Apa dan Bagaimana Bahan Ajar yang Efektif?
Ilustrasi bahan ajar
Salah satu ciri guru ideal adalah yang mempersiapkan perangkat atau bahan ajar dengan efektif. Banyak kasus yang terjadi di kelas-kelas. antara lain murid yang tidak tertarik dengan materi pelajaran, target pembelajaran yang tidak tercapai, dan lain-lain. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesiapan bahan atau pembuatannya yang kurang efektif oleh guru yang bersangkutan.
Bahan ajar merupakan serangkaian informasi alat dan teks yang digunakan pendidik untuk merencanakan dan menelaah implementasi pembelajaran. Artikel ini akan mengupas lebih mendalam pengertian bahan ajar, bentuk, ruang lingkup, penyusunan, dan alur penyusunannya.
Definisi Bahan Ajar
Segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas disebut bahan ajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Dengan kata lain bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak, sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.
Kadang kita sering tertukar atau bahkan menyamakan antara bahan dengan sumber belajar. Definisi sumber belajar sendiri adalah segala tempat atau lingkungan sekitar, benda, atau orang yang mengandung informasi yang dapat digunakan sebagai sarana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku.
Dengan demikian, antara bahan dan sumber belajar saling berkaitan. Bahan pembelajaran dapat disebut sebagai rencana pengajaran yang didukung oleh seperangkat 'tools' yang disebut sumber belajar.
Fungsi Bahan Ajar
Fungsi bahan ajar dalam proses belajar mengajar sangat fundamental, antara lain :
- Sebagai panduan bagi guru untuk merancang semua aktivitas pembelajaran yang menyenangkan di kelas, sehingga tujuan atau kompetensi belajar secara efektif dapat tercapai.
- Panduan bagi siswa untuk mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran , sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya diajarkan.
- Sebagai alat evaluasi pencapaian siswa terhadap target pembelajaran.
- Bentuk dan ruang lingkup bahan ajar.
Bentuk bahan ajar dapat berupa bahan cetak, seperti hand out, modul, buku, brosur, lembar kerja siswa, wallchart, leaflet, dan lain sebagainya. Bahan ini juga dapat berbentuk audio (seperti radio, kaset, CD) dan audio visual (seperti film atau video, CD). Bentuk visual seperti foto, gambar, maket atau model dapat pula dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran.
Saat ini, bahan pembelajarn berbentuk multimedia semakin marak digunakan di sekolah-sekolah, seperti internet, CD interaktif, dan computer based. Hand out merupakan bentuk hard copy dari makalah atau slide-slide yang guru tampilkan kepada murid.
Buku masih memiliki peran yang sangat penting pada proses mencari informasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Banyaknya media audio visual yang serba praktis, terkadang membuat siswa agak enggan membuka-buka buku sumber. Oleh karena itu, guru perlu menyelipkan aktivitas ini dalam rancangan bahannya.
Modul adalah bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencakup isi materi, metode, dan evaluasi yang dapat dilakukan secara mandiri. Untuk penyusunan lembar kerja siswa atau LKS, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
- Lakukan analisis kurikulum, antara lain SK, KD, Indikator, dan materi pembelajaran.
- Membuat mapping cakupan LKS
- Tentukan judul LKS
- Menulis LKS
- Menentukan alat penilaian
Ketika Anda akan merancang sebuah bahan pembelajaran, maka perlu diketahui cakupan atau ruang lingkup yang harus dimasukkan ke dalamnya, yaitu :
- Judul, Metode Pembelajaran, Standar kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), Indikator, dan Tempat
- Petunjuk belajar atau petunjuk siswa atau guru
- Tujuan pembelajaran yang akan dicapai
- Informasi pendukung
- Latihan-latihan
- Petunjuk Kerja
- Penilaian
Teknik Menyusun Bahan Ajar
Prinsipnya, menyusun bahan pembelajaran seperti halnya meracik bumbu-bumbu masakan agar rasanya pas dan tampilannya luar biasa memikat. Demikian pula di kelas. Apapun materi pelajaran, jika guru mampu merancang bahan pembelajaran dengan efektif dan mengakomodasi semua gaya belajar siswa, maka target pembelajaran akan tercapai. Oleh karena itu, hindari gaya belajar yang konvensional, yakni guru sebagai pusat belajar, sedangkan siswa hanya obyek dalam belajar.
Hal mendasar yang perlu diperhatikan dalam membuat bahan pembelajaran adalah tentukan terlebih dahulu standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ingin dicapai pada suatu materi pelajaran. Usahakan tujuan yang dicapai kalimatnya bersifat operasional, seperti siswa mampu menyelesakan operasi pembagian dalam bentuk soal cerita. Hal ini dimaksudkan agar pencapaian siswa dapat terukur dengan mudah.
Setelah itu, buatlah indikator yang berhubungan dengan materi. Ini penting agar guru dapat membatasi materi yang disampaikan kepada siswa. Misalnya pada pembahasan materi soal cerita pembagian, maka indikatornya adalah siswa mampu menentukan kalimat operasional pembagian pada soal cerita. Bisa juga siswa mampu menyelesaikan soal cerita pembagian dengan menggunakan gambar atau cara bersusun panjang/pendek (sesuai SK-KDnya).
Kemudian langkah selanjutnya adalah menyusun kegiatan pembelajaran. Untuk bagian ini, perlu kreatifitas guru untuk menyusun rancangan kegiatan yang kreatif agar murid belajar dalam aktivitas yang menyenangkan.
Secara umum kegiatan pembelajaran dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu pembukaan, kegiatan inti, dan penutup. Misalnya ketika mengenalkan konsep pembagian, maka guru bisa membuka pembelajaran dengan pertanyaan seperti " Bagaimana caranya agar 1 buah apel dapat dibagi secara merata kepada 4 anak?".
Dari pertanyaan ini akan memunculkan aktivitas berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil. Secara otomatis siswa terlibat dalam kegiatan belajar aktif atau active learning, problem solving, dan konstruktivisme.
Kegiatan diskusi tersebut dapat dimasukkan dalam kegiatan inti.
Mungkin Anda tak pernah terbayangkan, kalau diskusi dapat disisipkan pada pelajaran matematika. Biasanya dalam gaya belajar konvensional, guru langsung mengajarkan rumus, kemudian siswa diberikan soal. Cara seperti ini mematkan potensi siswa dan tentu saja membosankan, karena kurang ada tantangan.
Pada kegiatan penutup atau istilahnya refleksi, guru dapat melakukan feed back atau umpan balik untuk mengetahui apakah siswa sudah memahami materi yang diberikan atau sebaliknya. Ada sedikit tips saat melakukan umpan balik.
Alangkah baiknya jika guru memberikan soal berbentuk kuis atau tebak-tebakan, daripada bertanya "Apakah ada pertanyaan?" atau "Siapa yang masih belum paham?". Umumnya siswa akan menjawab tidak ada, karena mereka menghindari guru mengulang kembali penjelasan materi.
Langkah berikutnya adalah menentukan bahan ajar untuk mendukung proses pembelajaran. Biasa juga disebut media pembelajaran. Media pembelajaran tidak harus selalu mahal atau membeli yang baru. Ajarkan kepada siswa bahwa benda-benda bekas yang ada di sekitar mereka dapat dijadikan media pembelajaran.
Contohnya pada materi konsep pembagian dengan benda, guru bisa menggunakan biji-biji salak atau benda-benda bekas lainnya. Selain memudahkan siswa memahami materi lewat media, sekaligus mengajarkan kepada siswa untuk mencintai lingkungan dengan memanfaatkan sampah.
Dalam penggunaan media belajar audio visual, perlu diperhatikan alokasi waktunya. Apakah misalnya, video atau kaset yang digunakan tersebut sebagai brainstorming atau pembukaan pembelajaran atau inti kegiatan. Alokasi waktu terbanyak ada pada kegiatan inti.
Perlu dipahami di sini, bahwa menyusun bahan pembelajaran tidak hanya sekedar menggugurkan kewajiban sebagai seorang guru. Bahan pembelajaran yang Anda buat akan berdampak besar pada anak didik kita, sang generasi penerus bangsa.
Buatlah bahan pembelajaran dengan professional. Rancanglah waktu khusus bagi guru untuk menyusun bahan ajar, agar mereka dapat mencari resources atau sumber-sumber secara meluas. Dengan demiikian, anak didik mendapatkan informasi yag lebih aktual. Manfaatkan internet sebagai salah satu bahan ajar. Selamat mencoba!!

