logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Suku    Suku-Suku Di Indonesia

Dua Belas Langkah Mengenal Baduy Banten


Ilustrasi baduy banten
Suku Baduy Banten menarik untuk dipelajari. Begitu banyak hal yang menarik dari suku satu ini. Ketidakinginan mereka mengadopsi modernitas merupakan sesuatu yang patut dihargai. Kehidupan mereka yang begitu menghargai alam dan lingkungannya juga sangat mengagumkan. Namun, memang ketika melihat dan mengamati suku satu ini, tidak perlu mendiskusikan secara mendalam agama apa yang mereka anut. Kepercayaan itu adalah hak mereka dan orang lain hanya bisa mendoakan agar orang-orang baik ini mendapatkan hidayah.

Tidak Terasing

Suku Baduy tidak bisa dikatakan sebagai suku terasing yang terlunta-lunta. Mereka mempunyai budaya dan cara hidup tersendiri. Mereka berkembang dengan caranya dan mempertahankan diri dengan teknik tersendiri. Mereka tidak kelaparan dan mereka tidak merasa harus mengemis kepada orang lain termasuk pemerintah. Mereka tahu bagaimana bercocok tanam dan mereka tahu bagaimana mendidik anak-anak mereka.

Suku Baduy ini mempunyai peradaban tersendiri. Mereka mempunyai tata cara berkomunikasi dan tata cara bergaul yang sudah dipahami sejak lama. Mereka mempunyai budaya yang mereka rayakan dan mereak sambut dengan gegepa gempita. Mereka hanya tidak mau diganggu oleh siapapun. Telah ada adat dan hukum adat yang akan menghukum bagi yang melanggar adat. Hukum pernikahan dan hukum-hukum lainnya telah mereka tekuni dan mereka pelihara selama ini.

Masyarakat yang berada di luar suku Baduy ini hendaknya menghargai dan menghormati apa yang menjadi keyakinan dan kepercayaan mereka. Kalaupun mereka beribadah seperti orang Islam yang dicampur dengan niali-nilai kepercayaan seperti dalam agama Hindu, itulah satu leburan budaya yang mereka rasakan sejak mereka terlahir ke dunia. Bahwa mereka tidak boleh melakukan ini dan tidak boleh melakukan itu, adalah sesuatu yang memang harus dilakukan agar alam dan lingkungan tetap terjaga.

Adanya penebangan hutan dan pemanfaatan hasil hutan yang begitu besar, sebenarnya menjadi salah satu hal yang memprihatinkan. Bukannya orang Baduy ini bodoh. Mereka cukup cerdas dan mungkin karena hati mereka bersih, secara naluriah, mereka lebih peka dan lebih mampu menerapkan pola hidup yang lebih baik yang bisa membuat keseimbangan yang baik dalam jiwa dan raga. Mereka menghargai kaki mereka lebih dari kepala.

Sederhana saja alasan yang dilontarkannya. Tanpa kaki akan sangat sulitlah membawa kepala. Tetapi janga dipanjangkan kalimat ini dengan kata-kata, ‘tanpa kepala ....’ Menghargai pendapat mereka memungkinkan membuka pintu untuk lebih banyak belajar tentang mereka. Walaupun ada orang-orang yang tinggal di Baduy Luar yang sebagian telah mengadopsi modernitas, orang-orang yang di kediaman khusus untuk Baduy Dalam, tetap teguh dan merasa bahagia dengan gaya hidupnya sekarang.

Kebahagiaan itu memang tidak bisa diukur dengan harta dan kekayaan serta besarnya rumah. Ketenangan dan kedamaian itu tercipta dari hati yang bersabar dan bersyukur. Tanpa adanya rasa sabar dan bersyukur, akan sangat sulit melihat betapa indahnya dunia ini. Hingar bingarnya kehidupan ini terkadang malah membuat banyak orang lupa. Mereka berebut memperoleh apa yang paling hebat dan paling banyak. Padahal, tdai mesti apa yang paling hebat dan paling banyak itu memang membahagiakan.

Beberapa Hal Tentang Baduy

Pertama. Suku Baduy yang ada di Banten merupakan salah satu kekayaan Indonesia. Suku Baduy adalah sebutan populer untuk orang Kanékés yang bermukim di Desa Kanékés sebelah selatan Kecamatan Leuwidamar, Lebak, Banten. Luasnya sekitar 5.101,85 hektar, terdiri dari perkampungan, semak belukar, ladang-ladang, dan hutan.

Kedua. Orang Kanékés adalah orang Sunda dan berbahasa Sunda, sebagai sebuah tipe masyarakat Sunda lama. Bentuk, ukuran tubuh, dan warna kulit sama seperti umumnya urang Sunda. Perbedaannya pada sistem dan pola hidup bermasyarakat. Berabad lamanya mereka terisolir. Memiliki sikap hidup yang menolak budaya luar, sebagai pertahanan budaya warisan leluhur.


Ketiga. Beberapa pendapat tentang asul usul orang Kanékés:
1. Mereka berasal dari keturunan pengikut Prabu Siliwangi yang mengungsi ketika serangan bala tentara Islam dari Banten.
2. Mereka adalah kelompok masyarakat yang beragama Hindu dari daerah Gunung Pulosari yang terdesak oleh kekuasaan kesultanan Islam Banten.
3. Orang Kanékés meyakini telah menetap di tempat itu sejak masa purba, sebagai keturunan dari Nabi Adam.
4. Kanékés adalah salah satu Mandala, atau Kabuyutan, yang didirikan pada masa Kerajaan Sunda Rakéyan Darmasiksa (1175-1297 M) yang bertugas melaksanakan Tapa di Mandala. Sementara tugas Tapa di Nagara dilakukan oleh penduduk yang berada di luar wilayah mandala.

Keempat. Kepercayaan orang Kanékés ialah agama Sunda Wiwitan. Wiwitan berarti jati, mula, asal, sejati. Menurut Carita Parahiyangan disebut agama Jatisunda sebagai agama Sunda Asli. Kekuasaan tertinggi adalah Sang Hyang Keresa atau Nu Ngersakeun (Yang Menghendaki), disebut juga Batara Tunggal, Batara Jagat, Batara Séda Niskala.

Kelima. Menurut mitologi Kanékés, ada alam Buana Nyungcung sebagai tempat teratas untuk Nu Ngersakeun, Buana Panca Tengah sebagai dunia makhluk hidup, dan Buana Larang sebagai tempat neraka. Tempat paling suci di dunia ini adalah Sasaka Pusaka Buana dan Sasaka Domas, letaknya di Kampung Dalam yang menjadi pusat lingkungan Kanékés.

Keenam. Orang Kanékés memegang teguh tugas dan pantangan yang diyakini harus dijaga selama hidup di wilayah mandala. Mandala adalah tempat suci pusat kegiatan keagamaan. Orang yang berada di mandala mengabdikan diri bagi kepentingan hidup beragama. Tugas mereka dirumuskan sebagai berikut:

1. Memelihara (ngareksakeun) Sasaka Pusaka Buana.
2. Memelihara Sasaka Domas.
3. Mengasuh penguasa dan mengemong kaum pejabat, ngasuh ratu ngajayak ménak.
4. Mempertapakan nusa 33, sungai 65, dan pusat 25 negara, ngabaratapakeun nusa telu puluh telu, bangawan sawidak lima, pancer salawé nagara.
5. Berburu dan menangkap ikan untuk upacara Kawalu, kalanjakan kapundayan.
6. Membakar dupa untuk memuja dalam upacara ngawalu dan ngalaksa.

Ketujuh. Baduy yang ada di Banten memiliki 32 kampung yang secara adat dibagi pada 3 wilayah: Wilayah Tangtu, penduduknya disebut Urang Kajeroan atau Baduy Jero yang berada paling dalam dan jauh dari pintu masuk wilayah Kanékés. Mereka tinggal di Kampung Cibéo, Cikeusik, Cikartawana. Wilayah Panamping dan wilayah Dangka, penduduknya disebut Urang Kaluaran atau Baduy Luar.

Delapan. Setiap kampung Baduy Jero dipimpin oleh seorang kepala atau Puun. Bawahan Puun ialah Seurat bertugas membantu memelihara huma sérang. Barésan bertugas menjaga keamanan dan ketertiban. Jaro Tangtu ialah sebutan pejabat harian di wilayah Tangtu, Kokolot untuk wilayah Panamping, dan Jaro Dangka untuk wilayah Dangka.

Jaro warega bertugas sebagai penghubung masyarakat adat dengan pemerintahan luar Kanékés. Jaro pamaréntah, sebagai Kepala Desa Kanékés yang harus direstui oleh Puun sebelum disahkan oleh Pemda setempat.

Sembilan. Mata pencaharian Kanékés adalah bertani di huma atau ladang. Mereka memiliki sikap sederhana dan penuh kebersamaan. Pria Kanékés memakai ikat kepala (iket, telekung, romal), baju dan sarung. Pakaian wanita Kanékés terdiri atas kemben (selendang), kain lunas, atau kebaya.

Sepuluh. Makanan pokoknya adalah nasi, diolah dari beras dengan alat seéng (dandang), aseupan (kukusan), dan dulang (untuk merendam beras dengan air panas atau mendinginkan nasi). Beras ditumbuk dengan Lisung (lesung) dan halu (alu) di bangunan Saung Lisung. Rumah mereka terbuat kayu, bambu, daun rumbia, ijuk, rotan, dan batu.

Sebelas. Pemukiman Baduy yang ada di Banten berupa daerah berbukit. Memiliki hutan lebat sekitar pegunungan Kendeng (1.200 meter dpl). Sumber air berasal dari aliran Sungai Ciujung. Beberapa sungai kecil yang mengalir di wilayah Kanékés dan bermuara di Sungai Ciujung dan Cidurian, adalah: Sungai Ciparahiang, Cimaja, Cibeuneung, Cirawayan, Cibatungeunah, Ciparay Cibarani, Cikadu, Cimedang, Cirawing, Cikanékés, Cisimeut, Ciujung dan Cibaduy.

Dua belas. Jarak lokasi Desa Kanékés adalah; sekitar 13 kilometer dari selatan Kecamatan Leuwidamar, sekitar 38 kilometer dari selatan Kota Rangkasbitung; sekitar 120 kilometer dari sebelah barat daya Jakarta; sekitar 180 kilometer sebelah barat Kota Bandung.

Baduy Adalah Guru

Belajar kehidupan dari suku Baduy artinya belajar bagaimana bersahabat dengan alam. Tanpa menajdi sahabat alam, maka alam akan murka. Tanah longsor, hutan yang terbakar, akan mendatangi kampung dan akan membunuh banyak kehidupan. Tanpa menghargai apa yang telah diberikan Tuhan melalui hutan nan indah dan bermanfaat, maka kehidupan itu akan mati secara perlahan.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Macam-macam Suku Bangsa di Indonesia
  • Suku Primitif Di Indonesia
  • Suku Suku Bangsa Indonesia
  • Mengenal Tradisi Suku-Suku Indonesia
  • Mengenal Lebih Dekat Suku Asli Riau
  • Mengenal Lebih Jauh Suku Sakai
  • Keanekaragaman Suku Budaya Indonesia
  • Berapa Jumlah Suku di Indonesia?
  • Pelestarian Ragam Suku Suku Indonesia
  • Kanekes, Sejarah Suku Baduy dan Kehidupannya
  • Peninjauan Suku-Suku Di Indonesia
  • Suku Apache
  • Mengenal Suku Suku Bangsa di Indonesia
  • Peran Kepala Suku Dalam Kehidupan Modern
  • Mengenal Beberapa Suku Adat di Indonesia
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA