Berita Gosip Artis Demi Popularitas
David Croteau pernah bertanya-tanya, sebagaimana dalam bukunya Media Society, Industries, Image, and Audiences 2th Edition bahwa dunia hiburan yang melibatkan selebritas selalu terkait dengan pertanyaan yang sangat menyenangkan. Siapa sih orang terkenal itu? Kenapa juga mereka harus kita perhatikan?
Berita gosip artis. Atau, bagaimana media mengangkat sisi selebritas seorang yang bahkan belum tentu pantas terkenal. Segala macam permainan media untuk selebritas ini terdiri dari dua hal. Gosip dan kerja detektif. Demi kesenangan para selebritas ini datang dari permainan gosip menggosip. Tidak penting lagi, selebritas itu asli atau bohongan, orang beneran atau orang-orangan pabrik, bahkan mereka pantas terkenal atau tidak.
Rasa fun-nya itu ada di permainan untuk bertukar informasi tentang kehidupan para selebritas. Permainan ini justru menyenangkan karena tak pernah saling nyambung, tak relevan. Dalam obrolan, teman-teman sering tertawa soal keanehan selebritas, dan menikmati pergunjingan hubungan selebritas yang gagal karena tidak ada konsekuensinya pada hidup mereka.
Amin untuk Croteau. Dan, amin untuk para selebritas yang sebenarnya cukup sinting menikmati eksploitasi hidup mereka. Tentu saja, bagi para selebritas yang terjadi adalah good commotion antara media dan diri mereka. Adanya hiruk pikuk yang akan menaikan pamornya sendiri. Bukankah nilai diri seolah terangkat apabila muncul dalam percakapan orang lain? Sayangnya, bukan semata hal baik yang diberitakan; dari prestasi atau hal-hal penting lainnya.
Gossip sebagai Junknews
Pola serupa diikuti para artis. Mereka mencoba memakai yang paling gampang. Buka-bukaan skandal seks. Beberapa saat sebelum filmnya dan album musiknya keluar, hubungan seks Ariel Peter Pan dengan pacarnya Luna Maya ujug-ujug tersebar di Internet.
Dahulu, sempat beredar foto Julia Perez yang seksi ketika ketika sedang rilis album. Semuanya bagi para artis demi kontrak baru atau popularitas. Sementara, untuk para aktor dan musikus rumusnya kebanyakan narkoba. Kisah pergumulan dengan narkoba yang akan berujung menjadi duta sosial antinarkoba, adalah cara paling mujarab untuk terus bisa diliput media, walau absen dari berkarya.
Pemberitaan yang serbajelek itulah yang disebut dengan Junknews. Dalam bahasa Ignatius Haryanto, gejala fastfood/junkfood atau dalam bahasa Indonesia-nya, makanan cepat saji pun disematkan pada news atau berita jurnalistik. Menyadur istilah Jean Bauillard, sifat Junknews itu: overeksposed alias lebay, "Tinggi dalam intensitas peliputan, tapi tak selalu mesti berarti penting atau punya relevansi bagi kehidupan para konsumennya."
Padahal, fenomena junkfood di Barat mengemuka karena percepatan industri yang membuat masyarakat tidak punya waktu untuk menyantap makanan olahan sendiri yang bergizi. Instan dan mengenyangkan merupakan kata kunci dari junkfood, namun bukan sekadar instan dan mengenyangkan, junkfood haruslah dikemas dengan menarik, atraktif, dan lebih personal pada pelanggannya. Itu pula sifat junknews.
Sebenarnya, tidak semua gosip bisa disebut Junknews. Beberapa gosip tajam tentang perilaku artis bisa menertibkan dan mendisiplinkan artis yang sombong, banyak ulah, dan kurang hormat pada profesionalitas kerja. Akan tetapi, hanya bila kadarnya dan muatannya tepat sasaran. Gosip yess, junknews no!.






