bisa dinikmati oleh warga bumi yang berada di wilayah lintang tinggi, seperti kawasan Amerika Utara.
Selain berdampak pada gelombang komunikasi radio, badai matahari pun berdampak pada padamnya listrik, gangguan koneksi internet, dan gangguan pada sistem perbankan. Namun, badai matahari tidak menyebabkan peningkatan suhu bumu dan cuaca ekstrem.
Itulah penjelasan mengenai badai matahari tahun 2012. Semoga penjelasan tersebut bermanfaat bagi Anda.

