Bersopan Santun dalam Pergaulan Masyarakat
Ilustrasi bersopan santun
Hubungan sosial merupakan salah satu hal penting dalam interaksi manusia untuk menjaga agar eksistensi dirinya terjaga. Hal ini sangat penting sebab kita tidak dapat hidup sendiri. Kita membutuhkan keberadaan orang lain dalam hidup kita. Dan, untuk menjaga agar hubungan tetap harmonis, maka kita harus bersopan santun dalam setiap kegiatan hidup kita.
Bersopan santun artinya menerapkan konsep sopan santun dalam kehidupan kita. Dengan menerapkan sopan santun dalam kehidupan, kita berharap dapat menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya dan penuh kenyamanan. Dalam setiap aspek dan kegiatan kehidupan kita berusaha untuk tampil sebaik-baiknya.
Dalam kegiatan kemasyarakatan, bersopan santun merupakan tata aturan yang tidak tertulis tetapi berlaku secara umum. Setiap orang, walaupun tidak tertulis secara nyata, menyadari bahwa pada setiap tempat ada aturan masing-masing. Dan, jika kita bersopan santun secara maksimal, maka respon masyarakat kepada kita sangatlah positif.
Ingatlah Pepatah Jawa
Dalam bahasa Jawa kita mengenal sebuah pepatah yang bunyinya Ajining Diri saka lathi, ajining raga saka busana. Pepatah ini sangat terkait dengan interaksi personal dalam kehidupan masyarakat. Setiap orang Jawa memahami arti pepatah tersebut, walaupun kia belum tahu seberapa banyak yang mampu menerapkanya dalam kehidupan.
Ajining diri saka lathi, artinya harga diri tergantung pada lidah kita. Dalam hal ini kita terjemahkan sebagai sopan santun kita dalam kehidupan. Bahwa citra diri kita tergantung pada bagaimana kita berbicara dengan orang lain. Hal ini merupakan hasil penilaian obyektif setiap orang kepada kita.
Jika kita berbicara penuh sopan santun, maka citra diri kita dapat terdongkrak dengan sendirinya. Ini merupakan persamaan berbanding lurus. Dan, salah satu aspek penting dalam sopan santun adalah bagaimana kita berbicara. Jika cara kita berbicara, isi pembicaraan kita sopan dan santun, maka masyarakat menerima dengan hati nyaman. Kenyamanan masyarakat dalam menanggapi pembicaraan kita menunjukkan bahwa mereka terkesan dengan pembicaraan kita.
Ajining raga saka busana, artinya badan kita berharga karena pakaian yang kita kenakan. Jika kita selalu mengenakan pakaian yang pas, sesuai dengan kondisinya, maka setiap orang akan memberikan respon positif. Kita harus tahu pakaian jenis apa untuk kegiatan apa. Pakaian warna apa untuk kondisi apa. Kesalahan kostum, pakaian pada saat menghadiri suatu kegiatan akibatnya sangat fatal. Tentunya sangat tidak etis jika pada saat menghadiri pemakaman seseorang kita menggunakan pakaian pesta.
Pepatah Jawa memang banyak mengandung petuah bagi kehidupan bangsa yang beradab. Jika kita mampu memahami dan menerapkannya dalam kehidupan, maka eksistensi kita diakui semua orang dan menjadikan kita sebagai sosok penting dalam kegiatan-kegiatan khusus.
Jika kita mendalami pepatah Jawa tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan kita, maka pola kehidupan kita pasti menjadi lebih baik. Bersopan santunlah yang baik, maka masyarakat akan memberikan respon baik untuk kita.
Terbiasa dalam Situasi Pembicaraan Informal
Pada lembaga kita banyak mengenal lembaga formal maupun non formal. Kata formal maupun nonformal menunjukkan suatu keadaan. Begitu juga hal nya dengan komunikasi. Komunikasi yang dilaksanakan dan berlangsung berdasarkan suatu keadaan yaitu situasi formal dan situasi non formal atau informal.
Mengenai komunikasi informal R.Wayne Pace dan Don F.Faules dalam bukunya "Komunikasi Organisasi" mengemukakan definisi komunikasi informal bahwa : komunikasi informal muncul dari interaksi orang-orang dan peristiwa yang mengalir melalui saluran perusahaan yang formal. Tetapi pelaksanaannya diluar jam yang formal. Komunikasi informal yang terjadi digolongkan misalnya selentingan (grapevine). (Pace and Faules, 1998).
Selanjutnya Oemar Hamalik dalam bukunya "Sistem Pembelajaran Jarak Jauh" mengemukakan, "Komunikasi informal adalah yang biasa disebut selentingan. Fakta-fakta, opini, sikap, kecurigaan, gosip, kabar angin, bahkan perintah dapat tersebar luas melalui selentingan. Saluran informasi terbentuk di lingkungan hubungan sosial yang berada dalam hubungan kesantunan masyarakat". (Hamalik, 1993)
Saluran komunikasi formal dan informal merupakan pelengkap potensial. Saluran komunikasi formal membawa isi yang bersifat instrumen dan ekspresif. Ada tiga jaringan informal menurut Oemar Hamalik dilihat dalam dunia pendidikan secara khusus dapat mempengaruhi jaringan formal dengan wujud ekspresif :
a. Selentingan dapat berfungsi sebagai barometer pendapat dan perasaan. Dari masyarakat melalui tegur sapa lewat laporan RT / RW, lurah, atau lembaga pendidik dapat menyadap arus informasi tentang semangat masyarakat dan kehidupan pertetanggaan.
b. Melalui barometer ini, balon percobaan dapat diterapkan ke dalam selentingan untuk menguji penerimaan ide pada tingkat kedudukan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, seorang RT mungkin memperkenalkan program pelatihan atau pembinaan kepada para masyarakat.
c. Jaringan Informal dapat merupakan alat positif untuk membuat keputusan dan ungkapan pribadi tentang kebutuhan seseorang akan komunikasi atau interaksi sosial. (Hamalik, 1993:6)
Butir yang terpenting dalam generalisasi ini adalah komunikasi informal dapat melengkapi atau mengurangi komunikasi formal. Komunikasi informal dapat mengubah suasana formal menjadi lebih santai dari pada komunikasi formal.
Berdialog Informal
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari pribadi kita dan orang lain. Komunikasi yang terjadipun berlangsung antar pribadi itu sendiri. Dialog antar persona atau disebut juga dengan interpersonal communication adalah proses dialog yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka.
Dialog antar pribadi dapat berlangsung antara dua orang yang memang sedang berdua sepertinya misalnya suami istri yang sedang bercakap-cakap, atau antara dua orang dalam suatu pertemuan misalnya antara pemateri dalam suatu seminar dengan peserta seminar.
Komunikasi yang berlangsung secara dialogis selalu lebih baik daripada secara monologis. Monolog menunjukkan suatu bentuk komunikasi dimana seseorang berbicara, yang lain mendengarkan, jadi tidak terdapat interaksi. Peran aktif hanya komunikatornya saja, sedangkan masyarakat bersifat pasif. Dialog adalah bentuk komunikasi antar pribadi yang menunjukkan terjadinya interaksi. Semua yang terlibat dalam komunikasi bentuk dialog ini berfungsi ganda, masing-masing menjadi pembicara dan pendengar secara bergantian.
Proses komunikasi dialogis nampak adanya upaya dari pelaku komunikasi untuk terjadinya pengertian bersama (mutual understanding) dan empati. Terjadi rasa saling menghormati bukan disebabkan status sosial ekonomi, melainkan didasarkan pada anggapan bahwa masing-masing adalah manusia yang wajib, berhak, pantas, dan wajar dihargai dan dihormati sebagai manusia manusia. Seseorang pembicara dapat berperan menasihati masyarakat dan sebaliknya masyarakat dapat berperan sebagai penasihat bagi si individu.
Dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi lainnya, komunikasi antar persona dinilai paling ampuh dalam kegiatan mengubah sikap, kepercayaan, opini, dan perilaku masyarakat. Komunikasi yang umumnya berlangsung secara tatap muka (face-to-face) dengan masyarakat maka terjadilah kontak pribadi (personal contact). Ketika komunikator menyampaikan pesan, umpan balik berlangsung seketika (immediate feedback).
Seseorang mengetahui pada saat tanggapan masyarakat terhadap pesan yang dilontarkan, ekspresi wajah masyarakat, dan gaya bicara masyarakat. Keampuhan dalam mengubah sikap, kepercayaan dan perilaku masyarakat itulah, maka bentuk komunikasi antar persona seringkali dipergunakan untuk melancarkan situasi informal yang penuh dengan kesantunan.
Menciptakan Komunikasi Informal yang Sehat
Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, maka pada saat itu kita sedang berusaha untuk memberikan sesuatu yang positif kepada orang lain. Dan, dari sesuatu yang kita berikan tersebut, kita meyakini bahwa ada sesuatu yang kita dapatkan. Ini merupakan hukum alam, siapa yang memberi, maka akan menerima.
Untuk dapat melakukan komunikasi yang kondusif, maka salah satu hal yang sangat penting adalah bagaimana kita bersikap saat berkomunikasi. Jika sikap kita bagus, maka komunikasi dapat lancar, tetapi jika sikap kita kurang bagus, komunikasi dapat tersendat. Dan, komunikasi yang bagus atau sehat tersebut dapat diciptakan jika kita bersopan santun dalam berkomunikasi.
Bagaimanapun kita menyadari bahwa setiap orang ingin diperhatikan eksistensinya. Setidaknya mereka ingin 'diorangkan' dalam setiap kegiatan kemasyarakatan. Untuk hal tersebut, maka kita dapat melakukannya dengan bersopan santun saat berkomunikasi.
Bersopan santun artinya kita membawa diri secara baik saat berkomunikasi. Kita harus dapat menempatkan diri dan memposisikan orang lain sesuai porsinya. Kita tidak boleh merendahkan orang lain. Jika memungkinkan, kita seharusnya menyanjung seseorang agar mengikuti kondisi yang kita inginkan.
Ya. Untuk menciptakan komunikasi yang sehat, kita hanya butuh satu hal, bersopan santunlah kepada semua orang. Dan, ternyata untuk menjaga kehidupan tetap eksis sangatlah mudah, yaitu bersopan santun kepada orang lain.

