Tragedi Banjir Situ Gintung 2009
Sebelum tanggal 27 Maret 2009, Situ Gintung dikenal sebagai sebuah lokasi wisata keluarga yang kerap dijadikan tempat syuting sinetron atau pun film oleh insan perfilman. Namun setelah hujan deras di tanggal 27 Maret dini hari, banjir Situ Gintung yang dahsyat akibat jebolnya dinding situ, membuat tempat itu penuh aroma duka.
Danau Buatan
'Situ' berasal dari bahasa Sunda yang artinya: danau. Sebenarnya Situ Gintung bukan danau alami, melainkan sebuah danau buatan yang dibuat sekitar tahun 1930-an oleh pemerintah Belanda. Tujuannya untuk sarana irigasi dan juga penampungan air hujan.
Lokasi Situ Gintung sendiri terletak di daerah antara Jakarta selatan dan Tangerang Selatan yaitu Cirendeu masuk ke kecamatan Ciputat. Atau tepatnya di belakang lokasi kampus UIN Syarif Hidayatullah.
Bencana Situ Gintung
Salah satu asumsi ahli tentang bencana banjir Situ Gintung karena ada pendangkalan yang mempersempit luas situ. Faktor lainnya adalah pembangunan perumahan yang tidak semestinya di tepi dinding Situ Gitung berakibat pada daya tahan situ yang semakin rapuh.
Ditambah lagi dengan turunnya hujan yang cukup lama di daerah sekitar Ciputat mulai malam tanggal 26 Maret, sehingga daya tampung Situ Gintung mencapai titik maksimal. Semua faktor tersebut klimaks dengan peristiwa jebolnya dinding Situ yang telah berusia ratusan tahun itu.
Gelombang air bah menyapu kawasan pemukiman dan juga kampus UIN Syarif Hidayatullah, hingga memakan korban jiwa lebih dari 100 jiwa manusia. Tidak kurang dari puluhan rumah hancur serta harta benda yang sangat banyak ludes seketika.
Simpati Dan Empati Masyarakat
Seperti biasanya, masyarakat Indonesia yang berjiwa penyayang selalu beramai-ramai mengulurkan tangan jika ada kejadian bencana yang melanda tanah air. Begitu pun saat banjir Situ Gintung terjadi.
Tidak sedikit sumbangan masyarakat mengalir untuk membantu para korban. Apalagi saat itu sedang musim kampanye menuju Pemilu. Berbagai parpol seperti berlomba mengulurkan bantuan dan juga memasang bendera partai mereka di lokasi bencana.
Sungguh sangat disayangkan apabila simpati dan empati yang diulurkan oleh para dermawan itu tidak tulus ikhlas mengharap ridho Tuhan semata. Bagaimana pun, masyarakat Situ Gintung tentu mengharap bantuan yang sampai kepada mereka dilandasi niat ikhlas semata, dan bukannya mencari suara serta nama untuk kepentingan saat pemilihan umum saja.






