logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Pasti    Ilmu Biologi    Bakteri Staphylococcus Aureus

Infeksi Bakteri Staphylococcus Aureus

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Bakteri Staphylococcus aurens adalah bakteri jenis kokus (bulat) yang hidup bergerombol. Tak seindah namanya, staphyle, dari bahasa Yunani yang berarti anggur. Bakteri ini merupakan mikroba berbahaya yang bisa menyebabkan infeksi pada kulit, atau meracuni makanan sehingga menimbulkan penyakit serius pada manusia.

Staphylococcus aurens biasanya hidup pada jaringan kulit dan lubang hidung manusia. Dalam kondisi sehat dan normal, bakteri ini tidak menginfeksi karena tubuh kita memiliki mekanisme perlindungan seperti kastil yang dijaga prajurit-prajurit bernama antibodi. Infeksi biasanya dipicu oleh luka luar atau penetrasi bakteri melalui makanan yang tercemar.

Dalam jumlah terbatas, bakteri ini juga terdapat pada pori-pori dan permukaan kulit, kelenjar keringat, dan saluran usus.

Karakteristik Bakteri

Jika diintip dengan mikroskop, Staphylococcus aureus tampak hidup bergerombol seperti seikat anggur berwarna kuning. Warna tersebut dihasilkan oleh pigmen yang melapisi dinding sel. Memiliki sifat aerob fakultatif, artinya membutuhkan oksigen pada saat tertentu, namun dalam kondisi lain mampu bertahan hidup tanpa oksigen sama sekali.

Staphylococcus aureus tidak menghasilkan spora dan tidak motil, tidak bergerak tetapi mampu membentuk kapsul untuk melindungi diri. Ukuran selnya berkisar 0,8-1,0 mikrometer, dan tumbuh optimal pada suhu normal tubuh manusia, kisaran 36-37 derajat celcius. Bakteri ini mampu berkembang dalam lingkungan dengan konsentrasi NaCl sekitar 3 Molar.

Staphylococcus aureus memiliki kemampuan mendeteksi jumlah sel menggunakan sinyal oligopeptida, dan memastikan jumlah tersebut cukup untuk memproduksi toksin dan enzim koagulase. Enzim inilah yang berfungsi menggumpalkan firinogen di dalam plasma darah sehingga Staphylococcus aureus selamat dari fagositosis dan respon sistem antibodi pada tubuh kita.

Staphylococcus aureus dapat mengganggu sistem imun pada tubuh manusia karena mengikat antibodi, menyerang membran sel dan menyebabkan hemolisis, serta leukolisis yang mematikan sel tubuh manusia.

Gejala Infeksi

Staphylococcus aureus menginfeksi siapa saja tanpa pandang bulu, terutama pada tubuh yang lemah sistem imunnya. Infeksi pada kulit atau luka luar biasanya berakibat pada penanahan, misalnya bisul atau luka bernanah lainnya. Area infeksi berwarna merah, bengkak, dan terasa sakit bila disentuh.

Dalam kondisi parah, pembengkakan tersebut berkembang menjadi impetigo (pengerasan dari kulit) atau cellulitis (peradangan pada jaringan di bawah kulit). Infeksi juga bisa terjadi pada ibu menyusui berupa peradangan payudara, bisul dan nanah pada puting, yang berpotensi menularkan bakteri kepada bayi.

Bakteri yang masuk ke dalam aliran darah juga bisa bersarang di dalam paru-paru menyebabkan organ tersebut bernanah dan infeksi klep jantung (endocarditis) yang bisa mengakibatkan gagal jantung. Infeksi pada sel tulang berakibat peradangan berat osteomyelitis.

Bakteri yang mengontaminasi makanan, saat tertelan akan menimbulkan gangguan pencernaan dengan gejala mual, muntah, (benar-benar muntah atau tampak seperti muntah tetapi tidak mengeluarkan apa pun), kram perut, lemas, diare, dan dehidrasi. Gejalanya muncul sekitar 1-6 jam sejak tertelan. Gejala tersebut berlangsung selama 1-3 hari. Pada kasus yang lebih berat, gejala tersebut disertai dengan sakit kepala, kram otot, tekanan darah, dan denyut nadi tidak teratur.

Perawatan dan Pencegahan

Untuk mengatasi infeksi bakteri Staphylococcus aureus pada luka luar, biasanya dilakukan dengan salep antibiotik, misalnya penicillin, amoxicillin, atau oxacillin. Pada kasus yang berat, mungkin memerlukan operasi untuk mengeluarkan gumpalan nanah.

Penularan penyakit biasanya melalui kontak langsung, bukan melalui udara. Karena itu, untuk menghindarkan penyebaran penyakit pada orang lain, hendaknya dihindari menyentuh handuk, pakaian, selimut, atau kasur pasien penderita.

Makanan yang mungkin terkontamiasi bakteri ini antara lain: daging, telur; salad, ikan, kentang, dan makaroni. Bisa juga bakteri mengontaminasi roti, krim, cokelat, dan susu. Bakteri juga mungkin melekat pada air minum, air untuk mencuci sayuran, atau peralatan makan.

Biasanya karena makanan tersebut dipanaskan dalam suhu kurang dari 60°C, atau didinginkan dalam suhu tidak mencapai 7.2°C. Pada suhu antara itulah bakteri ini berkembang dengan baik.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Enzim dan Koenzim dalam Proses Biokimia Organisme
  • Awas Bahaya Bakteri Salmonella!
  • Mengenal Metabolisme Sel
  • Komponen dan Macam Ekosistem
  • Fisiologi Sistem Pencernaan
  • Peran dan Manfaat Enzim Proteolitik
  • Jenis dan Contoh Tumbuhan Herba
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA