logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hiburan    Misteri    Film Misteri

Film Horor Bayi Ajaib


Ilustrasi bayi ajaib

Mengapa film horor, semisal Bayi Ajaib, banyak yang suka ya? Film-film horor memang menjadi wacana yang manarik untuk dibahas dalam khazanah perfilman Indonesia. Karena bagaimana pun masyarakat kita akan lebih antusias untuk menonton film horor daripada film drama.

Mungkin karena film horor lebih tegang dan membakar adrenalin ketika sedang mononton dibanding dengan film drama yang cenderung monoton dan butuh aprasiasi emosi. Sementara film horor cukup menjerit, menutup muka, dan hiburan pun akan disajikan lebih menarik.

Film horor sedari dulu memang lebih laku di pasar Indonesia. Bukan karena film lebih tegang dan seru, tetapi juga lebih pada faktor budaya. Melihat budaya Indonesia yang cenderung percaya pada mistis dan klenik maka tidak salah jika film-film horor lebih banyak diburu karena bisa lebih berempati pada setiap peristiwa.

Misalnya saja film Kuntilanak, Babi Ngepet, Tuyul, dan lain sebagainya akan banyak ditonton karena mereka merasa terlibat dalam setiap peristiwa. Jadi, setiap peristiwa yang muncul adalah peristiwa yang mungkin saja dialami kita dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya saja film suzana yang menampilkan sosok kuntilanak yang menyeramkan, meski kita sering tayang berulang-ulang di setiap televisi, toh kita tetap senang melihatnya. Meski di antara kita ada yang nonton sambil merem karena takut, tapi toh tetap ditonton juga. Itulah ciri dari masyarakat kita, meski tidak mau, kita tetap saja melakukan hal itu, termasuk dalam sebuah tontonan.

Selain film suzana yang melegenda, ada juga film yang cukup menyeramkan yaitu film Bayi Ajaib yang digarap pada 1982. Film yang disutradai oleh Tindar Rengat mengisahkan tentang pesugihan roh nenek moyang yang memang sesuai dengan budaya Indonesia yang sarat dengan animisme.

Film ini bercerita tentang persaingan pemilihan lurah, Dorman Domique, yang melakukan kecurangan terhadap saingannya, yaitu Kosim. Dia memuja roh nenek moyang, yaitu kakeknya sendiri yang sudah menjadi iblis untuk membantai dan meneror seluruh desa.

Roh jahat itu masuk ke dalam perut istri kosim yang sedang hamil tua sehingga hamilnya menjadi pindah ke punggung. Hingga pada bulan purnama, Sumi, Istri kosim, melahirkan bayi laki-laki dengan wujud yang mengerikan karena tubuhnya sudah dirasuki roh jahat ketika masih dalam kandungan.

Bayi laki-laki itu diberi nama Didi. Kelahiran bayi ini merupakan awal munculnya teror-teror yang mengerikan. Bahkan, sampai didi itu menjadi anak kecil, teror terhadap orang kampung masih berlanjut.

Bayi itu terbang dan menggigit leher siapa pun yang ingin dimangsanya. Bayi itu berbuat onar pada siapa pun yang mengusik eksistensinya. Namun, ternyata film yang meraih sukses pada 1980-an ini disinyalir menjiplak film The Omen yang digarap Hollywood pada 1976.

Banyak yang bilang ada kesamaan ide dan alur cerita yang sudah dimodifikasi sang sutradara. The Omen mengisahkan tentang seorang anak iblis yang lahir dari rahim perempuan biasa kemudian menebar teror bagi masyarakat desa.

Apa pun itu, menjiplak atau tidak, sudah tidak penting bagi kita menghakimi film yang sudah terlanjur udzur untuk ditelaah. Toh film itu sudah membuat masyarakat Indonesia terhibur dan senang ketika menonton film Bayi Ajaib. Yang pasti film horor zaman dulu itu lebih bermutu daripada film-film horor zaman sekarang yang lebih menampilkan adegan panas daripada adegan seram.

Film horor zaman dulu lebih bermoral daripada film horor zaman sekarang yang tidak layak dikonsumsi publik. Semoga insan perfilman Indonesia bisa menjadikan contoh film-film dulu yang menampilkan ketegangan tanpa menampilkan adegen panas, namun tetap menarik untuk diapresiasi.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Tanda-Tanda Penampakan Hantu
  • Sejarah Drakula, Dari Vladd hingga Ashamiya Moka
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA