Basuki Abdullah: Pelukis Kebanggaan Indonesia
Ilustrasi basuki abdullah
Basuki Abdullah termasuk salah seorang pelukis Indonesia yang telah menorehkan nama besar tidak saja di Indonesia, tetapi juga di dunia. Nama Basuki Abdullah menjadi salah satu pioneer seniman lukis beraliran realis, bahkan ada pula yang mengatakan Basuki Abdullah sebagai pelukis potret.
Pernahkah Anda melihat lukisan sebongkah karang dihantam ombak laut ganas berlatar langit mendung kelabu ? Karang itu tegar berdiri. Bergeming, tidak beranjak sedikit pun dari dudukannya. Mungkin sering, tapi tidak untuk lukisan “Karang di Laut” karya pelukis tersohor Indonesia, Basuki Abdullah. Lukisan berjudul “Karang di Laut” tersebut merupakan salah satu lukisan masterpiece karya maestro pelukis Indonesia, yang tak akan pernah dilupakan oleh masyarakat terutama bagi para pemerhati dan penggemar lukisan.
Kembali kepada lukisan berjudul “Karang di Laut”. Sang maestro itu, begitu piawainya menggores kuas sehingga tercipta sebuah lukisan monumental. Karang di laut adalah salah satu dari sekian banyak lukisan sarat keindahan yang dibuat oleh pelukis kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 25 Januari 1915. Meninggal pada usia 78 tahun, Basuki Abdullah dikenal sebagai pelukis aliran realis dan naturalis. Tak mengherankan jika mayoritas objek lukisan adalah manusia dan alam. Detail dari setiap objek yang menjadi perhatian Basuki Abdullah adalah menjadi kekuatannya sehingga benar-benar mampu melahirkan sebuah lukisan yang benar-benar realis dan naturalis, sehingga seolah memindahkan objek secara langsung ke dalam bingkai lukisan itu sendiri. Hanya saja dalam lukisan yang ‘dipindahkan’ Basuki Abdullah ini tampil dalam dua dimensi. Namun kedalaman dari lukisannya itu tetap saja mampu mensiasati sehingga dapat dilihat sebagai objek tiga dimensi.
Terpikat pada lukisannya, presiden pertama Indonesia, Soekarno, kemudian meminta Basuki Abdullah agar menjadi pelukis resmi Istana Merdeka Jakarta. Di sela-sela kesibukannya, Presiden Soekarno sering terlihat menatap dan menikmati keindahan lukisan karya Basuki Abdullah. Salah satu favorit sang presiden adalah lukisan yang disebutkan diawal tulisan ini, “Karang di Laut”.
Hingga kini, lukisan-lukisan karya Basuki Abdullah menghiasi dinding istana negara dan kepresidenan Indonesia. Di samping juga menjadi buruan para kolektor barang antik di seluruh dunia. Karya Basuki Abdullah ini memang menjadi barang buruan para kolektor, karena semakin lama semakin menjadi barang antik. Selain itu sebagai seorang maestro pelukis, Basuki Abdullah telah berhasil mensejajarkan dengan nama-nama pelukis terkenal di Indonesia dan dunia terutama untuk pelukis realis dan naturalis. Basuki Abdullah menjadi figure penting dalam perkembangan seni lukis modern di Indonesia.
Darah Seni
Boleh dibilang Basuki Abdullah mewarisi “darah seni” dari ayahnya, Abdullah Suryosubro yang dikenal sebagai seorang pelukis dan penari, yang tak lain cucu dari Doktor Wahidin Sudirohusodo. Tokoh Pergerakan Kebangkitan Nasional Indonesia. Basuki Abdullah ini telah menunjukkan bakat melukis sejak umur 4 tahun. Ketika masih bocah, Basuki Abdullah mulai gemar melukis tokoh-tokoh terkenal seperti Rabindranath Tagore, Mahatma Gandhi, Yesus Kristus, dan Krishnamurti. Tentu saja bakatnya yang luar biasa dalam melukis sosok-sosok terkenal ini menjadi perhatian orang di sekelilingnya. Beruntung Basuki Abdullah lahir dan berada di tempat yang tepat dan saat yang tepat, sehingga bakatnya itu mulus bisa dikembangkan secara optimal. Dan hasilnya bakat luar biasa itu kemudian berhasil menorehkan prestasi luar biasa, yang menjadi kebanggaan bangsa dan negara.
Basuki Abdullah kemudian menghabiskan pendidikan seninya di Akademik Seni Rupa (Academie Voor Beeldende Kunsten) di Den Haag, Belanda. Selama tiga tahun, ia menyelesaikan studinya dan meraih penghargaan Sertifikat Royal International of Art (RIA). Tentu saja berkat bimbingan orang-orang yang tepat yang mengetahui persis bagaimana melejitkan kemampuan seorang anak, berhasil memompa bakat Basuki Abdullah yang memang luar biasa itu. Eropa pada waktu itu memang menjadi sentral tempat lahirnya para pelukis dunia yang hebat. Tentu kita ingat bagaimana pelukis Raden Saleh yang mencapai kematangan setelah berkesempatan melanjutkan pelajaran melukis di Belanda, sehingga pelukis yang terkenal pada awal abad kesembilan belas ini menjadi salah seorang pelukis yang mengabadikan suasana penangkapan tokoh Perang Jawa, Pangeran Erucokro Diponegoro. Padahal pada saat kejadian itu berlangsung, Raden Saleh justru sebenarnya sedang berada di Prancis. Tapi dengan kematangan dan imajinasi yang luar biasa, dengan hanya menyaksikan hasil karya seorang pelukis eropa pada waktu, Raden Saleh mampu melukis kejadian penangkapan Diponegoro dengan sarat emosi dan simbol-simbol yang tak didapatkan pada pelukis pendahulunya.
Tentang prestasi Basuki Abdullah, namanya menjadi buah bibir dunia ketika ia menjadi juara sayembara melukis memperingati penobatan Ratu Yuliana, Ratu Belanda, pada 6 September 1948. Basuki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis kenamaan Eropa lainnya. Sejak saat itu, karirnya sebagai pelukis terus meroket. Basuki Abdullah telah berhasil menorehkan prestasi luar biasa di bidangnya, yang akan selalu dikenang sampai kapapun, termasuk kematiannya yang menghebohkan itu.
Pelukis Jempolan dengan Objek Perempuan
Aliran naturalis adalah seni lukis yang menonjolkan keindahan. Apakah objeknya itu berupa manusia, makhluk hidup, ataupun benda mati. Dan Basuki Abdullah termasuk pelukis jempolan dalam aliran ini, khususnya lukisan dengan objek perempuan cantik.
Setiap detil keindahan perempuan dapat dituangkannya lewat lukisan dengan hasil menakjubkan. Sebut saja lukisan “Balinese Beauty", “Bidadari”, “Telanjang”, “Tiga Dara”, adalah sederet lukisan bernilai seni tinggi. Bahkan ada yang berpendapat justru setelah objek itu menjadi lukisan Basuki Abdullah, mampu menghadirkan keadaan lebih indah dari objek aslinya. Basuki Abdullah seperti telah disebutkan sebelumnya, termasuk salah seorang pelukis Indonesia yang mampu menghadirkan detail setiap objek lukisannya sehingga benar-benar mampu menghadirkan kesamaan dengan objek aslinya. Bahkan dengan menyertakan ekspresi, objek lukisannya itu jauh lebih indah.
Memotret dengan sempurna keindahan bagian tubuh perempuan, baik itu mata yang sayu merayu, mata bersinar-binar cemerlang, bibir tipis tersenyum manis, atau bibir indah bak buah manggis merekah. Ada kalanya keindahan itu berupa rambut ikal mayang terurai, atau bahkan keindahan seluruh tubuh perempuan tanpa balutan apa pun. Dan tentang detail yang menjadi keindahan perempuan pada khususnya, dan kekhasan dari objek yang menjadi garapannya, memang menjadi luar biasa, hidup dan penuh ekspresi ketika berada di tangan Basuki Abdullah dan diwujudkan dalam bentuk sebuah lukisan. Selain itu Basuki Abdullah juga telah berhasil meracuni pelukis generasi muda selanjutnya, sehingga Indonesia tetap memiliki generasi penerus untuk pelukis realis dan naturalis ini.
Namun prestasi luar biasa dan nama harum dari pelukis realis dan naturalis dari Indonesia ini, tidak mengakhiri hidupnya dengan harum pula. Memang patus disayangkan, bahwa pelukis kebanggaan Indonesia tersebut harus menghembuskan napas terakhir di tangan perampok yang menjarah rumahnya, pada 5 November 1993. Tapi itulah takdir. Allah SWT telah menentukan sejak di dalam alam ruh, jauh sebelum sosok Basuki Abdullah itu lahir ke dunia.

