Balap Kuda Tradisional di Madura
Ilustrasi balap kuda
Di Madura, tepatnya daerah Bangkalan, ada suatu kegiatan masyarakat yang begitu disukai oleh para lelaki. Namanya adalah balap kuda. Jangan salah, walau pun di banyak daerah juga terdapat kegiatan olahraga itu, namun yang diadakan di Bangkalan memiliki ciri khas tersendiri.
Nama Kuda dari Kiai
Madura merupakan daerah yang cukup relijius dimana terdapat begitu banyak pesantren. Masyarakatnya begitu menghormati kiai yang memimpin pesantren di daerah tersebut. Bahkan, begitu hormatnya, jika seseorang memiliki kuda yang akan digunakan untuk kegiatan balap kuda, biasanya mereka meminta para kiai untuk memberi nama pada hewan peliharaan mereka tersebut. Mereka menganggap bahwa nama yang diberikan oleh seorang kiai akan membawa keberuntungan dan berkah bagi si kuda.
Perawatan
Balap kuda berbeda dengan karapan sapi dalam hal pemeliharaan dan perawatan. Kuda balap tidak terlalu diperlakukan istimewa seperti perlakuan terhadap sapi. Makanannya hanya makanan biasa saja, dan tidak diberikan jamu atau pijatan khusus. Biaya perawatannya juga jauh lebih murah.
Joki yang Pemberani
Joki adalah penunggang kuda dalam sebuah balap kuda. Ia juga adalah perawat dalam keseharian si kuda, sehingga tahu betul kebiasaan dan apa yang diinginkan oleh hewan pelari itu. Karenanya, pemilik kuda kadang sampai mengambil joki dari tanah Sumbawa, tempat mereka membeli kuda yang kuat dan kekar, sebab joki dari Sumbawa itu juga yang merawat si kuda dari kecil.
No Judi
Tidak seperti pacuan kuda di daerah lain, dalam balap kuda ala Bangkalan tidak ada dan tidak diperbolehkan adanya judi. Ini karena sebagian besar pemilik kuda adalah alim ulama yang memiliki pesantren di daerah Bangkalan. Selain itu, penyelenggaraan balap kuda di sana semata-mata bertujuan untuk olahraga.
Menang, Naik Harga
Seekor kuda yang pernah menang dalam balap kuda, maka nilai jualnya akan meningkat. Harga jualnya bisa naik sampai dua kali lipat menjadi Rp. 15 juta, dari harga beli Rp. 6-7 juta. Oleh karena itu, banyak peserta yang berharap untuk dapat memenangkan pertandingan tersebut agar nilai kudanya meningkat. Padahal, kemenangan seekor kuda tidak lepas dari kepandaian si Joki yang mengurusi dan menunggangi kuda dalam pertandingan.

