Serba-Serbi Basa Basi
Ilustrasi basa basi
“Dia adalah orang yang suka basa basi, males banget deh gue!”
“Lhoh, Bukannya bagus? Itu artinya dia sopan!”
“Huft, Ya, enggak lah. Itu artinya dia pembohong!”
“Ya nggak mesti dong orang yang suka basa-basi itu adalah orang yang suka bohong!”
Perlukah basa-basi itu? Sebagian orang menganggap basa-basi itu perlu, sisanya menganggap tidak perlu. Bagi yang menganggap basa-basi itu perlu, mereka beralasan bahwa sebagian besar manusia memang lebih suka dengan kata-kata yang enak didengar (lembut) dari pada yang menusuk hati. Sedangkan bagi yang menganggap basa-basi itu tak perlu, mereka beralasan bahwa orang yang suka basa-basi itu cerminan orang munafik. Benarkah?
Mengapa Berbasa Basi
Basa- basi sebenarnya merupakan tindakan memperhalus bahasa atau pengungkapan perasaan dengan simbol-simbol atau secara tidak langsung. Misalnya, kita ingin berkata bahwa hasil pekerjaan teman kita sangat jelek. Karena kita tidak tega untuk berkata jujur, maka kita tidak berkata secara langsung kepada sahabat kita tersebut, bahwa hasil pekerjaannya jelek.
Kita bisa menggunakan bahasa yang lebih halus, seperti, “Ehm... kayaknya mesti ada yang harus direvisi deh!” atau kalimat sejenis. Dalam konteks tersebut, basa-basi dilakukan agar tidak menyinggung perasaan lawan bicara.
Dari sedikit contoh di atas, mungkin tujuan berbasa-basi dan kepada siapa berbasa-basi adalah sebagai berikut.
- Agar lawan bicara tidak tersinggung dan tidak merasa dikritisi karena memang tak semua orang suka dikritik secara tajam.
- Agar lebih sopan karena lawan bicara adalah orang tua sehingga tidak mungkin bila berbicara dengan intonasi keras meski maksudnya tidak keras.
- Sama seperti alasan kedua, tapi lawan bicara kali ini adalah orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi, seperti atasan atau bos.
- Kepada lawan bicara yang baru dikenal dengan alasan yang sama, yaitu agar lebih sopan.
- Kepada orang yang sedang dilanda musibah karena sudah sepantasnya bila kita berempati dan bukan menyalahkan atau berbicara yang menyakitkan.
Mengapa Tidak Suka Berbasa Basi
Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa tak semua orang menyukai basa-basi. Ada beberapa orang yang memang lebih suka berbicara terus terang tanpa harus dihiasi kata-kata manis.
Menurut kelompok yang kontra dengan basa-basi, orang-orang yang suka berbasa-basi adalah orang yang munafik karena tidak apa adanya. Ehm… Apakah benar seperti itu? Orang-orang yang kontra dengan basa basi memiliki opini, bahwa lebih baik menyakitkan, tapi jujur dari pada menyenangkan, tapi penuh dengan tipu muslihat.
Memang, siapapun tidak akan pernah mau ditipu. Dan basa-basi dianggap sebagai “tersangka” utama dalam hal tipu muslihat, sehingga ketika ada seseorang yang bermulut manis, orang lain sering menyangka bahwa ia adalah penipu dan seorang yang munafik. Ehm… Rasanya sedikit tidak adil bila kita langsung menyamaratakan seperti itu.
Hubungan Basa Basi dengan Suku Tertentu
Banyak yang mengait-ngaitkan antara basa basi dengan karakter suku tertentu. Padahal, basa-basi tak ada hubungannya dengan suku, tapi personal. Namun, bila dilihat dari sisi geografis, orang-orang yang tinggal di daerah keras (tidak tenang) dan panas biasanya lebih bisa mengungkapkan perasaannya secara langsung dari pada orang- orang yang tinggal di daerah dingin. Meskipun tentu saja hal tersebut tak bisa dijadikan patokan.
Jadi, bila ada yang berkata suku ini tidak suka berbasa-basi dan bahasanya cenderung kasar, sedangkan suku itu suka berbasa basi dan bahasanya cenderung lembut, tapi pendendam, hal itu adalah tidak benar.
Basa Basi yang Bermanfaat
Bicaralah yang baik atau diam adalah salah satu hadits yang menjelaskan bahwa kalimat yang keluar dari mulut kita, sedikit banyak akan memengaruhi lawan bicara kita.
Bila cara bicara kita baik, maka lawan bicara kita juga akan merespon positif. Begitu pula sebaliknya. Itu artinya, sebisa mungkin kita memang harus bisa menjada mulut (lidah) kita. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa lidah itu lebih tajam dari pada pedang. Dan mungkin ungkapan itu memang benar. Buktinya, banyak pertikaian yang terjadi hanya karena seseorang tidak bisa menjaga kata-katanya.
Oleh sebab itu, bila diartikan secara positif, basa-basi sebenarnya adalah salah satu bentuk menghargai orang lain. Basa basi yang dilakukan pada tempatnya bukan berarti mengulur- ulur waktu dan tidak tegas.
Coba saja jawab, bila saat ini kita adalah seorang istri, apakah kita akan bertanya langsung pada suami yang baru saja meletakkan tas kerjanya tentang pesanan kita kepadanya? Bagaimana bila kita bermanis-manis terlebih dahulu, setidaknya sampai suami kita duduk dan minum.
Mana yang akan kita pilih? Mana yang lebih disukai suami? Mana yang lebih manusiawi? Tentu jawabannya adalah yang kedua, sekalipun maksudnya sama. Bila demikian, apakah benar bila basa-basi dalam konteks di atas berarti munafik? Ehm… Tentu saja tidak.
Basa Basi yang “Basi”
Selain basa-basi yang sifatnya positif, ada pula basa-basi yang sifatnya negatif. Seperti apakah itu? Basa basi yang sifatnya negatif adalah ketika kita dihadapkan dengan prinsip hidup yang bertentangan kemudian kita tak bisa menolak hanya karena sungkan. Itu sebabnya kita membenarkan sikap basa-basi kita.
Dalam konteks tersebut, basa2
-basi yang kita lakukan bisa dibilang cerminan ketidaktegasan kita. Misalnya, saat ini kita adalah wanita yang disukai oleh seorang pria. Suatu ketika, pria tersebut berkata bahwa ia sudah memiliki istri. Si pria tetap ngotot akan mempertahankan cintanya kepada kita. Apa yang akan kita lakukan?
Dalam konteks tersebut, basa-basi sangat tidak dianjurkan. Sudah seharusnya bila kita bersikap tegas, iya atau tidak! Intinya, kita bisa menentukan sikap kita, apakah rela menjadi istri kedua atau PUTUS. Segera putuskan apa yang akan kita lakukan!
Contoh lain dari sikap basa basi yang “basi”, misalnya saat ini kita adalah karyawan bagian akuntansi. Suatu ketika, pimpinan kita menyuruh untuk melakukan window dressing terhadap laporan keuangan (manipulasi laporan keuangan agar menjadi “cantik” dengan cara mengecilkan beban dan membesarkan pendapatan sehingga labanya terlihat tinggi).
Apa yang kemudian akan kita lakukan? Mengikuti permintaan bos kita dengan risiko penjara atau menolak dengan risiko dipecat. Apapun pilihannya kita harus tegas dan tak boleh setengah-setengah dan sudah tahu risikonya masing- masing.
Jadi, sikap basa-basi memang tak selamanya positif atau negatif. Basa basi bisa berefek positif bila dilakukan di tempat yang benar. Pun bisa berefek negatif bila dilakukan di tempat yang salah. Seperti pisau yang bisa bernilai positif bila dipergunakan untuk memotong sayur, taoi bisa bernilai negatif bila dipergunakan untuk membunuh orang.
Mulai saat ini, setidaknya kita tidak lagi mengeneralisasi sikap basa-basi dengan kemunafikan atau suku tertentu karena semua bisa bersifat positif dan negatif tergantung dari cara pemakaiannya. Dan tentu saja hal tersebut tergantung personalnya masing- masing.
Basa basi bukan berarti tidak apa adanya atau tidak jujur, tapi lebih kepada penghalusan cara bicara atau penyampaian agar bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat. Ada pepatah yang mengatakan bahwa ajining diri ono ing lathi, yang artinya kehormatan diri ada pada lidah.
Orang yang suka bicara ngawur dengan alasan tak suka berbasa basi tentu akan beda dengan orang yang suka berbicara sopan tanpa harus memakai topeng. Kira-kira, mana yang lebih dihargai orang lain?

