Balita Merokok : Kontribusi Negatif Budaya Merokok.
Semua orang pasti tahu mengenai bahaya merokok bagi kesehatan. Meskipun kampanye antirokok santer digembar-gemborkan, namun merokok tetap menjadi budaya yang diwariskan turun-temurun. Hal ini terbukti dengan maraknya fenomena balita merokok, karena pengaruh keluarga dan lingkungan perokok.
Menurut Komnas Perlindungan Anak, sepanjang tahun 2010, setidaknya ada 6 kasus balita merokok di usia 11 bulan hingga 4 tahun. Ini baru kasus yang terpublikasi dan terdeteksi. Bisa jadi, diantara anak-anak jalanan yang terbiasa merokok, terdapat balita merokok juga di dalamnya.
Balita Merokok, Meniru Orang Tua
Balita cenderung meniru perilaku orang-orang di sekitarnya. Keluarga dan lingkungan perokok menjadi alasan utama mengapa balita merokok. Ditambah lagi jika balita mendapat tepukan tangan dari orang-orang sekitar ketika menunjukkan aksi merokoknya. Alih-alih berhenti, sang balita malah semakin hanyut dalam kecanduannya.
Menurut Kak Seto Mulyadi, setidaknya butuh 2,5 tahun untuk memulihkan balita dari kecanduan merokok. Hal ini beliau ungkapkan ketika menangani kasus AR, balita berusia 2,5 tahun yang ketagihan merokok dan sanggup mengisap 40 batang rokok setiap harinya.
Terapi yang digunakan Kak Seto untuk mengobati kecanduan balita merokok adalah dengan bermain. Secara bertahap, intensitas merokok AR dikurangi dan dialihkan melalui permainan yang disukainya. Beliau optimis, jika terapi ini terus dijalankan, maka lambat laun AR akan terlepas dari kebiasaan merokoknya.
Angka Kematian Balita sebagai Perokok Pasif
Sebanyak 90% dari ayah perokok mengaku merokok di rumah ketika seluruh anggota keluarganya berkumpul. Menurut riset yang dilakukan oleh American Association for Cancer Research, semakin muda usia anggota keluarga, maka penyerapan racun asap rokok ke dalam tubuhnya pun sebagai besar. Balita dan anak-anak di bawah 6 tahun ternyata memiliki kadar nikotin 12% lebih tinggi daripada orang dewasa yang terpapar polusi asap rokok di rumahnya.
Pada tahun 2006, UNICEF mengungkapkan fakta bahwa sebanyak 32,4 ribu balita meninggal akibat perilaku merokok orang tuanya. Hasil riset American Journal of Public Health (2008) juga mengungkapkan bahwa angka kematian balita di lingkungan orang tua merokok lebih tinggi daripada angka kematian balita di lingkungan orang tua yang bukan perokok.
Jelas sudah bahwa budaya merokok, selain menjadi penyebab balita merokok, tapi juga meningkatkan angka kematian balita akibat terpapar polusi asap rokok. Angka kematian ini bisa dikurangi jika masyarakat sadar dan peduli untuk merokok di tempat khusus perokok (smoking area) atau menghilangkan kebiasaan merokoknya.






