Mengenal Lebih Dekat Pikiran Rakyat
Oleh: AnneAhira.com Content Team
Hari ini kita mengenal Pikiran Rakyat sebagai koran terbesar wilayah Jawa Barat. Bicara sejarah Koran ini, maka perlu kita ketahui bahwa pada 1920an, Bandung telah memiliki surat kabar yang bernuansa dan berbahasa sunda, yang tidak dapat dipisahkan dari pergerakan kaum nasionalis.
Jika Anda generasi saat ini hanya mengenal Pikiran Rakyat, maka perlu Anda tahu bahwa surat kabar berbahasa Sunda pertama yang diterbitkan di Bandung adalah Sora-Merdika. Tahun I No. 3 terbit pada 1 Mei 1920.
Sumber lain menyatakan bahwa surat kabar pertama berbahasa Sunda itu adalah Soenda Berita, tetapi belum jelas kapan terbitnya. Pada masa itu terbit mingguan Soenda Soemanget, Sunda Padjadjaran, Siliwangi, dan Pendawa, pimpinan Gatot. Terbit pula berkala berbahasa Sunda, Masa Baroe, Sapoedjagad, Simpaj dan Isteri Merdeka. Dan, penerbitan koran Panglima di Tasikmalaya.
Sipatahoenansempat terbit di Tasikmalaya. Pada masa itu, terbit "Sinar Pasoendan dipimpin Ali Ratman. Di Tasikmalaya lahir Tawekal pimpinan Harsono, Galoeh, di Ciamis pimpinan Arsim Karma Winata, Balaka pimpinan Ikik Wiradikarta.
Di zaman pendudukan Jepang, semua surat kabar yang ada di Bandung dan Jawa Barat ditutup dan disatukan menjadi surat kabar Tjahaja di bawah pengawasan Sendenbu, dipimpin Oto Iskandar Dinata dan Bratanata. Hal ini merupakan bagian dari usaha Jepang untuk mengawasi penerbitan surat kabar secara ketat.
Setelah pendudukan Jepang berakhir, terbit surat kabar Soeara Merdeka yang dipimpin oleh Boerhanoeddin. Begitu Belanda masuk membonceng Sekutu, Soeara Merdeka mengungsi ke Tasikmalaya. Pada 24 Maret 1946 terjadi peristiwa Bandung Lautan Api, yang membuat masyarakat Bandung mengungsi ke Bandung Selatan, bahkan sempat ke Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis.
Koran Soeara Merdeka diungsikan ke Tasikmalaya untuk melanjutkan perjuangannya. Setelah kemerdekaan, berbagai koran berbahasa Sunda mulai bermunculan, seperti Sinar Majalengka (1948) di Majalengka, Warga (1954) yang dipimpin oleh Eeng di Bogor, Kalawarta Kudjang (1956) di Bandung.
Sipatahoenan yang sempat terhenti penerbitannya, bangkit kembali, meski pada 1985 menghentikan penerbitannya. Awal 1960-an, Ajip Rosidi menerbitkan majalah Sunda. Media cetak yang cukup populer dan kini masih terbit adalah Mangle, yang pertama kali terbit di Bogor pada 1957..
Akhir 1962 Mangle pindah ke Bandung dan kini terbit mingguan. Selain itu terbit pula Giwangkara, Gondewa, Kalawarta Kudjang dan Galura (tergabung dalam Grup Pikiran Rakyat sejak 1975).
Setelah proklamasi kemerdekaan, di masa Negara Pasoendan diterbitkan Harian Persatoean yang terakhir dikelola Djawatan Penerangan. Tahun 1950-an terbit Harian Pikiran Rakjat (Baca Harian Pikiran Rakyat) yang dirintis Djamal Ali bersama AZ. Sutan Palindih dkk.
Koran ini berhenti terbit setelah tanggal 25 Maret 1965 pemerintah mengeluarkan peraturan yang menentukan semua media cetak harus berafiliasi dengan partai politik. Pihak Redaksi koran ditawari Panglima Siliwangi Mayor Jenderal Ibrahim Adjie untuk bergabung dan berafiliasi dengan surat kabar Angkatan Bersendjata.
Pada 24 Maret 1966 bertepatan dengan peringatan Bandung Lautan Api, terbitlah Harian Angkatan Bersenjata Edisi Jawa Barat/Pikiran Rakyat. Judul Pikiran Rakyat-nya tercantum kecil di sudut kiri atas kop Angkata Bersenjata Edisi Jawa Barat.
Setahun kemudian, baru diperkenankan memakai kop Pikiran Rakyat (besar) sedangkan kop Angkatan Bersenjata-nya bertukar tempat menjadi huruf kecil di kiri atas halaman pertama. Pada 1967 koran ini resmi menjadi Harian Umum Pikiran Rakyat hingga sekarang.
| Beri rating untuk artikel di atas |








