Kemilau Baju Adat Sumatera Selatan
Indonesia adalah negara kaya akan budaya. Terhampar dari barat hingga ke timur, kekayaan budaya itu senantiasa memukau. Memikat setiap bangsa untuk mengenalnya. Bahkan, “mengklaim” sebagai miliknya.
Dari tradisi lisan yang tertutur (bahasa daerah), alunan melodi yang memikat (lagu daerah), hingga kemilau busana (baju daerah/adat) yang disandang. Cerminan keanekaragaman kebudayaan Indonesia.
Salah satunya, terlihat dari baju adat Sumatera Selatan. Daerah yang dikenal dengan nama Bumi Sriwijaya dan masyarakatnya biasa dipanggil dengan istilah “wong kito galoh”. Keindahan baju adatnya, menandingi keanekaragaman corak busana yang dimiliki setiap daerah di provinsi tersebut.
Unity in Diversity
Sumatera Selatan adalah provinsi di Indonesia yang memiliki 11 kabupaten dan 4 kota. Setiap kota atau kabupaten, memiliki desain (corak) baju daerah yang berbeda-beda.
Ada corak baju adat Kabupaten Banyuasin, Empat Lawang, Lahat, Musi Rawas, Muara Enim, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Komering Ulu Selatan, Kota Lubuk Linggau, Kota Pagaralam, Kota Prabumulih, dan Kota Palembang.
Walaupun memiliki corak khas tersendiri, baju adat Sumatera Selatan mempunyai satu kesamaan. Nuansa warna keemasan dan sentuhan merah merona serta merah jambu (pink) yang glamor dan elegan jadi ciri khas. Ciri raja dan ratu. Seakan-akan ingin memperlihatkan kejayaan Kerajaan Sriwijaya pada masanya.
Unsur etnik Melayu juga kental terlihat. Jas tutup bersulam emas, dipadukan dengan kain songket (kain tenun terbuat dari benang emas atau perak), celana panjang serta ikat kepala (tanjak), untuk laki-laki. Sementara untuk perempuan, kain songket digunakan sebagai bawahan (sarung) dan selendang dengan kebaya modern sebagai bajunya.
Corak Khas
Setiap daerah memiliki corak khasnya. Contoh, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), baju adatnya dominan berwarna merah merona. Bertabur bunga mawar keemasan, dipadu dengan baju kurung dan songket bermotif bunga mawar bintang, dan selendang songket lepus.
Mahkota keemasan bertabur permata dengan bentuk khas menghias kepala, lengkap dengan kembang goyang, kelapo standan, dan roncean bunga pada sisi kiri dan kanan.
Untuk busana perempuannya, dilengkapi perhiasan warna keemasan yang begitu memikat. Seperti, beringin sembilan, kembang ayun emas di sepan telinga, pandan gulung emas di atas kepala, mahkota pilis, kalung susun tiga, gelang kano, kalung bersusun tiga, dan anting panjang dengan rangkaian melati dan pandan urai.
Lain lagi dengan di Kabupaten Lahat. Baju adatnya memiliki bentuk unik pada mahkota seperti yang dipakai raja dan ratu. Dominan warna keemasan, baju dan kain songket, dan mahkota di kepala.
Di kota Palembang, setidaknya ada dua corak khas pada baju adatnya. Pertama, gaya Aesan Gede. Berwarna merah jambu (pink) dipadu dengan warna keemasan. Diyakini sebagai cerminan keagungan para bangsawan (kaum raja) Sriwijaya. Apalagi dengan gemerlap perhiasan dan mahkota Aesan Gede, bungo cempako, kembang goyang, dan kelapo standan.
Lalu, busana adat ini dipadukan baju dodot serta kain songket lepus bermotif napan perak yang semakin mempertegas keagungan pemakainya.
Kedua, gaya Aesan Pak Sangkong. Laki-lakinya mengenakan jubah motif tabor bunga emas, seluar (celana), songket lepus bersulam emas, selempang songket serta songkok emas menghias kepala.
Perempuannya mengenakan baju kurung warna merah ningrat bertabur bunga bintang keemasan, kain songket lepus bersulam emas, teratai penutup dada serta hiasan kepala berupa mahkota Aesan Pak Sangkong. Tak ketinggalan detail dan pernak-pernik seperti kembang goyang, kelapo standan, kembang kenago dan perhiasan mewah bercitrakan keemasan.
Baju adat gaya Aesan Pak Sangkong juga biasa digunakan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir.






