Bakteri Spiral di Sekitar Kita
Ilustrasi bakteri spiral
Begitu banyak makhluk hidup di muka bumi. Sebagian di antaranya dapat dilihat secara kasat mata. Sementara sebagian lainnya harus menggunakan alat bantu, seperti mikroskop untuk bisa melihatnya. Bakteri spiral, salah satunya yang berukuran sangat kecil. Organisme hidup ini ditemukan pertama kali oleh Antonie Van Leeuwenhoek sekitar abad ke-17.
Apa Itu Bakteri?
Organisme bakteri adalah salah satu organisme mikroskopik karena organisme ini sulit untuk dideteksi, terutama sebelum ditemukannya mikroskop. Akan tetapi, setelah abad ke-19, mulai berkembang ilmu tentang mikroorganisme, terutama bakteri (bakteriologi).
Seiiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ilmu tentang bakteri telah berhasil ditelusur oleh para ilmuan. Para ilmuan yang berperan penting dalam perkembangan ilmu tersebut adalah Robert Hooke, Antoni van Leeuwenhoek, Ferdinand Cohn, dan Robert Koch.
Pada tahun 1828, Ehrenberg memperkenalkan istilah bacterium yang diambil dari bahasa Yunani bakterion, yang berarti batang-batang kecil. Setelah Louis Pasteur melakukan berbagai percobaan, istilah bakteri ini mulai berkembang dan melahirkan cabang ilmu mikrobiologi. Jadi, Bakteriologi adalah salah satu cabang mikrobiologi yang mempelajari biologi bakteri.
Pada tahun 1635-1703, seorang ahli matematika dan sejarahwan berkebangsaan Inggris, Robert Hooke, menulis sebuah buku yang berjudul “Micrographia” (1665) yang berisi tentang hasil pengamatan yang dilakukannya menggunakan mikroskop sederhana.
Akan tetapi, Robert Hook belum dapat menemukan struktur pada bakteri, sedangkan dalam bukunya, tergambar hasil penemuannya mengenai tubuh buah kapang. Tapi, buku ini menjadi sumber dari deskripsi awal dari mikroorganisme.
Pada era yang sama dengan Robert Hook, Antoni van Leeuwenhoek (1632-1723) melakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop sangat sederhana. Kemudian, ia terinspirasi oleh Robert Hooke untuk membuat sebuah mikroskop rancangan sendiri dengan hasil baik yang kemudian pada tahun 1684 digunakan untuk mengamati makhluk mikroskopik pada berbagai media alami.
Pada tahun 1676, Antoni van Leeuwenhoek untuk pertama kalinya berhasil menemukan bakteri di dunia. Kemudian hasil temuannya tersebut dikirimkan ke Royal Society of London dan dipublikasikan pada tahun 1684.
Hasil dari penemuan ini mendapatkan konfirmasi yang banyak dari para ilmuan lainnya. Sejak saat itulah, mulai berkembang ilmu tentang mekroorganisme, selain ilmu tentang bakteri.
Seorang botanis berkebangsaan Breslau (Polandia), Ferdinand Cohn (1828-1898), berhasil menemukan tentang bakteri yang resisten terhadap panas. Ia tertarik untuk meneliti kelompok bakteri ini, sehingga ia menemukan kelompok bakteri penghasil endospora yang resisten terhadap suhu tinggi.
Selain itu, Ferdinand Cohn juga berhasil menjelaskan siklus kehidupan bakteri Bacillus, yang sekaligus menjelaskan mengapa bakteri ini bersifat tahan panas. Setelah itu, ia membuat dasar klasifikasi bakteri sederhana dan mengembangkan beberapa metode untuk mencegah terjadinya kontaminasi pada kultur bakteri. Kemudian, metodi ini dugunakan oleh para ilmuan lain, seperti Robert Koch.
Seorang ahli fisika kebangsaan Jerman, Robert Koch (1843-1910), melakukan banyak penelitian mengenai penyakit bakteri yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Pada awalnya, para ilmuan mempelajari penyakit antraks yang menyerang banyak hewan ternak karena adanya bakteri Bacillus anthracis, salah satu bakteri penghasil endospora.
Selain itu, Robert Koch juga adalah orang yang pertama kali menemukan isolat murni Mycobacterium tuberculosis, yaitu bakteri penyebab penyakit tuberkulosis (TBC).
Robert Koch berkat dua penelitian mengenai penyakit bakteri tersebut berhasil membuat Postulat Koch, yaitu sebuah teori mengenai mikroorganisme spesifik untuk penyakit yang lebih spesifik.
Robert Koch juga berhasil menemukan sebuah metode untuk mendapatkan isolat murni dari bakteri. Penemuan lainnya adalah penggunaan kultur padat untuk menumbuhkan bakteri di luar habitat aslinya.
Penelitian tersebut pada awalnya, ia menggunakan potongan kentang dan kemudian dikembangkan dengan menggunakan nutrien gelatin. Akan tetapi, nutrien gelatin banyak kekurangannya, sehingga diganti dengan sejenis polisakarida. Hal tersebut adalah ide dari istri waler Hesse yang juga bekerja bersama Robert Koch.
Pertumbuhan dan reproduksi bakteri dipacu oleh dukungan dari kondisi lingkungan. Kondisi lingkungan yang dapat memicu pertumbuhan dan reproduksi bakteri adalah suhu, kelembapan, dan cahaya.
Pengamatan sel bakteri terhadap parameter pertumbuhan tersebut dapat diamati oleh beberapa alat, seperti mikroskop optikal, mikroskop elektron, dan atomic force microscope (AFM). Berdasarkan kondisi lingkungan berupa kisaran suhu, bakteri dapat dibagi menjadi empat golongan, yaitu sebagai berikut.
- Bakteri psikrofil adalah bakteri yang hidup pada lingkungan dengan suhu 0°– 30 °C dengan suhu optimum 15 °C.
- Bakteri mesofil adalah bakteri yang hidup pada lingkungan dengan suhu antara 15°– 55 °C dengan suhu optimum 25°– 40 °C.
- Bakteri termofil adalah bakteri yang dapat hidup pada lingkungan dengan suhu tinggi antara 40°– 75 °C dengan suhu optimum 50°– 65 °C.
- Bakteri hipertermofil adalah bakteri yang hidup pada lingkungan dengan kisaran suhu 65°– 114 °C dengan suhu optimum 88 °C.
Bakteri ini adalah jenis bakteri obligat aerob, artinya bakteri ini dapat hidup jika di lingkungannya ada oksigen. Tanpa oksigen, bakteri ini tak dapat hidup. Mycobacterium tuberculosis berkembang biak secara membelah diri setiap 16 hingga 20 jam. Berbeda dengan bakteri biasa yang membelah lebih cepat, bahkan dalam hitungan menit (contohnya saja E. coli yang membelah kurang dari 20 menit).
Bakteri ini ukurannya sangat kecil, yaitu sepersepuluh juta hinga dua persepuluh juta meter atau 0,1-0,2 mikrometer. Bentuknya batang kecil dan kebal terhadap desinfektan. Bakteri ini juga mampu bertahan hidup di tempat yang kering. Ia juga bersifat parasit terhadap inangnya.
Bakteri TBC mempunyai dinding sel tebal yang mengandung zat lilin. Zat lilin ini berperan dalam terbentuknya fase atau formasi granoluma atau bintil atau nodul yang terlihat pada hasil foto rontgen paru-paru penderita TBC.
Bakteri Spirilium
Bakteri diklasifikasikan menjadi 3 bentuk, yaitu bulat, batang, dan lengkung. Dari ketiga bentuk tersebut, bakteri spiral yang masuk dalam kelompok bakteri spirilium adalah salah satu yang menarik perhatian karena keunikan sel-selnya yang tidak saling melekat satu sama lain dan acap kali ditemukan pada bakteri pathogen, yang dapat menimbulkan penyakit tertentu.
Menurut Dr.Sylvia Y. Muliawan, DMM., SpMK., Ph.D., dokter sekaligus penulis buku Bakteri Spiral Patogen, bakteri spiral sering sekali dijumpai di klinik sebagai bakteri yang merugikan karena dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti sifilis atau raja singa, demam endemik, leptospirosis atau penyakit Weil akibat infeksi bakteri yang ditularkan hewan ke manusia atau sebaliknya.
Para ahli ilmu pasti telah melakukan berbagai jenis penelitian tentang mikrobiologi seperti bakteri yang merupakan kelompok besar mikroorganisme yang tersebar di mana-mana. Ketika bakteri ditemukan, uji laboratorium diadakan untuk mengetahui jenis bakteri dan apa keuntungan serta kerugian yang dapat ditimbulkannya.
Suatu bakteri dikatakan menguntungkan bila dapat dijadikan sebagai decomposer atau pengurai jasad makhluk hidup yang telah mati, sehingga tidak mencemarkan lingkungan.
Selain itu, bakteri dalam usus besar manusia seperti eschercia colli dibutuhkan untuk membusukkan sisa pencernaan sekaligus membentuk vitamin B12 dan vitamin K. Dalam bidang kedokteran, beberapa bakteri dari kelompok bacillus dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan antibiotic.
Bakteri Merugikan
Dalam ilmu biologi, kita mengenal jenis bakteri yang kehadirannya dapat merugikan manusia. Bakteri patogen adalah yang sering menimbulkan penyakit. Umumnya bakteri tersebut berbentuk melengkung atau spiral, sehingga disebut bakteri spiral patogen. Di antara penyakit yang ditimbulkannya adalah sebagai berikut.
- Sifilis atau raja singa yang menyerang bagian kelamin akibat adanya aktivitas bakteri spiroseta. Penyakit ini dapat menular melalui kontak langsung saat berhubungan intim dan melalui uterus pada ibu yang hamil.
- Borrelia, adanya aktivitas bakteri spiroseta yang dibawa oleh beberapa jenis kutu dalam tubuh manusia. Gejalanya demam, sakit kepala, depresi, mudah lelah hingga menyebar ke persendian, sistem saraf , dan jantung. Pada tahap akhir bakteri dapat menimbulkan efek kelumpuhan pada penderitanya.
- Leptospirosis, aktivitas bakteri leptospira berbentuk spiral yang ditularkan oleh tikus, kambing, domba, babi, burung, kelelawar, dan landak yang buang air kecil ke tanah atau saluran air yang dipakai manusia menyebabkan demam, mual, muntah, nyeri otot punggung, dan betis. Pada level selanjutnya menimbulkan komplikasi pada hati, ginjal, jantung, paru-paru, dan alat pernapasan lainnya.
Demikian uraian mengenai bakteri, terutama bakteri spiral yang mempunyai manfaat dan juga dapat merugikan bagi kesehatan tubuh manusia. Semoga informasi tersebut bermanfaat dan menambah wawasan Anda mengenai bakteri. Jagalah selalu kesehatan Anda dan keluarga dari penyakit yang disebabkan oleh bakteri.

